Di Indonesia jagung merupakan bahan pangan kedua setelah padi. Selain itu jagung juga digunakan sebagai bahan baku industri pakan khususnya pada bidang peternakan, baik ternak ayam, itik maupun ternak babi. Pada ternak ayam porsi jagung merupakan bahan yang cukup dominan dalam penyusunan ramsum makanannya. Selain sebagai pakan ternak, jagung juga merupakan bahan makanan non beras yang sangat diminati oleh masyarakat, seperti dibuat untuk sayur, jagung panggang, jagung rebus dan olahan pangan lainnya, serta dalam dunia industri digunakan sebagai tepung yang sering kita kenal dengan nama tepung maysena. Tepung ini merupakan bahan utama dalam pembuatan berbagai macam kue. Seiring dengan pertambahan penduduk, mengakibatkan permintaan jagung di dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan saat ini karena begitu pentingnya peranan jagung untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, maka kekurangan ketersediaan jagung tersebut selalu didatangkan dari luar negeri dengan cara import. Upaya untuk meningkatkan produksi komoditi ini, telah dilakukan berbagai upaya oleh pemerintah, khususnya dari Kementerian Pertanian, melalui berbagai program dan kegiatan. Saat ini melalui program UPSUS PAJALE (Padi, Jagung dan Kedelai) diharapkan produksi komoditi ini dapat meningkat, sehingga untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tidak perlu lagi melalui import. Adanya peningkatan produksi yang dialami selama ini, karena adanya penemuan varietas-varietas uanggul seperti varietas hybrida, sehingga banyak petani mencoba beralih dari varietas lokal ke varietas hybrida. Salah satu varietas hybrida yang sering digunakan petani adalah SHS4. Diharapkan dengan menggunakan varietas hibrida ini berdampak pada peningkatan hasil panen. Selain penggunaan varietas unggul seperti jenis jagung hybrida, alternatif lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi jagung adalah dengan penerapan teknik budidaya diantaranya adalah pengaturan jarak tanam. Melalui pengaturan jarak tanam ini akan berdampak pada populasi tanaman, dan populasi tanaman akan berdampak pula pada produksi tanaman. Dari percobaan yang dilakukan di Subak Belumbang, Tempek Delod Bingin, Desa Belumbang, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, menunjukkan bahwa dengan sistem tanaman jajar legowo 3 : 1 produksi jagung lebih tinggi dari sistem tanam yang biasa dilakukan petani pada umumnya. Sistem jajar legowo 3 : 1 ini dilakukan dengan jarak tanam 20 cm dalam baris dan 40 cm antar baris, dengan jajar sebanyak 3 baris. Kemudian antara kelompok jajar dibuat jarak selebar 100 cm, dengan jumlah benih 1 biji /lubang tanam, sehingga jumlah populasi tanaman dapat mencapai 90.000 tanaman /ha. Berdasarkan hasil ubinan produksi yang diperoleh dengan sistem tanam tersebut diperoleh 15.860 kg jagung pipilan kering panen varietas SHS4. Sedangkan penanaman yang umum dilakukan petani dengan sistem tegel dengan jarak tanam 40 cm x 80 cm, dengan jumlah benih 2 biji /lubang tanam, populasi tanaman mencapai 65.000 tanaman/ha. Berdasarkan hasil ubinan produksi yang diperoleh dengan sistem tegel hanya 7.250 kg/ ha pipil kering panen dengan varietas yang sama. Adapun teknik budidaya yang dilakukan dalam percobaan ini meliputi : pengolahan tanah sebanyak 2 kali agar tanah betul-betul gembur. Penanaman dilakukan dengan menugal dengan jumlah 1 biji/lubang pada sitem jajar legowo dan 2 biji pada sitem tegel. Pupuk yang digunakan dalam percobaan ini meliputi: Urea, NPK (Phonska) dan pupuk organik, dengan dosis dan waktu pemberian sbb:a. Urea diberikan pada saat 0 – 10 hst. sejumlah 100 kg/ha, dan pemberian yang kedua dilakukan pada umur 30 hari setelah tanam dengan dosis 100 kg/ha.b. NPK (Phonska) diberikan pada saat 0 – 10 hst. sekaligus dengan dosis 350 kg/ha.;c. Pupuk organik diberikan sekaligus pada saat pengolahan tanah terakhir dengan dosis 500 kg/ha.Pengairan dilakukan dengan cara menyalurkan air ke seluruh saluran keliling (Leb). Setelah semua saluran keliling penuh dengan air, maka penyaluran air dihentikan sehingga seluruh parit tergenang dengan air. Dengan metode ini maka air nantinya akan meresap ke seluruh petak pertananam. Perlakuan pengairan dengan cara seperti ini dilakukan setiap 1 – 2 minggu tergantung keadaan cuaca. Pengendalian gulma dilakukan 1 – 2 kali yaitu pada umur 3 minggu dan umur 5 minggu, tergantung banyak sedikitnya gulma yang menyerang tanaman. Penyiangan pada umur 5 minggu, sekaligus dilakukan pembumbunan. Selain penyiangan dengan cara manual, dapat juga dilakukan dengan menggunakan herbisida seperti NOXOME 297, CERAKOEAOXON 276 SL, COLERIS 550 SC sesuai dengan ketentuan dalam penggunaannya. Pengendalian hama /penyakit dilakukan bila terjadi serangan pada tanaman jagung, dengan menggunakan pestisida STOPPER 25 EC dan MATRIX 200 EC. Panen dilakukan setelah tanda-tanda seperti biji tongkol telah mengeras dengan kulit tongkol berwarna kekuningan, atau tanaman telah berumur + 100 hari. Buah tongkol dijemur 1 – 2 hari, baru dipipil. Setelah dipipil dijemur kembali sehingga kadar air mencapai + 14 %, selanjutnya disimpan dalam karung kering dan bersih lalu siap untuk dijual ( I Made Widiada, BP4K Kabupaten Tabanan, Bali)