Loading...

MINYAK BUAH PALA DAN POTENSI PASAR BUAH PALA

MINYAK BUAH PALA DAN POTENSI PASAR BUAH PALA
Buah pala dapat menghasilkan minyak. Minyak ini memiliki kemampuan lain, yaitu dapat mematikan serangga (insektisidal), antijamur (fungisidal), dan antibakteri. Selain itu evalusi terhadap karakteristik antioksidan dari biji pala telah diteliti oleh Jukic et al (2006) dengan pembanding BHT, asam askorbat dan α-tokoferol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri biji pala mempunyai sifat antioksidan yang kuat. Aktivitas antioksidan tersebut disebabkan sinergisme di antara komponenkomponen minyak atsiri tersebut. Akhir-akhir ini ada perkembangan baru pemanfaatan minyak atsiri pala, yaitu sebagai bahan baku dalam aromaterapi. Dilaporkan bahwa komponen utama pala dan fuli yaitu myristicin, elemicin dan iso-elemicin dalam aromaterapi bersifat menghilangkan stress. Di Jepang, beberapa perusahaan menyemprotkan aroma minyak pala melalui sistem sirkulasi udara untuk meningkatkan kualitas udara dan lingkungan. Untuk tujuan yang sama akhir-akhir ini banyak dijumpai penggunaannya dalam bentuk lain yaitu dalam bentuk potpourri, lilin beraroma, atomizer dan produk-produk pewangi lainnya. Di Amerika Serikat pemasaran produkproduk pewangi dari pala tersebut mencapai nilai 500 juta USD . D. Standar Mutu Pala Biji pala mutu baik mengandung minimum 25% ekstrak eter tidak mudah menguap, maksimum 10% serat kasar dan maksimum 5% kadar abu. Sedangkan untuk fuli disyaratkan maksimum 0,5% kadar abu tidak larut dalam asam dan kandungan eter tidak mudah menguap berkisar antara 20 – 30% (Lewis dalam Librianto, 2004). Standar mutu diperlukan untuk meningkatkan mutu biji dan fuli pala dalam dunia perdagangan. Standar fuli menurut SNI 01-0007-1993 terdiri atas lima jenis yaitu: - Mutu whole I (mutu utuh I): utuh dan pecahan besar, sampai sekitar 1/3 dari utuh, warna kuning atau kuning kemerahan sampai merah. Kontaminasi jamur maksimum 5% (bobot/bobot) - Mutu whole II (mutu utuh II): utuh dan pecahan besar, sampai kira-kira 1/3 dari utuh, berwarna gelap/buram. Kontaminasi jamur maksimum 5% - Mutu gruis/broken I (mutu pecah I): pecah-pecah dengan ukuran sampai minimum 1/12 dari yang utuh, berwarna kuning, kuning atau kuning kemerah-merahan sampai merah, kontaminasi maksimum 5 %. Mutu gruis/broken II(mutu pecah II): pecah-pecah dengan ukuran sampai minimum 1/12 dari yang utuh, berwarna buram atau kuning dan atau kemerah-merahan. - Black mace (fuli hitam): yang tidak termasuk whole (utuh), gruis (pecah) yang berwarna gelap hampir hitam Peluang Pasar 1. Pasar Internasional Indonesia merupakan negara pengekspor biji pala dan fuli terbesar di pasaran dunia (sekitar 60%), dan sisanya dipenuhi dari negara lainnya seperti Grenada, India, Srilangka dan Papua New Guinea. Permintaan ekspor terhadap produk dari pala yang terbesar adalah biji pala kering (nutmeg in shell dan nutmeg shelled), fuli (mace) dan minyak pala (essential oil of nutmegs). Permintaan terhadap fuli, biji dan minyak pala relatif stabil pada periode antara tahun 1996-2001. Khususnya permintaan biji pala tanpa tempurung terus mengalami peningkatan. Produksi biji pala untuk ekspor sebagian besar berasal dari petani. Data ekspor biji pala tahun 1998 adalah sebesar 5.197.590 kg yang dipasok dari perkebunan sebanyak 2.023.347 kg atau sekitar 39%, sisanya 61% dipasok dari petani. Rata-rata produksi pala dunia diperkirakan berkisar antara 10.000 – 20.000 ton per tahun, dengan permintaan tahunan berkisar antara 9.000 ton. Sedangkan produksi fuli berkisar antara 1.500 – 2.000 ton (http://en.wikipedia.org/wiki/Nutmeg) Pada tahun 2006, hingga triwulan III, ekspor fuli pala mengalami peningkatan cukup signifikan dengan prosentase sebesar 175 persen. Jumlah volume ekspor mencapai 347.919 kg dengan nilai sebesar 1,861,232 USD. Angka tersebut jauh melebihi total ekspor pada periode yang sama pada tahun 2005 dengan volume yang hanya sebesar 128.212 kg dengan nilai 676,574 USD. Selain fuli pala, ekspor biji pala juga turut meningkat hingga kisaran 113 persen, hingga mencapai volume sebesar 1.742.793 kg dengan nilai 7,200,510 USD. Sementara pada tahun 2005 volume ekspor hanya sekitar 904.941 kg dengan nilai 3,369,930 USD. Produk dari pala (biji, fuli dan minyak pala) telah diekspor ke lebih dari 30 negara. Adapun negara-negara pengimpor utama produk pala antara lain adalah Singapura, Belanda, Hongkong, Jepang, Belgia, Malaysia, Amerika Serikat, Perancis, India, Italia, Jerman, dan Thailand. Ekspor biji pala gelondongan ke Singapura pada tahun 2003 mencapai 1.083 ton senilai 3,939,000 USD. Sedangkan untuk minyak pala terutama diekspor ke USA, Spanyol, Singapura dan Inggris. Di antara produkproduk pala yang diekspor pada tahun 2004, ekspor dalam bentuk biji pala kupas paling tinggi dibanding bentuk lainnya yang mencapai 8.057 ton, selanjutnya berturut-turut adalah fuli, gelondong dan minyak pala, dengan volume masing-masing 3.270 ton, 2912 ton dan 955 ton. Volume ekspor minyak pala cukup besar yaitu mencapai 11,165,000 USD, sedangkan untuk biji pala mencapai 20,672,000 USD. Penulis: Nanik Anggoro P, SP, M.Si / Penyuluh Pertanian BBP2TP Email : nanik.anggoro@gmail.com Sumber: Teknologi pengolahan Pala, Badan Litbang Pertanian, 2007