Loading...

Mengupas permasalahan petani dalam budidaya tebu

Mengupas permasalahan petani dalam budidaya tebu
Tebu merupakan salah satu komoditas strategis utama yang telah ditetapkan pemerintah untuk swasembada gula. Swasembada merupakan tantangan besar karena masih ada permasalahan usahatani di hulu maupun permasalahan industri di hilir, disamping masalah administrasi birokrasi yang belum mendukung. Masalah lainnya adalah ketersediaan lahan, kualitas bibit tebu unggul, dan manajemen usahatani tebu yang masih belum dapat dipenuhi oleh petani. Hal ini berkontribusi pada rendahnya produktivitas dan kualitas rendemen gula yang berdampak pada tingginya biaya produksi.Selain itu, di tingkat produksi persoalan teknik budidaya belum banyak berubah yang diindikasikan oleh rendahnya kinerja produksi tebu di Indonesia. Pada umumnya petani enggan menerapkan inovasi teknologi sesuai anjuran karena penetapan rendemen yang sama, baik pada tebu dengan input tinggi maupun input rendahSecara garis besar, permasalahan utama gula adalah (a) terpisahnya manajemen usaha tanidengan manajemen pengolahan tebu, apalagi pengelolaan usaha tani oleh petani yang beragam dan tempatnya terpencar-pencar menyebabkan produktivitas tanaman yang berupa tebu dan rendemen gula relatif rendah; (b) kapasitas giling yang rendah dan mesin yang sudah berumur tua, berakibat pada rendemen yang sulit untuk ditingkatkan.tingkat produktivitas tebu dan rendemen gula nasional masih rendah karena rendahnya penerapan teknologi budidaya. Satu hal yang paling menonjol adalah kepras (ratooning) lebih dari tiga bahkan lebih dari 6 kali tanpa disertai kultur teknis memadai masih dilakukan terutama pada areal tebu rakyat. Untuk mencapai sasaran produksi tersebut, pelaksanaan swasembada gula Nasional ditempuh melalui lima langkah strategis, yaitu: (a) peningkatan produktivitas dengan langkah operasionalnya mencakup penataan varietas, penyediaan bibit unggul, percepatan bongkar ratoon, penggunaan pupuk organik, dan bantuan pengairan; (b) perluasan areal dengan langkah operasional penyediaan bibit (kuljar/berjenjang), perluasan areal tanam, bantuan traktor, dan koordinasi dengan instansi terkait. Dibutuhkan suatu inovasi teknologi. Beberapa komponen teknologi yang teridentifikasi belum diterapkan yaitu pengaturan jumlah anakan dan penggunaan pupuk organik. Selain itu kualitas penerapan komponen teknologi masih perlu ditingkatkan terutama dosis pupuk.Bibit. Varietas yang digunakan haruslah varietas dengan produktivitas tinggi dan kemampua adaptasi pada wilayah yang diusahakan dapat beradaptasi dengan baik. Selama ini, petani menggunakan bibit berasal bibit sendiri, petani lain atau penangkar setempat. Pembelian bibit dalam bentuk tanaman, selanjutnya bibit diklenthek, disortasi dan ditata ujung dengan ujung, pangkal dengan pangkal. Pemotongan bibit dengan pisau yang tajam, pisau sebelum digunakan dicelupkan kedalam larutan desinfektan. Pemotongan dilakukan tiap 2–3 mata per bagal dengan demikian bahan bibit yang digunakan adalah setek batang/bagal. Pengelolaan lahan dan penanaman. Pengolahan lahan untuk tebu memerlukan mekanisasi penuh (full mechanisation) supaya dapat mengejar waktu tanam serempak sesuai jadwal tanam sesuai kesepakatan tanam melalui kelompom tani. Kegiatan persiapan lahan meliputi pembajakan, pemerataan, pembuatan larikan/guludan dan lubang tanam. Waktu penanaman tebu dilakukan dalam dua jadwal, yaitu: tanam I: pada musim kemarau (Juni–Agustus), dan tanam II musim penghujan (Oktober–Nopember). Tanaman tebu dipanen pada umur antara satu tahun tergantung varietas. Petani menerapkan sistim tanam juring tunggal dan belum ada yang menerapkan juring ganda. Penyulaman dan pengendalian gulma. Kegiatan penyulaman dilakukan satu kali dan pengendalian gulma dilakukan umumnya dengan menggunakan herbisida.Pemupukan dan pembumbunan. Dosis pupuk petani terdiri atas 200 kg ZA dan 600 kg NPK Phonska per hektar. Teknologi pembumbunan sudah diterapkan oleh petani dan dilakukan tiga kali per tahun, yaitu: (a) pertama untuk menurunkan tanah yang gembur dari atas guludan, menutup bibit, saat tanaman umur kira-kira 1 bulan; (b) kedua pada masa beranak umur 2 bulan, dan (c) ketiga dilakukan saat tanaman berumur 3?3,5 bulan. Klenthek. Kegiatan klenthek umumnya dilakukan dua kali (terakhir waktu menjelang panen) dari rekomendasi 3 kali, yaitu klenthek pertama umur 5?6 bulan, klentek kedua umur 9?10 bulan dan klentek ketiga umur 11?12 bulan (menjelang panen). Tebang dan angkut. Sebelum tanaman tebu dipanen, dilakukan pengambilan data taksiran produktivitas dan rendemen sebanyak tiga kali (terakhir menjelang panen). Pengambilan data dilakukan bersama-sama dengan petani (wakil kelompok tani) dan bersamaan dengan itu ditetapkan jadwal tebang dan angkutnya oleh petugas. Kegiatan tebang menggunakan alat sabit sedang pengangkutan memakai kendaraan truk. Beberapa permasalahan yang dihadapi petani panen dan angkut yaitu: (a) penebangan tebu tidak sampai ke pangkal batang padahal kandungan tebu di pangkal batang lebih tinggi dibandingkan bagian atas, (b) kekurangan tenaga kerja sehingga harus didatangkan dari luar kabupaten, dan (c) faktor cuaca (hujan) menyebabkan keterlambatan melakukan kegiatan panen. Sumber: Hendayana Rachmat, A.Supriatna dan Zakiah. 2012. Laporan Akhir: Analisis kebijakan peningkatan produktivitas dan kualitas tebu rakyat. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP) Bogor.Penulis: Miskat Ramdhani. Penyuluh Pertanian BBP2TP