Loading...

NYAMPLUNG SEBAGAI BAHAN BAKU BIODIESEL (1)

NYAMPLUNG SEBAGAI BAHAN BAKU BIODIESEL (1)
Penggunaan biji nyamplung (Calophyllum inophyllum ) sebagai sumber energi alternatif pengganti BBM telah memasuki babak baru. Beberapa hari lalu (05/03/2012) sebuah stasiun televisi swasta (Indosiar) menayangkan uji coba pemanfaatan bahan bakar biofuel dari biji buah nyamplung di Purworejo. Beberapa kendaraan roda empat sukses melintasi sejumlah kota di Jawa Tengah tanpa hambatan. Sebelumnya, biodiesel dari buah nyamplung ini juga pernah diujicobakan di kendaraan alat pertanian, generator listrik, dan bus. Biodiesel dari biji nyamplung terbukti lebih irit dari solar. Asap yang dibuang dari biodiesel ini lebih putih dan tidak mengandung belerang, kendaraan lebih enteng ketika digas dan lebih halus suaranya. Situs detik.com melansir hasil pengujian biodiesel nyamplung oleh Badan Litbang Kehutanan menghasilkan sejumlah kesimpulan antara lain kelayakan atas kinerja permesinan. Biodiesel nyamplung dapat digunakan untuk kendaraan bermotor (otomotif) sebesar 100%, tanpa campuran solar (B 100). Dari sisi lingkungan, biodiesel nyamplung bebas dari polutan (green solar). Seluruh parameter kualitas telah sesuai dengan kualifikasi biodiesel menurut SNI 04- 7182-2006 dengan rendemen konversi asam lemak bebas (FFA) menjadi metil ester 97,8%. Sementara dari sisi investasi, biodiesel nyamplung mencapai BEP (break event point) pada skala biodiesel 70 ton dan gliserol kotor 14 ton, dengan IRR = 31 %, masa pengembalian modal 6 tahun, NPV = Rp 326,7 juta, B/C ratio = 2,4. Pada kondisi BEP tersebut, diperlukan biji nyamplung 555 ton setara 11.100 batang pohon nyamplung atau setara areal 28 ha dengan produktivitas biji 50 kg/pohon/tahun. (1 daur budi daya nyamplung = 50 tahun, mulai berbuah umur 7 tahun). Biodiesel nyamplung juga dapat digunakan sebagai campuran solar dengan komposisi tertentu. Bahkan jika teknologi pengolahannya tepat, dapat digunakan sebagai biokerosen pengganti minyak tanah. Pemerintah mendukung kebijakan energi dengan meningkatkan target produksi biofuel pada tahun 2025 sebesar 5% untuk mengatasi krisis energi nasional, salah satunya dengan mengembangkan tanaman nyamplung untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Di Indonesia, pohon ini memiliki nama lain, seperti camplong (Madura dan Bali), punaga (Minangkabau dan Makassar), penago (Lampung), eyobe (Enggano), mantan (Bima), dan dingkalreng (Sangir). Berdasarkan penelitian yang dilakukan sejak 2007, setiap tamanan nyamplung menghasilkan 20 ton biji nyamplung per tahun dengan kandungan minyak yang dapat diolah menjadi biodiesel sekitar 40-73 persen. Di Indonesia, penyediaan bahan baku biofuel, antara lain dilakukan Kementerian Kehutanan dengan pemberian izin pemanfaatan lahan hutan yang berpotensi sebagai bahan baku biofuel, misalnya penanaman 10 juta biji nyamplung seluas 10.000 hektare di Madura. Dalam program siaran Iptek Voice, 8 September 2011, Djeni Hendra dari Balitbang Kementerian Kehutanan menjelaskan proses pembuatan Biodiesel dari buah nyamplung. Dimulai dengan memecah buah nyamplung, mengekstraksi minyak dari kernel nyamplung dengan memakai alat pres ulir, memfiltrasi minyak nyamplung kasar dan memprosesnya menjadi biodiesel melalui proses transesterifikasi. Hasilnya, dari 2 kg nyamplung menghasilkan 1 liter biodiesel. Budi daya nyamplung kita lakukan di Klaten, Purworejo dan Banyuwangi. Dicanangkan sejak 2009 dan mulai bisa dipanen tahun 2012. Dephut memperkirakan usaha ini sangat prospektif. Jika mengacu pada kebutuhan biofuel pada tahun 2025 sebanyak 720.000 kiloliter dapat terpenuhi, maka ditaksir akan menyerap tenaga kerja sebanyak 120.000 orang. Penulis: Nanik Anggoro P/ Penyuluh Pertanian Pertama BBP2TP