Teknologi hemat air dapat diartikan sebagai upaya pemanfaatan air dari berbagai sumber terutama air gravitasi pada petak usahatani padi sawah agar terjamin produktivitas, efisiensi dan produksi yang meningkat secara berkelanjutan. Teknik hemat air dapat dilakukan dengan cara perbaikan atau penyesuaian teknik budidaya dengan potensi sumber daya air setempat dan melalui inovasi cara pemberian air. Praktek teknik hemat air mudah dilaksanakan melalui : 1. Pemilihan varitas yang berumur genjah, kalender tanam dalam suatu hamparan tersier seragam, 2. Waktu dan cara pengolahan tanah yang sesuai dengan jadwal pemberian air, 3. Pengaturan penggenangan air menurut fase pertumbuhan tanaman baik tinggi dan durasinya (kondisi pasokan air normal), 4. Penerapan pergiliran air (kondisi pasokan air di bawah normal), 5. Pemeliharaan pematang termasuk kerapatan pematang dalam luasan tertentu 6. Drainase permukaan terutama pada musim hujan.Sasaran utama teknik hemat air yaitu produktivitas air (perbandingan antara hasil gabah dan konsumsi air total) yang lebih tinggi dari pada produktivitas air dengan cara pemberian kontinyu.Selang 4 (empat) hari pemberian merupakan batas kritis waktu pemberian air untuk varietas padi sawah dan batas jenuh lapangan selama fase vegetatif dan pematangan tidak menurunkan hasil. Selama fase reproduktif (primordia bunga sampai pembungaan) perlu pemberian air dengan genangan air dangkal 3 – 5 cm. Dalam kondisi kekurangan air, pemberian air perlu diprioritaskan selama fase reprodutif (fase sensitif kekurangan air). Penggenangan terutama ditujukan untuk mengurangi pertumbuhan gulma dan pengendalian beberapa hama.. Kondisi tanpa penggenangan air selama periode tertentu diperlukan terutama untuk memperbaiki kondisi aerasi di daerah perakaran, merangsang pembentukan anakan, aktivitas perakaran meningkat, mengurangi populasi hama wereng, menekan laju perlokasi, rembesan, aliran permukaan dan pencucian hara. Fase pertumbuhan tanaman padi sawah yang memerlukan drainase permukaan (tanpa genangan air) adalah: awal tanam, fase anakan aktif (20 HST), (45 – 55 HST) dan 10 hari menjelang panen. Pada saat pemupukan biasanya tidak membutuhkan penggenangan air masing-masing sekitar 4 hari. Drainase permukaan juga penting untuk menekan emisi gas metan (efek rumah kaca) dan juga mengurangi keracunan di daerah perakaran.Drainase permukaan biasanya dilakukan pada musim hujan , yaitu membuang kelebihan air akibat curah hujan atau irigasi yang berlebihan dengan tujuan agar tanaman lebih kuat (tidak rebah), kondisi aerobik tanah terjaga dan mengatur pembentukan anakan. Drainase permukaan dapat dilakukan pada umur tanaman 30 – 40 hari setelah tanam (sebelum tercapai anakan maksimal) selama 5 - 7 hari untuk menekan munculnya anakan yang tidak produktif, sehingga tingkat produksi gabah per malai, bobot individu gabah dan hasil meningkat. Teknik ini sesuai dilakukan terutama pada lahan sawah dengan kondisi drainase buruk yang dapat dilakukan pada musim hujan maupun kemarau.