Sebelum menggunakan OM 5240 dan OM 1490, Hambali memakai varietas ciherang yang secara turun-temurun ditanam keluarga sejak 2003. Awalnya produksi ciherang cukup tinggi, saat pertama kali ditanam 6-7 ton/ha. Sayang, produksi kian merosot hingga 20-30% karena kekurangan air akibat kemarau berkepanjangan. Bahkan pada 2007, ketika kekeringan melanda seluruh areal pesawahan di tanahair, Hambali hanya memanen gabah 10% dari biasanya.Sejak itulah ia menanam galur OM 5240 dan OM 1490. Berdasarkan informasi yang diperoleh Hambali, kedua varietas itu berproduktivitas tinggi dan adaptif terhadap kekeringan. Satu lagi keunggulannya, keduanya berumur sangat genjah. "Kalau bisa dipanen lebih cepat, setahun bisa tanam 2-3 kali," kata Hambali.Sangat genjahSebetulnya ciherang juga termasuk padi genjah karena berumur kurang dari 126 hari. Sebab berdasarkan pengelompokan yang dilakukan Prof Dr Ir Mugiono, periset Puslitbang Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN), varietas padi dikatakan genjah bila berumur 105-125 hari setelah sebar (HSS). Empat kelompok lainnya padi dalam (151 HSS), padi sedang (126-150 HSS), padi sangat genjah (90-104 HSS), dan padi ultragenjah (kurang dari 90 HSS).OM 5240 dan OM 1490 jauh lebih genjah, hanya dalam 95 hari setelah sebar pada ketinggian 0-600 m di atas permukaan laut sudah bisa dipanen. Galur OM 5240 dan OM 1490 didapat setelah para peneliti bekerja keras menyilangnyilangkan plasma nutfah padi di berbagai belahan dunia. "Menciptakan galur sangat genjah tidak gampang. Salah satu faktornya adalah ketersediaan induk unggul," kata Mugiono.OM 5240 diperoleh dari hasil silangan IR 18348-36-3-3 (IR 64) dan busok yang diintroduksi dari Vietnam pada 2005. IR 64 unggul karena memiliki daya adaptasi luas dengan mutu gabah baik. Sedangkan busok, tahan serangan tungro. Hasilnya diproleh galur padi dengan produksi 6,25 ton gabah/ha (potensi hasil 7,81 ton/ha), nasi pulen, tahan penyakit blas strain 033 dan agak tahan penyakit hawar daun bakteri strain III, IV, dan VIII, serta adaptif di lahan kering.Sementara OM 1490 yang berasal dari silangan IR 44592-62-1-3 dan OM 606 mempunyai keunggulan produktivitas tinggi, 6,59 ton gabah kering giling per hektar (potensi hasil 8,24 ton/ha), tahan penyakit blas ras dan wereng batang cokelat biotipe 1,2, dan 3. Sayang, ia agak rentan hawar bakteri strain III, IV dan VII.Uji multilokasiSelain 2 galur di atas masih ada 4 varietas tahan kekeringan dan sangat genjah yang dikeluarkan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) yakni BP 1352-IG-KN, BP 1178-21-26, BP 1550-IG-21, dan OM 2395. Produktivitas keempatnya rata-rata 6,21-6,52 ton gabah kering giling per hektar karena memang berasal dari induk-induk unggul. Galur BP 1178-2F-21, misalnya, tetuanya adalah cisadane dan IR 54742-1-19-11-8 yang memang berproduksi tinggi. Mereka tahan serangan hawar daun bakteri strain III. Disukai konsumen karena tekstur nasinya pulen.Keunggulan galur-galur unggul baru itu tak hanya dirasakan Hambali, tapi juga seluruh petani di plosok tanahair. Sebab semuanya sudah diuji pada 2008-2009 di 20 lokasi seperti Jawa Barat, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, sampai Kalimantan Selatan. "Pemilihan lokasi berdasarkan perbedaan jenis tanah dan hamapenyakit," ucap Dr Aan Darajat, peneliti utama BB Padi. Makanya kehadiran para dewi sri yang andal di lahan kering itu menjadi penolong petani. Hambali tak putus mengucap syukur atas kedatangan OM 5240 dan OM 1490 yang jelas-jelas melambungkan keuntungannya. Sumber: Faiz Yajri, Lastioro Anmi Tambunan. 2010, Padi Genjah 85 Hari Panen. http://www.trubus-online.co.id/padi-genjah-85-hari-panen/Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian