Loading...

NYAMPLUNG SEBAGAI BAHAN BAKU BIODIESEL (2)

NYAMPLUNG SEBAGAI BAHAN BAKU BIODIESEL (2)
Kalimantan Barat juga disebut-sebut sebagai penghasil buah nyamplung yang cukup potensial. Pohon nyamplung tumbuh liar di kawasan pesisir pantai Pulau Datuk dan tersebar di kawasan pantai Kalbar ataupun dataran rendah. Harian Equator edisi 11 Januari 2012 melaporkan hasil penelitian yang dilakukan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kayong Utara (KKU) bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, menunjukkan satu kilogram biji nyamplung kering dapat menghasilkan 53,87 persen atau sekitar 0,5 liter minyak biodiesel. Biodiesel yang dihasilkan dari nyamplung memiliki sejumlah keunggulan. Rendemen minyak nyamplung lebih tinggi, 40-73% dibandingkan jarak pagar (40-60%) dan sawit (46-54 %). Selain itu, daya bakar minyak nyamplung dua kali lebih lama dibandingkan minyak tanah. Dalam tes yang sudah dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman, untuk mendidihkan air, dibutuhkan 0,9 ml minyak tanah, sedangkan minyak biji nyamplung hanya butuh 0,4 ml. Hasil yang sangat menggembirakan ini menumbuhkan harapan besar bagi Kalbar memproduksi biodiesel, sebagai pengganti energi fosil yang diperkirakan akan habis 18 tahun mendatang. Sementara gas bumi masih bertahan hingga 55 tahun ke depan Pengembangan tanaman Nyamplung mempunyai prospek yang menjanjikan. Berdasarkan hasil penafsiran citra Landsat TM-7+ teridentifikasi areal lahan seluas „b 480.000 ha yang merupakan habitat tanaman Nyamplung dengan prakiraan areal potensial bervegetasi alami sekitar 10 %, maka terdapat areal pembinaan hutan alami sekitar 50.000 ha dan sisanya 430.000 ha dapat untuk areal hutan tanaman. Untuk pembibitan tanaman dapat berasal dari biji, cabutan anakan alami, stek daun atau kultur jaringan. Sumber dari tegakan benih terindentifikasi dan hutan alam tersedia cukup di beberapa daerah. Gambaran umum dari karakteristik Nyamplung antara lain sebagai berikut : keberadaan hutan secara alami maupun hasil budidaya dari tanaman muda sampai tua (50 tahun) cukup baik, menunjukkan bahwa daya survival-nya cukup tinggi terhadap kondisi makro-mikro lingkungan; tersebar merata sebagai vegetasi pantai berpasir (coastal forest) hampir di seluruh pulau/kepulauan di Indonesia pada ketinggian 0-400 m dpl; jumlah anakan alami pada musim hujan banyak; berbuah sepanjang tahun dan dapat dipanen 3 kali dalam setahun, dengan produksi biji per pohon minimal 50 kg/tahun; atau potensi produksi tiap ha antara 10 ton (jarak tanam 10 m X 5 m) sampai 20 ton/tahun (5 m X 5m); dari biji dapat dibuat biodiesel berkualitas tinggi; kayunya laku di pasar untuk bahan pembuatan kapal yang tahan terhadap biota laut dan menghasilkan banyak produk sampingan seperti briket, arang aktif dan obat-obatan; berfungsi sebagai wind breaker dan konservasi sempadan pantai (shelter of coastal area). Proses pengolahan biodiesel dari Nyamplung hampir sama dengan pengolahan minyak sawit, kelapa, dan jarak pagar, tetapi karena biji Nyamplung mengandung zat ekstraktif yang tinggi, maka pada proses pengukusan lebih lama dan pemisahan getah (deguming ) dilakukan dengan konsentrasi tinggi. Tahapan pengolahan biodiesel Nyamplung, meliputi : penghilangan kulit buah dan tempurung, pengukusan, pemisahan getah (deguming) dengan asam fosfat 1%, dan esterifikasi dengan metanol 20:1 (perbandingan molar metanol dengan asam lemak bebas), serta transesterifikasi (perbandingan metanol dengan minyak 6:1). Apabila pada akhir proses : nilai viskositas, densitas dan keasaman belum memenuhi SNI, maka dilakukan proses netralisasi dengan menggunakan NaOH sesuai dengan molar asam lemak bebas tersisa. Biji Nyamplung selain dapat sebagai bahan baku biodiesel, juga dapat diolah menjadi bio-karosen dengan proses yang lebih sederhana (deguming dan netralisasi), sebagai alternatif pengganti minyak tanah yang sangat bermanfaat untuk masyarakat pedesaan. Penulis: Nanik Anggoro P/ Penyuluh Pertama BBP2TP