Kesadaran akan bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian menjadikan pertanian organik menarik perhatian baik di tingkat produsen maupun konsumen. Kebanyakan konsumen akan memilih bahan pangan yang ramah bagi kesehatan dan ramah lingkungan sehingga mendorong meningkatnya permintaan produk organik. Pola hidup sehat yang akrab lingkungan sudah menjadi trend baru dan telah melembaga secara international yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food savety atributtes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional atributtes) dan ramah lingkungan (eco-labelling atributtes). Indonesia mempunyai potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komperatif, antara lain 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati, dan lain-lain. Menyadari peluang tersebut, maka salah satu agenda pemerintah dalam Nawacita adalah mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik, dengan sub agenda peningkatan kedaulatan pangan. Berdasarkan hal tersebut maka Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah melakukan kegiatan yang disebut Optimasi Lahan Sawah Menuju Organik Tahun 2018.Optimasi lahan adalah proses mengembalikan kesuburan lahan pertanian sehingga dapat memberikan hasil yang tinggi, berkelanjutan, mudah dan murah serta dapat dilakukan oleh petani. Tujuan optimasi lahan sawah menuju organik adalah untuk memperbaiki tingkat kesuburan lahan, meningkatkan pH tanah secara khusus melalui perbaikan kualitas/kesuburan lahan dengan asupan amelioran, bahan organik sesuai spesifik lokasi.Budidaya padi sawah menuju organik adalah cara budidaya padi di lahan sawah yang ramah lingkungan, dimulai dari proses olah tanah dan penggunaan sarana produksi pertanian yang bersifat organik.Kegiatan optimasi lahan sawah menuju organik pada hakikatnya adalah untuk mengubah kebiasaan petani/kelompok tani secara perlahan beralih dari kebiasaan penggunaan bahan kimia (seperti penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia ke penggunaan pupuk organik dan pestisida organik) dan penerapan sistem pola tanam (SPT).Kegiatan optimasi lahan sawah menuju organik di Desa Tanjung Jawa dilaksanakan pada MT. OKMAR 2018-2019, dilaksanakan oleh 13 Kelompok Tani dengan luas lahan sebanyak 200 Ha.Adapun bantuan pemerintah berupa sarana produksi pertanian yang dibagikan kepada kelompok tani ada 7 (Tujuh) macam antara lain : pupuk organik padat, dekomposer, pembenah tanah, pupuk organik cair, fungisida dan bakterisida organik,insektisida organik dan rodentisida organik.Pendampingan, pengawasan serta pengendalian kegiatan optimasi lahan menuju organik akan dilakukan oleh petugas/PPL, tim Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kab. Barito Selatan dan oleh tim Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Prov. Kalimantan Tengah. Penulis : IKE HARIANA, A.Md (PPL WKPP Tanjung Jawa)