Loading...

Menjawab Permasalahan dan Pengembangan Lada

Menjawab Permasalahan dan Pengembangan Lada
Menjawab Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Lada Negara Indonesia sebagai negara agraris menyimpan potensi besar yang dapat dikembangkan melalui komoditas tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perkebunan. Sejak dahulu kala, berbagai tanaman perkebunan seperti cengkeh, pala, dan lada sudah diperdagangkan dalam perdagangan domestik maupun internasional. Perdagangan lada Indonesia dikenal dengan 2 jenis, yaitu: (1) lada putih atau muntok white pepper yang berasal dari propinsi Bangka Belitung dan lampung black pepper yang berasal dari propinsi Lampung. Adapun daerah lainnya yang menjadi lokasi produksi lada adalah propinsi Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan. Pengembangan Lada menghadapi berbagai masalah untuk diselesaikan, yaitu: (1) luasan areal terbesar adalah perkebunan rakyat yang dikelola dengan cara-cara tradisional dan masih terdapat tanaman yang bekum mendapatkan peremajaan; (2) mutu lada yang belum sesuai dengan yang diharapkan; (3) harga yang belum berpihak pada petani disebabkan karena sistem pemasaran yang belum optimal; (4) kelembagaan ekonomi petani sangat lemah sehingga tidak belum adanya kerjasama antar petani yang membantu pengelolaan input usahatani, pengolahan dan pemasaran berjalan dengan efektif dan efisien. Disisi lain tantangan pengembangan lada adalah: (1) luas areal yang mengalami penurunan antar waktu; (2) faktor klimatologi yang menyebabkan terjadinya kekeringan dibeberapa sentra pengembangan lada; (3) penyakit busuk pangkal batang; (4) serangan hama penggerek batang; (5) serta penyakit kuning; (6) produktivitas rendah. Saat ini rataan produktivitas ditingkat petani masih belum maksimal. Optimalisasi dilakukan dengan jalan menyelesaikan masalah-masalah seperti: (1) intensitas serangan hama/penyakit lada; (2) belum menggunakan benih unggul; (3) kurangnya pemeliharaan lada di tingkat lapangan; dan (4) lemahnya permodalan ditingkat petani. menjadi peluang-peluang dengan cara mengantispasi dan menemukan solusi. Inovasi Inovasi merupakan suatu gagasan/ide dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh petani. Permasalahan pengembangan lada, upaya yang dapat dilakukan yaitu: (1) rehabilitasi, (2) meningkatkan luas areal tanaman lada dan (3) membangun, dan mengembangkan sistem perbenihan lada melalui penciptaan varietas baru unggul (VUB) sesuai dengan agroekosistem dan permintaan pasar setempat sehingga menumbuhkan minat petani untuk menggunakan inovasi dalam memecahkan masalah usahatani lada yang mereka kembangkan. Upaya-upaya ini dilakukan agar terwujudnya peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perkebunan. Salah satu upaya yang dilakukan dengan pengembangan perbenihan tanaman perkebunan mulai dari benih sumber hingga benih sebar. Hal tersebut dalam upaya untuk mengembalikan kejayaan lada nasional sekaligus upaya membangkitkan capain devisa negara. Peluang tersebut sangat besar dan dimiliki oleh Indonesia sebagaimana yang pernah dicapai sebelumnya yaitu lada Indonesia menjadi konsumsi pasar dunia. Kebijakan Suatu produk yang dihasilkan memiliki nilai. Nilai produk diukur ketika memiliki kualitas/mutu yang baik dengan standarisasi-standarisasi yang terukur. Produk lada Indonesia diharapkan mempunyai kualitas mutu tinggi. Dengan kualitas mutu tinggi maka konsumen lada akan memberikan pilihan pada produk yang dihasilkan oleh petani. Mempertahankan mutu yang baik dan meningkatkan mutu produk yang belum baik mensyaratkan teknik penanaman dan pengolahan lada yang sesuai praktik pertanian yang baik. Praktek pertanian saat ini menjadi keharusan diperkuat dengan inovasi dan pemasaran di sektor hulu dan hilir. Strategi kebijakan harus tepat dan dapat dilaksanakan dengan baik oleh para praktisi pertanian komoditas lada. Program-program berjalan dengan sinergi pelaksana dipusat dan daerah. Sinergi pusat dan daerah yang baik diharapkan mampu menjadi Indonesia jadi produsen utama dengan kualitas tinggi di pasar