Sukun (Artocarpus altiliss fosberg) merupakan tanaman berbentuk pohon yang cukup besar dan tinggi yang mempunyai buah dengan daging buah tidak berbiji bertekstur empuk. Menurut Kepala Badan PPSDMP, Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr, sukun termasuk salah satu dari 10 jenis pangan lokal yang dapat sebagai alternatif pengganti beras dan lebih bergizi (dalam video conference Sapa Petani dan Penyuluh Pertanian, 29 Mei 2020). Untuk mengenal tanaman dan buah sukun serta manfaatnya dapat disimak penjelasan berikut. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Sukun Klasifikasi dari tanaman sukun sebagai berikut: Kingdom: Plantea, Sub Kingdom: Viridiplantea, Infra Kingdom: Striptophyta, Super Devisi: Embryophyta, Devisi: Tracheophyta, Kelas: Magnoliopsida, Super Ordo: Rosanea, Ordo: Rosales, Famili: Moraceae, Genus: Artocarpus J.R. Frost. dan G. Frost, serta Species: Artocarpus Altilis (Parkinsom) Fosberg. Sedangkan ciri morfologi tanaman sukun dapat dilihat dari akar, batang, daun, bunga, dan buah, yang dapat dijelaskan sebagai berikut: Akar: Tanaman sukun mempunyai akar tunggang yang tumbuh cukup dalam dan akar menyamping yang tumbuh dangkal. Akar menyamping seringkali tumbuh tunas-tunas yang dapat dijadikan bibit untuk perbanyakan. Bila akar menyamping terpotong atau terlukai akan merangsang tumbuhnya tunas yang dapat juga menjadi bibit dan sering disebut dengan tunas alam. Batang: Tanaman sukun tumbuh cukup tinggi hingga mencapai ketinggian sekitar 14 meter. Batangnya besar dan kokoh, bertekstur lebih lunak, dan mengandung banyak getah. Selain itu pohon sukun memiliki kulit berwarna hijau kecokelatan dengan tekstur kulit berserat dan kasar. Cabang pohon akan terlihat tumbuh mejulur ke atas dengan jumlah yang cukup banyak. Batang sukun sangat jarang dimanfaatkan sebab termasuk kayu yang tidak awet dan tidak kuat. Daun: Tanaman sukun mempunyai daun tunggal yang berbentuk oval hingga lonjong dan ukurannya cukup besar. Ukurannya panjang antara 20 cm hingga 60 cm, lebarnya antara 20 cm hingga 40 cm, dan panjang tangkai 3 cm hingga 7 cm. Bagian pangkal daun sukun cenderung bulat meruncing dan tepi daun berlekuk menyirip dengan diselingi percabangan. Permukaan daun sukun bagian atas berwarna hijau mengkilap licin dan jika diraba terasa licin, sedangkan bagian bawah berwarna kusam dan teksturnya kasar. Bunga: Tanaman sukun mempunyai bunga di bagian ketiak daun pada ujung cabang batang atau ranting. Bunganya termasuk jenis tunggal atau bunga jantan dan betina yang terpisah, namun berada dalam satu rumah atau dikenal dengan istilah monoceous. Bunga jantan berwarna kuning dan bentuknya seperti tongkat panjang yang disebut ontel, sedangkan bunga betina bentuknya bulat dengan tangkai pendek. Penyerbukan bunga secara alami dengan bantuan angin, sedangkan menurut penelitian bantuan serangga kurang perperan. Buah: Buah sukun berbentuk bulat dan cenderung lonjong dengan diameter rata-rata 20 cm hingga 30 cm. Per pohon dapat menghasilkan buah hingga 200 buah per pohon, dengan berat per buah sukun sekitar 3 hingga 4 kg tetapi ada pula yang mencapai 5 kg tergantung varietasnya. Ketika muda, kulit buah ini berwarna hijau terang dan ketika matang akan berubah menjadi kekuningan atau oranye kecokelatan. Daging buah sukun warnanya bervariasi, dari putih, putih-kekuningan, hingga kuning. Buah sukun tidak berbiji yang menghasilkan segmen pada daging terlihat menyatu dengan kandungan pati yang tergolong besar. Buah Sukun Sebagai Pangan Lokal Di Indonesia, tanaman sukun banyak tumbuh di daerah Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Dalam kondisi sulit beras, daging sukun dapat digunakan sebagai pengganti makanan pokok karena banyak mengandung karbohidrat. Umumnya dikonsumsi sebagai hanya sebagai hidangan camilan yang digoreng atau dikukus saja. Jika digunakan sebagai makanan pokok, maka daging buah sukun diolah dengan dikukus atau dikeringkan untuk dijadikan tepung. Kandungan gizi tepung sukun meliputi: pati sampai 75%, 31% gula, 5% protein, dan sekitar 2% lemak. Kadar lemak yang rendah, bebas kolesterol dan tidak mengandung gluten. Jika dibandingkan dengan kentang, beras, sorgum dan gandum, buah sukun memiliki indeks glikemil yang lebih baik. Indeks glikemik adalah kadar pengaruh makanan terhadap gula darah. Buah ini juga mengandung zat karotenoid, seperti beta karoten dan lutein yang berfungsi sebagai antioksidan dan pelindung diri dari radikal bebas. Mengonsumsi buah sukun akan mendapatkan beberapa manfaat, antara lain: 1) Menurunkan gula darah; 2) Mengurangi risiko penyakit jantung; 3) Sumber Omega 3 dan 6 memberikan manfaat bagi kesehatan kulit, rambut, liver dan otak; 4) Melancarkan buang air besar maupun kecil, karena kandungan serat tinggi; 5) Membantu untuk diet; 6) Menjaga kesehatan kulit, karena mengandung vitamin C; 7) Mencegah penuaan, karena kaya Antioksidan; 8) Mengatasi kerontokan rambut, karena kandungan mineral akan merangsang pertumbuhan dan menjaga ketebalan rambut; dan 9) Membantu pencegahan penyakit kanker di dalam tubuh, karena memiliki kandungan senyawa polifenol. Buah sukun mempunyai kelemahan, yaitu buah segar tidak dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama dan hanya mampu bertahan 5 hari jika disimpan pada suhu ruang. Oleh karena itu, pengolahan buah sukun menjadi pilihan agar sukun dapat disimpan lebih lama. Penulis: Susilo Astuti H. - Pusluhtan Sumber Pustaka: Dedi Nursyamsi. Diversifikasi Pangan Lokal Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Video Conference Mentan Sapa Petani dan Penyuluh Pertanian. 29 Mei 2020. Pedoman Budidaya Tanaman Obat Yang Baik, Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementan. 2014. Manfaat Buah Sukun. http://hortikultura.pertanian.go.id. 25 Maret 2015.