Loading...

Optimalisasi Lahan Kering Untuk Pengembangan Tanaman Pangan

Optimalisasi Lahan Kering Untuk Pengembangan Tanaman Pangan
Pengembangan pertanian tanaman pangan di lahan kering masih terbuka lebar, mengingat luasnya masih sangat besar dibandingkan dengan lahan sawah. Lahan kering di Indonesia sangat luas sekitar 60,7 juta hektar atau 88,6% dari luas lahan sawah yang hanya 7,8 juta hektar atau 11,4% dari luas lahan (2002) Dari total luas lahan kering yang ada, sebagian besar terdapat di dataran rendah dan sesuai untuk budidaya pertanian penghasil bahan pangan seperti padi gogo, jagung, kedele, kacang tanah). Lahan kering juga penghasil produk pertanian dalam arti luas lainnya, seperti perkebunan, peternakan, kehutanan dan bahkan perikanan (darat), apalagi di luar Jawa yang memiliki lahan sangat luas dan belum banyak dimanfaatkan (< 10%). Dari sebagian luasan lahan kering yang tidak diusahakan secara optimal, dapat menjadi alternatif pilihan dan merupakan peluang untuk pengembangan tanaman pangan, mengingat selama ini potensi itu terkesan seperti terabaikan. Optimalisasi lahan kering diperlukan upaya strategis dalam pengelolaan agar dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pertanian secara optimal mengingat beberapa kendala antara lain : Sebagian besar lahan kering tingkat kesuburannya rendah dan sumber pengairan terbatas kecuali dari curah hujan yang distribusinya tidak bisa dikendalikan sesuai dengan kebutuhan; Topografi umumnya tidak datar, berada di daerah lereng dan perbukitan, memiliki tingkat erosi relatif tinggi yang berpotensi untuk menimbulkan degradasi kesuburan lahan; Infra struktur ekonomi tidak sebaik di lahan sawah; Keterbatasan biofisik lahan, penguasaan lahan petani, dan infrastruktur ekonomi menyebabkan teknologi usaha tani relatif mahal; Kualitas lahan dan penerapan teknologi yang terbatas menyebabkan variabilitas produksi pertanian lahan kering relatif tinggi. Untuk menanggulangi faktor pembatas biofisik lahan diperlukan sentuhan inovasi teknologi guna meningkatkan produktivitasnya, antara lain : Konservasi tanah dan air bertujuan untuk melindungi tanah terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh butir-butir air hujan yang jatuh, memperlambat aliran permukaan (run off), memperbesar kapasitas infiltrasi dan memperbaiki aerasi serta memberikan penyediaan air bagi tanaman, yaitu : Melaui cara mekanik, yaitu pengolahan tanah menurut kontur, pembuatan guludan, terras dan tanggul; Cara vegetatif, yaitu penanaman tanaman yang dapat menutupi tanah secara terus menerus, pola pergiliran tanaman, penanaman agroforestry dan pemanfaatan sisa-sisa tanaman sebagai mulsa dan bahan organik. Pengelolaan kesuburan tanah, seperti pemberian kapur, pemupukan dan penambahan bahan organik. Pengelolaan Kesuburan tanah tidak terbatas pada peningkatan kesuburan kimiawi, tetapi juga kesuburan fisik dan biologi tanah. Dalam hal ini tidak cukup dilakukan hanya dengan memberikan pupuk saja, tetapi juga perlu disertai dengan pemeliharaan sifat fisik tanah sehingga tersedia lingkungan yang baik untuk pertumbuhan tanaman, dan kehidupan organisme tanah. Pemupukan adalah salah satu teknologi pengelolaan kesuburan tanah yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanah pada level yang tinggi, namun penerapan input teknologi pertanian seperti penggunaan pupuk kimia/anorganik dan pengapuran harus dilakukan secara tepat sesuai dengan kebutuhannya (seimbang). Pemilihan jenis tanaman pangan (tanaman berumur pendek tahan kekeringan merupakan pilihan yang tepat untuk dilakukan pada wilayah yang beriklim kering). Pengelolaan lahan kering untuk pengembangan tanaman pertanian secara kuantitatif memiliki potensi yang sangat besa, tetapi secara kualitatif dihadapkan pada permasalahan majemuk baik dari segi teknis maupun sosial ekonomi. Sifat/karakteristik dan luasan lahan yang ada mengakibatkan pengelolaan usaha tani lahan kering menjadi sangat beragam pada setiap wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola tanam jagung dan kacang tanah (atau kedele) dan ubikayu, diikuti jagung dan kedele (atau kacang hijau), dan diikuti kacang tunggak lebih efisien dalam memanfaatkan sumberdaya pertanian dan lebih produktif Dalam rangka penganekaragaman hasil usaha taninya petani disarankan menerapkan sistem tumpang sari tanaman jarak pagar dengan tanaman pangan semusim lain seperti jagung, kacang tanah, kedele, atau padi gogo. Dari segi konservasi tanah, tumpang sari membuat penutupan tanah oleh daun lebih sempurna sehingga mengurangi terjadinya erosi. Tumpang sari akan memperpendek musim paceklik, karena selama belum dapat memetik hasil secara optimal, petani mendapatkan hasil dari tanaman selanya. Tanaman tumpang sari dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan makan rumah tangga hariannya. Secara teknis budidaya sistem tumpang sari ini akan mengoptimalkan faktor produksi (lahan dan sinar matahari). Ruslia Atmaja Sumber : https://library.uns.ac.id/