Ada dua cara pembibitan teh yaitu pembibitan yang berasal dari biji dan pembibitan yang berasal dari stek. Pembibitan dengan menggunakan stek atau biji harus menggunakan stek atau biji yang berasal dari pohon induk dari klon teh unggul yang dihasilkan oleh Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK), Gambung, Jawa Barat. Ada beberapa klon unggul yang dipilih menjadi pohon induk yaitu: 1) Klon Dataran rendah : GMB 1, GMB 2, GMB 3, GMB 6, GMB 7, GMB 9; 2) Klon Dataran sedang : GMB 3, GMB 4, GMB 5, GMB 6, GMB 7, GMB 8, GMB 9, GMP 10, GMB 11; 3) Klon Dataran tinggi : GMB 1, GMB 2, GMB 3, GMB 4, GMB 5, GMB 6, GMB 6, GMB 7, GMB 8, GMB 9, GMB 10, GMB 11. Klon tersebut mempunyai keunggulan yaitu : a) potensi hasil yang cukup tinggi yaitu 4.000-5.500 kg/ha teh kering; dan b) tahan terhadap penyakit cacar air Pembibitan teh dengan setek Pembibitan dengan menggunakan stek harus menggunakan sek dari klon unggul dengan cara sebagai berikut : 1) Menyiapkan pohon induk yang dipangkas 6 bulan sebelum rencana pengambilan stek agar ranting-rantingnya menumbuhkan tunas; 2) Setelah 6 bulan, ranting yang telah memiliki mata tunas sebagai bahan stek. Tiap ranting mempunyai delapan atau Sembilan daun; 3) Bahan stek kemudian dibungkus dengan kain basah sesaat setelah diambil dari pohon induk, dan diletakkating menjadi stek yang memiliki daun. Pemotongan harus dengan pisau bersih dan tajam dengan arah potongan 30 - 45 derajat. Stek daun telah siap ditanam. Daunnya dibiarkan menempel pada kayu ranting; 4) Penyemaian stek dlakukan dengan dua cara yaitu dengan tanpa polibag dan penyemaian dengan polibag. Penyemaian tanpa polibag dengan cara sebagai berikut; (1) Buat bedengan dengan lebar 120 cm, panjang sesuai keadaan tempat, dan tinggi 15-20 cm. Bedengan dibuat membujur dari utara ke selatan dengan jarak antar bedeng 40 cm; (2) Media terdiri dari campuran pasir dan kompos dengan perbandingan 1:1 sebanyak 20 kg/m2; (3) Untuk menghindari terkenanya sinar matahari langsung, bedengan diberi atap yang biasanya terbuat dari anyaman bambu/anyaman daun kelapa/daun ilalang dengan tinggi 50 cm dari atas bedengan; (4) Setelah ditanaman dibedengan, stek daun harus ditanam dulu di pendederan; (5) bagian yang ditanam adalah 0,75 bagian dari panjang stek (intermodia) dengan daun di permukaan tanah, kemudian disiram lalu disungkup p;astik; (6) kelembaban tanah dan udara harus cukup tinggi (sekitar 70-80%). Penyiraman dilakukan dua kali sehari pagi dan sore; (7) setelah berumur 6 bulan, stek sudah siap dipindahkan ke bedeng pesemaian; (8) setelah berumur 4-6 bulan, bibit dipindahkan ke lokasi penanaman (kebun). Penyemaian dengan polibag, dengan cara sebagai berikut (1) Polibag yang,digunakan berupa kantong plastik yang bergaris tengah 10 cm dengan tinggi 25 cm. Kantong diberi lubang di sepertiga bagian bawahnya sebanyak 12 dengan jarak 5 cm; (2) Kemudian polibag diisi dengan pasir dan kompos dengan perbandingan 1:1; (3) sebelum penanaman, terlebih dulu dibuat lubang tanam dengan tugal berdiameter 0,5 cm dan dalam 4-5 cm; (4) Sebelum ditanam bibit dicelupkan dalam larutan Dihane M-45, kemudian bibit ditanam di polibag; (5) Perawatan bibit ; (5) Perawatan bibit meliputi pengaturan kelembaban, pengaturan