internasional. Selain aspek teknis hal yang sangat penting dalam peningkatan daya saing lada adalah perlunya kebijakan/strategi penguatan sistem agribisnis untuk peningkatan kesejahteraan petani dengan menempuh cara: (1) mengembangkan lada melalui perluasan areal pada lahan yang sesuai dengan menggunakan teknologi rekomendasi, (2) mempertinggi daya saing lada melalui peningkatan produktivitas, mutu hasil, dan diversifikasi produk dan (3) meningkatkan peran kelembagaan mulai dari kelembagaan di tingkat petani sampai kelembagaan pemasaran hasil yang berpihak kepada petani. Petani Petani merupakan sumber daya manusia yang menerima kebijakan dan melakukan inovasi teknologi. Pengetahuan, sikap, dan keterampilan petani perlu ditingkatkan. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk memperbaiki petani dalam melaksanakan usahatani. Untuk itu diperlukan sosialisasi, bimbingan teknis, gelar teknologi didampingi oleh para peneliti dan penyuluh diwilayah kerjanya sehingga terdapat perbaikan bagi usahatani petani itu sendiri. Bimbingan secara terus-menerus diyakini dapat merubah perilaku petani dalam berusahatani Lada menjadi lebih baik. Penyuluh Salah satu petugas yang ada di Kementerian Pertanian yang memiliki tugas menyampaikan inovasi teknologi pertanian kepada masyarakat adalah penyuluh pertanian. Penyuluh memiliki peran dalam mengubah perilaku petani dalam berusaha tani sehingga usahatani yang dilakukan menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam melakukan hilirisasi inovasi teknologi lada, penyuluh pertanian memasifkannya kepada pengguna akhir. Proses diseminasi inovasi merupakan aktivitas penting sehingga terjadi adanya keputusan yang diambil petani untuk menggunakan teknologi yang baru. Indikator diseminasi inovasi pertanian adalah adopsi teknologi secara luas dan berkelanjutan. Hilirisasi inovasi teknologi komoditas lada dapat dikembangkan melalui tiga cara; (1) cara vertikal/top down; (2) cara horizontal; (3) cara transfer teknologi petani ke petani. Model vertical, adalah diseminasi inovasi teknologi dilakukan secara langsung berdasarkan hasil penelitian. Proses diseminasi dilaksanakan berjenjang dari hasil penelitian kepada penyuluh. Berikutnya penyuluh mendiseminasikan kepada petani,Cara horizontal dilaksanakan dengan keterlibatan penyuluh. Hal ini dikenal dengan istilah training and visit system. Kelembagaan Petani Masalah dan tantangan perlu dirubah sehingga terjadi peluang-peluang yang dapat diantisipasi melalui kelembagaan petani. Kelembagaan petani sangat dibutuhkan sebab dengan berkelompok petani dapat mengatasi luas areal yang semakin menurun dan rataan produktivitas lada yang rendah. Kelembagaan petani dibentuk bersama-sama petani agar petani dapat menihgkat pengetahuannya dengan adanya bertukar pengetahuan antar sesama petani dalam kelompok yang mengalami masalah yang sama. Kelembagaan dikembangkan untuk menjadi: (1) Kelas belajar sesama anggota kelompok tani ditujukan untuk wadah peningkatan pengetahun, sikap dan keterampilan sehingga terjadi perubahan perilaku anggota dalam berusaha tani; (2) Kelompok diharapkan menjadi jembatan kerjasama antar petani didalam kelompok maupun luar kelompok dalam bentuk kemitraan. Permasalahan pemasaran produk lada, fluktuasi harga dipasaran diharapkan dapat dipecahkan melalui cara berkelompok; (3) kelompok menjadi peningkatan skala ekonomi para anggotanya. Permasalahan utama lain yang dihadapi oleh petani adalah keterbatasan modal dalam melaksanakan produksi. Kelompok yang memiliki badan hukum dapat bekerjasama dengan perbankan dalam memenuhi kebutuhan modal yang dibutuhkan petani dalam melaksanakan produksi usahatani yang dilakukannya. Dengan melakukan upaya secara bersama-sama dan menyeluruh pada seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan komoditas lada diyakini dapat membangkitkan kembali kejayaan lada. Inovasi, kebijakan, petani, penyuluh, dan kelembagaan petani perlu dilakukan perbaikan secara bersama-sama sehingga pengembangan lada dapat terwujud. Penulis: Miskat Ramdhani, M. Si – Penyuluh Pertanian BBP2TP