Minyak atsiri yang dihasilkan dari nilam (Pogostemon cablin Benth) banyak dipergunakan dalam industri kimia sebagai bahan farmasi, bahan baku produk wewangian dan kosmetika, sehingga saat ini nilam menjadi salah satu komoditi unggulan Kementerian Pertanian sebagai penghasil devisa negara (nilam Indonesia menguasai sekitar 70% pangsa pasar dunia), selain itu nilam juga sebagai sumber pendapatan petani di Indonesia. Sesuai program Grasida (Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai tambah dan Daya Saing Perkebunan), tahun 2020 produksi nilam ditargetkan sebesar 1,8 ribu ton atau meningkat sekitar 20% dari tahun sebelumnya (1,5 ribu ton). Peningkatan kualitas nilam tak lepas dari sasaran kegiatan Grasida yaitu perkebunan nilam rakyat yang berada pada kawasan pengembangan perkebunan, kelompok tani dan petani milenial yang memiliki potensi untuk maju dan berkembang, kelompok tani yang berkomitmen dalam pembiayaan kegiatannya tidak tergantung pada APBN, APBD akan tetapi mengusahakan permodalan secara mandiri, kerjasama dengan pihak lain dengan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR), CSR dan lain-lain, kelompok tani yang berkomitmen terlibat dalam komando strategis pembangunan pertanian (Kostratani, Kostrawil, Kostrada, Kostranas) di tingkat kecamatan, kabupaten dan propinsi, dan kelompok tani yang berkomitmen ingin maju dalam sistem pertanian berbasis mutu, traceability, dan komitmen menjaga kelestarian lingkungan. Seperti kita ketahui minyak atsiri yang diambil dari nilam diperoleh dari hasil penyulingan dari batang dan daun tanaman (terna). Selain itu limbah dari hasil penyulingan yang berupa ampas daun dan batang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan dupa, obat nyamuk bakar, pupuk dan mulsa. Rendahnya produksi dan mutu minyak nilam antara lain disebabkan penanganan panen, pasca panen dan pengolahan yang kurang tepat. Untuk mencapai target produksi nilam tahun 2020 dan mendapat nilam bermutu baik, perlu disosialisasikan cara panen, pasca panen dan pengolahan nilam yang baik. Panen, nilam yang dipelihara dengan baik dapat dipanen pada saat tanaman berumur 6 (enam) bulan dan panen selanjutnya dilakukan setiap 4 (empat) bulan sekali sampai tanaman berumur 3 (tiga) tahun. Waktu panen/pemetikan daun, sebaiknya dilakukan pagi hari atau sore menjelang malam. Jika pemetikan dilakukan pada siang hari, sel-sel daun sedang berfotosintesa sehingga laju pembentukan minyak berkurang, daun kurang elastis dan mudah robek. Kandungan minyak atsiri tertinggi terdapat pada tiga pasang daun termuda yang masih berwarna hijau. Alat yang dipergunakan untuk panen, berupa sabit/ parang dan gunting yang dijaga kebersihannya dan bebas organism pengganggu tanaman (OPT). Nilam dipanen dengan cara memangkas tanaman pada ketinggian 20 cm dari permukaan tanah. Sebaiknya tiap kali panen ditinggalkan 1-2 cabang untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas baru pada fase selanjutnya. Penanganan pasca panen, dilakukan dengan benar agar mendapat minyak atsiri yang baik., sebelum diolah nilam perlu mendapat perlakukan sebagai berikut: nilam hasil panen diangin-anginkan ditempat yang teduh atau didalam ruangan dengan ketebalan lapisan 30 cm, dan dilakukan pembalikan 2-3 kali sehari selama 3-4 hari sampai nilam berkadar air 15%, stelah itu baru dilakukan penyulingan. Yang perlu diperhatikan adalah hindari pengeringan yang terlalu cepat dengan menjemur dibawah sinar matahari, karena akan mengurangi kandungan minyak atsiri. Pengolahan minyak nilam, dilakukan setelah panen dengan cara penyulingan sebagai berikut. Untuk memperoleh minyak atsiri yang berkualitas, dikenal dengan dua tahap penyulingan yaitu tahap pra penyulingan dan tahap penyulingan. Tahap pra penyulingan, tahap ini terdiri dari dua langkah kegiatan yaitu pelayuan dan pengeringan. Pelayuan, yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pelayuan adalah, pelayuan jangan dilakukan secara cepat karena menyebabkan daun menjadi rapuh dan sulit untuk disuling. Pelayuan yang baik dapat dilakukan dengan menjemur daun nilam diatas tikar atau lantai semen selama tiga hari dari jam 10.00 – 14.00 (empat jam) sampai kandungan dalam daun turun sekitar 15%. Tinggi tumpukan daun yang djemur tidak melebihi 50 cm dan dilakukan pembalikan 2-3 kali sehari. Pengeringan, yang perlu diperhatikan dalam pengeringan adalah jangan sampai terlambat karena menyebabkan daun lembab dan mudah terserang jamur yang mengakibatkan rendemen dan mutu minyak yang dihasilkan rendah. Tahap penyulingan, adalah proses pengambilan minyak dari terna (daun dan batang) nilam kering dengan bantuan air. Penyulingan nilam umumnya dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara dikukus dan penguapan. Ada dua cara penyulingan yaitu dengan cara dikukus dan cara penguapan. Cara dikukus adalah penyulingan, dimana terna kering nilam dikukus diatas permukaan air. Kerapatan (bulk density) terna nilam kering berkisar antara 90-120 g/liter, tergantung dari persentase daun dan kadar airnya. Penyulingan dengan cara dikukus memerlukan waktu selama 5-10 jam dengan kecepatan penyulingan 0,6 kg uap/kg terna. Cara penyulingan dengan penguapan adalah penyulingan dimana terna berada dalam ketel suling dan uap air dialirkan dari ketel ke bagian bawah suling. Penyulingan dengan cara uap, memerlukan waktu sekitar 4-6 jam dan memerlukan kecepatan 0,6 uap/kg terna. Pada penyulingan dengan cara uap, tekanan uap mula-mula 1,0 kemudian dinaikkan secara bertahap sampai 2,5-3 kg/cm2 pada akhir penyulingan. Untuk mendapat kualitas yang baik (hasilminyak jernih), alat penyulingan sebaiknya terbuat stainless steel (setidaknya pada bagian pipa pendingin dan pemisah minyak). Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses penyulingan adalah jika tangki alat suling yang digunakan berkapasitas 1.150 liter maka kerapatan daun 100-150 gram/liter atau 120-150 kg/liter. Sebelum disuling, sebaiknya terna kering dibasahi air dulu supaya mudah dipadatkan. Penyulingan terna kering nilam akan menyerap air sebanyak bobotnya. (Sri Puji Rahayu)