Loading...

Pacu Produksi Kedelai dengan Pupuk Organik

Pacu Produksi Kedelai dengan Pupuk Organik
Kedelai Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, sebab produksi kedelai domestik hanya sebesar 982.598 ton (BPS 2018). Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia perlu melakukan impor sebanyak 2,6 juta ton. Bahkan Kementerian merilis bahwa produksi kedelai pada bulan Oktober 2019 adalah terendah tercatat hanya 480 ribu ton, sedangkan target produksi yang ditetapkan sebesar 2,8 juta ton. Dari capaian tersebut produksi kedelai hanya 16,4% dari terget. Padahal potensi kedelai di Indonesia masih dapat ditingkatkan sampai 2,5 ton/ha melalui pemanfaatan teknologi maju dan pemeliharaan yang intensif. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi untuk meningkatkan produksi kedelai, misalnya penggunaan pupuk secara efisien, waktu tanam yang tepat, daya dukung lahan yang sesuai, serta penggunaan varietas unggul yang memiliki daya adaptasi yang tinggi/luas pada berbagai agroekosistem. Namun masih ada masalah lainnya yang dihadapi dalam meningkatkan produktivitas kedelai saat ini, adalah kurangnya daya dukung lahan yang produktif. Hal ini disebabkan terjadinya degradasi serta kerusakan lahan akibat pola pertanian konvensional saat ini yang lebih mengutamakan penggunaan input tinggi seperti pupuk anorganik dan pestisida. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas dan kualitas kedelai harus diupayakan dengan cara-cara yang lebih baik, salah satunya penggunaan pupuk organik yang tepat. Sumber pupuk organik dapat berasal dari berbagai biomas atau bahan organik, seperti sisa tanaman atau hewan. Setiap bahan organik memiliki kandungan atau komposisi unsur hara yang berbeda-beda. Umumnya sumber bahan organik yang baik adalah pupuk kandang serta kompos yang diolah dari sisa-sisa tanaman leguminosa, seperti lamtorogung dll. Dosis pupuk organik direkomendasikan untuk kedelai adalah 20-30 ton/ha. Pemberian pupuk organik yang tepat dapat memperbaiki kualitas tanah, tersedianya air yang optimal sehingga memperlancar serapan hara tanaman serta merangsang pertumbuhan akar yang dapat memberi kenyamanan bagi pertumbuhan tanaman untuk berproduksi. Pemberian pupuk organik yang berlebihan menyebabkan tanah menjadi asam, sebaliknya bila diberikan terlalu sedikit pengaruhnya pada tanaman tidak akan nyata. Oleh karena itu, diperlukan pemberian pupuk organik dalam jumlah yang tepat agar diperoleh hasil yang optimum. Pengaruh pupuk organik terhadap jumlah polong Dosis pupuk organik berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah total polong per tanaman dan jumlah polong bernas. Pemberian pupuk organik sebanyak 6,5 ton/ha dapat menghasilkan sebanyak 39,87 polong/tanaman dengan polong bernas sebanyak 33,00 polong. Sedangkan pemberian pupuk organik 12,5 ton/ha dapat menghasilkan polong sebanyak 43,72 polong/tanaman dengan polong yang bernas sebanyak 37,30 polong bernas/tanaman. Pengaruh dosis pupuk terhadap potensi hasil Hasil pengujian menunjukkan bahwa dosis pupuk organik yang tepat berpengaruh nyata terhadap potensi hasil kedelai. Pemberian pupuk dengan dosis sebanyak 5,6 ton/ha potensi hasil dapat diperoleh sebanyak 1,71 ton/ha. Sedangkan pemberian dosis pupuk organik sebanyak 12,5 ton dapat berpotensi hasil sebanyak 2,08 ton/ha Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh dosis pupuk organik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai yang terbaik dijumpai pada dosis pupuk organik 12,5 ton/ha. Hal ini menunjukkan bahwa pada dosis tersebut telah menciptakan kondisi tanah yang lebih baik, seperti tersedia unsur hara, oksigen, dan air yang dibutuhkan oleh tanaman kedelai dalam jumlah optimal dan seimbang, sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman meningkat secara nyata. Dengan demikian apabila ketersediaan unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman berada dalam keadaan cukup, maka hasil metabolismenya akan membentuk protein, enzim, hormon dan karbohidrat, sehingga pembesaran, perpanjangan, dan pembelahan sel akan berlangsung dengan cepat. Unsur hara yang berasal dari pupuk organik sebagian kecil dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman, namun sebagian lagi terurai dalam jangka waktu yang lama (Novizan (2005). Ruslia Atmaja Sumber : http://jurnal.unsyiah.ac.id/