Pakan yang cukup baik dari sisi kuantitas maupun kualitas merupakan salah satu faktor terpenting dalam menentukan keberhasilan usaha peternakan. Untuk itu, pakan harus selalu terjamin ketersediaannya serta mendapat perhatian serius dalam pengelolaannya. Pakan dapat diperoleh dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber. Sumber tersebut bisa dengan membeli yang sudah jadi dan siap pakai dari toko-toko yang menyediakan pakan ternak. Akan tetapi bisa juga dengan mengolah sendiri menggunakan bahan baku utama atau dari bahan limbah yang sudah tidak terpakai. Salah satu diantara limbah yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak adalah bulu ayam. Hingga saat ini bulu ayam sebagai hasil sampingan dari pemotongan ayam belum banyak dimanfaatkan. Bahkan sebagian besar dibuang begitu saja di sekitar tempat pemotongan ayam sehingga menimbulkan pencemaran di lingkungan sekitarnya. Padahal, potensi bulu ayam sebagai salah satu komponen bahan pakan sangat dimungkinkan, mengingat perkembangan industri perunggasan di Indonesia berkembang pesat. Berdasarkan penelitian, dilaporkan bahwa dari hasil pemotongan setiap ekor ternak unggas akan diperoleh bulu sebanyak +/- 6 % dari bobot hidup ayam potong. Melihat potensi populasi unggas di Indonesia, baik ayam pedaging, ayam petelur serta ayam buras, diperkirakan potensi bulu ayam yang dihasilkan sebesar hampir seratus ribu ton setiap tahunnya. Dalam rangka mengembangkan bahan pakan lokal, mengingat bulu ayam mempunyai kandungan protein sangat tinggi (80%) sehingga berpeluang untuk bisa diolah dan digunakan sebagai bahan pakan dalam bentuk tepung bulu ayam. Tepung bulu yang merupakan produk olahan bulu ayam dan termasuk salah satu bahan pakan sumber protein, yang selama ini masih diimpor setiap tahunnya seperti bahan pakan lainnya. Dengan peningkatan produksi ayam, maka diperkirakan potensi penggunaan pakan dari tepung bulu juga akan terus meningkat setiap tahunnya. Kualitas tepung bulu. Kandungan protein tepung bulu cukup tinggi yaitu sebesar 75% - 80% dengan nilai kecernaan protein 32 % - 75 %. Bila proses pembuatan dilakukan secara baik, maka kecernaan protein kasarnya dapat maksimum (75 %), lemak 5%, serat kasar 4%. Dari segi fisik, warna tepung bulu dipengaruhi bahan bakunya. Jika bahan baku berasal dari bulu yang warnanya putih maka tepung bulu berwarna coklat muda cerah. Tetapi jika dihasilkan dari warna bulu yang berwarna gelap maka diperolah tepung bulu yang berwarna coklat gelap. Tepung bulu yang baik berbau segar, tidak busuk atau gosong. Bentuk tepung bulu berupa serbuk mudah dicampur dengan bahan baku lain untuk menghasilkan ransum. Tepung bulu mengandung energi yang lebih tinggi dibanding dengan Meat Bone Meal atau tepung ikan lokal. Oleh karena itu tepung bulu bisa merupakan sumber energi untuk unggas. Teknologi pengolahan tepung bulu. Pengolahan tepung bulu ayam dapat dilakukan dengan empat cara yaitu : perlakuan fisik dengan tekanan dan temperatur suhu tinggi, perlakuan kimia dengan asam dan basa (NaOH, HCL), perlakuan enzim, dan fermentasi dengan mikroorganisme. Dalam pengolahan tepung bulu perlu dilakukan teknik hidrolisis pada bulu ayam karena bulu ayam yang belum diolah tidak bisa dicerna ternak, mengingat protein bulu mengandung keratin yang ikatan asam aminonya sangat kuat sehingga enzim pencernaan tidak mampu mencerna. Bulu yang baru dikumpulkan biasanya mengandung kadar air yang tinggi (70%). Oleh karena itu, sebelum bulu ayam diolah perlu dilakukan pengurangan kadar air dengan alat dewatering atau diperas sehingga mempunyai kadar air sekitar 50 %. Pengolahan bulu dengan pemanasan tekanan tinggi/ suhu tinggi, bulu yang basah dicincang atau dipotong kemudian dihidrolisis dengan pemanasan suhu tinggi atau menggunakan pemanas uap (steam) bertekanan tinggi untuk menghasilkan tepung bulu terhidrolisa. Selanjutnya, bulu dimasak kemudian dikeringkan dengan disc drying menggunakan uap atau flash drying (api langsung) dan digiling, kemudian dimasukkan dalam karung plastik untuk dijual. Untuk memperbaiki proses hidrolisis, sebelum dipanaskan beberapa bahan kimia ditambahkan kaustik soda ( NaOH) 0,4 % dari total berat bulu. Tujuannya, agar dicapai suasana basa. Serta, penambahan Natrium Sulfit atau Dimetil Sulfoksida untuk membantu memecahkan ikat disulfide dalam bulu. Selain itu bisa juga ditambahkan 5 % air kapur sirih untuk mengurangi bau dan meningkatkan pH menjadi 8,5 – 9,0. Pengolahan bulu juga bisa dilakukan dengan penambahan enzim keratinase atau protease sebelum dilakukan pemanasan agar keratinase bisa menghidrolisis ikatan asam amino terutama ikatan disulfide sehingga dapat dicerna ternak. Jika ingin diperoleh tepung bulu yang kering dengan kadar air 10 % dengan kecernaan yang maksimal maka bubur bulu dimasak dengan uap/ stem untuk menghentikan kerja enzim dan dilanjutkan dengan pengeringan. Penggunaan dalam pakan. Tepung bulu sebenarnya kurang disukai (kurang palatable) oleh ternak, sehingga penggunaannya dalam ransum harus dibatasi. Pemakaian yang berlebihan akan mengurangi konsumsi ransum, sehingga mengkibatkan kandungan asam amino tidak berubah. Pemakaian dalam ransum unggas dan babi disarankan maksimum 5 – 7 %. Untuk broiler (ayam potong ) disarankan < 5%, untuk ayam petelur 7%. Di lapangan, pabrik pakan hanya menggunakan tepung bulu sekitar 1- 2 % saja dalam ransum pakan komplit. Untuk ternak ruminansia, tepung bisa digunakan sebagai sumber nitrogen dan juga energi. Apabila dicampur dengan tetes tebu bisa dipakai sebagai pakan supplemen cair dengan kandungan protein mencapai > 70%. Tepung bulu bisa diberikan kepada ternak ruminansia sebanyak 6 – 8 % didalam ransum. Prospek ekonomi tepung bulu. Mengingat ketersediaan limbah bulu ayam akan selalu ada secara terus menerus dan merupakan salah satu bahan pakan ternak alternatif yang mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam mengurangi impor, maka tidak ada salahnya dicoba untuk mengembangkan usaha pengolahan tepung bulu ini. Tinggal menyediakan dana investasi untuk mesin pemasak bertekanan tinggi, mesin giling, serta biaya operasional seperti biaya bahan baku, pengangkutan, biaya listrik dan lain-lain. Keuntungan usaha tepung bulu ini sudah di depan mata karena permintaan terhadap pakan ternak berkualitas akan terus meningkat seiring dengan peningkatan permintaan pasar terhadap pasokan daging ternak itu sendiri. Disamping itu, secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan pakan impor. (Inang Sariati)