sinar matahari, penyiraman dan pemupukan; (6) sampai umur bibit 2 bulan, kelembaban udara diatur sekitar 70-90% dengan menutup bedengan dengan sungkup atau plastik. Jarak plastik dari permukaan polibag sekitar 30 cm; (6) setelah bibit berumur 4 bulan, dilakukan pemupukan seminggu sekali dengan pupuk campuran 150 gram Urea, 150 gram KOC dan 15 liter air yang diberikan melalui daun (tiap tanaman disemprot dengan 5 cc larutan), dan juga diberikan pupuk melalui tanah berupa 25 kg pupuk kandang, 200 gram aluminium sulfat dan 200 gram Dithane M-45 dalam 100 liter air. Larutan diendapkan selama 2 jam sebelum diberikan, Pemberian pupuk ini dilakukan setiap 2 minggu sekali sebanyak 50 cc; (7) setelah berumur 6-7 bulan, tinggi tanaman mencapai 20 cm, yang mempunyai tinggi lebih dari 30 cm dapat dipangkas; (8) pada umur 6-12 bulan tanaman dapat dipindah ke pertanaman (kebun). Pembibitan teh dengan biji Biji teh harus berasal dari pohon induk yaitu pohon yang bukan untuk memproduksi daun teh, melainkan hanya untuk diambil bijinya dari buah teh yang sudah matang. Waktu yang diperlukan dari bunga sampai menjadi buah teh matang sekitar 9 bulan. Biji-biji teh yang dipetik perlu diseleksi biji yang baik dan sehat (tidak lapuk, tidak terserang hama/penyakit atau busuk) dengan cara merendam biji ke dalam air, bila tenggelam biji tersebut baik, sedang biji yang lapuk atau busuk akan mengapung. Sebelum biji ditanam di kebun, terlebih dulu biji ditanam di pesemaian. Pesemaian harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a) dekat air dengan sistem pengairan yang lancar; b) subur dan gembur; c) mudah diawasi; d) dekat bedengan pengecambahan; e) dekat areal perkebunan yang akan ditanami; f) mendapat cahaya yang cukup. Setelah areal siap digunakan, biji yang sudah berkecambah disemaikan dengan jarak tanam 15 x 15 cm pada lubang tanam yang dibuat dengan cara ditugal (dengan kayu atau bambu berdiameter 2 cm) sedalam 5 cm. Penanaman biji dilakukan di bedengan (panjang 6 m dan lebar 90 cm) dengan cara meletakkan bagian yang berkecambah di bagian bawah, kemudian ditutup dengan tanah sekitar 1 cm lalu disiram. Pesemaian diberi naungan sampai bibit berumur antara 1-2 bulan. Penyiraman dilakukan kalau tidak turun hujan pada waktu pagi atau sore hari. Penyiangan dilakukan dua kali dalam sebulan selama enam bulan, setelah itu penyiangan bisa dilakukan sebulan sekali. Setelah daun mulai mengeras, tanaman dipupuk dengan urea sebanyak 60 g/m2 atau 600 kg/ha. Pemupukan dilaksnakan sebulan sekali selama enam bulan dengan cara menaburkan secara merata diantara barisan bibit. Penyakit yang sering meyerang bibit muda adalah cacar. Penyakit ini diberantas dengan larutan perenox atau shell coper 0,2%. Sedang hama yang mengganggu adalah jangkrik, belalang dan bekicot. Pembratasan dapat dilakukan dengan cara mekanis atau dengan pestisida azodrin atau lanate (jangkrik dan belalang) dan matadex (bekicot). 10.Perawatan dilakukan hingga bibit berumur 1,5 – 2 tahun, setelah itu bibit berupa stump dengan panjang akar 30 cm dan tinggi batang 30 cm tersebut dipindahkan ke areal penanaman sebenarnya. Menanam stump harus tegak tidak boleh miring. (Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com)