Salah satu faktor penting yang paling mempengaruhi produktivitas ternak adalah ketersediaan pakan yang cukup, baik secara kualitas maupun kuantitas. Pakan dasar ternak ruminansia adalah hijauan. Namun, saat ini ketersediaan lahan untuk penanaman pakan ternak semakin terbatas. Terlebih lagi di daerah perkotaan. Lahan padang rumput sudah banyak dikonversi untuk dijadikan perumahan atau tujuan lainnya, sehingga untuk pakan ternak harus dicarikan alternatif pengganti hijauan. Salah satu alternatif tersebut adalah limbah sayuran yang banyak tersedia di pasar-pasar. Limbah ini dapat dibuat dalam bentuk wafer sebagai alternatif pengganti hijauan. Pakan ternak berbentuk Wafer (roti sapi), sebagai salah satu model pengolahan pakan limbah pertanian, merupakan pakan alternatif pengganti hijauan pakan ternak pada saat musim kemarau. Pakan ternak jenis ini, dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pakan dan agar disukai oleh ternak (palatabel). Bahan baku pembuatannya tidak terlalu sulit yaitu dengan memanfaatkan limbah sayuran yang banyak terdapat di lingkungan kita. Misalnya saja : wortel, kubis, kentang, klobot jagung, kecambah kacang ijo, daun bawang, sawi hijau, daun seledri, daun kembang kol, bayam, kangkung, daun singkong dan lain-lain. Mengapa harus menggunakan limbah sayuran ? Sebab, limbah merupakan hasil samping atau sisa-sisa tanaman sayuran yang tidak digunakan lagi oleh manusia dan mudah didapat serta murah harganya, namun mengandung banyak bahan organik. Hanya saja, sayangnya limbah sayuran ini merupakan bahan pakan yang mudah busuk dan ketersediannya terkadang berfluktuasi. Untuk itulah, perlu teknologi pengolahan limbah sayuran ini agar menjadi pakan ternak yang berkualitas, mudah disajikan dan disukai ternak serta tahan disimpan dalam waktu lama. Dengan bentuknya yang padat dan ringkas, wafer memiliki banyak keunggulan. Beberapa diantaranya adalah : 1) memudahkan dalam penanganan, pengawetan, penyimpanan, transportasi, dan penanganan hijauan lainnya; 2) memberikan nilai tambah karena memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan; 3) menggunakan teknologi sederhana dengan energi yang relatif rendah dan 4) menghemat biaya produksi sebesar 10 %. Pembuatan “wafer pakan” bisa dilakukan menggunakan mesin pengepres dengan bantuan panas dan tekanan. Komposisi zat makanan dibuat menyerupai komposisi hijauan pakan ternak atau pakan konsentrat sehingga disamping bergizi juga menarik dapat disukai ternak. Sedangkan cara pengolahan wafer pakan limbah sayuran sebagai berikut : Pisahkan jenis sayuran, kemudian lakukan pencacahan dengan ukuran 2-3 cm (menggunakan chopper atau dipotong secara manual) Keringkan dengan alat pengering atau dijemur di sinar matahari selama 5 – 10 hari, hingga kadar airnya mencapai 15 – 17 %. Pada waktu pengeringan bahan dibolak balik agar pengeringannya merata. Limbah sayuran yang telah kering digiling kasar. Lakukan pencampuran sesuai dengan formulasi yang telah ditentukan (misalnya, campuran klobot jagung 65%, kecambah toge 25% dan daun brokoli 10%) disertai dengan penambahan molasses 5% hingga homogen. Bahan yang telah dicampur sebanyak 400 gram dimasukkan dalam cetakan dengan ukuran 20 x 20 x 1,5 cm. Setelah itu lakukan pengepresan selama 10 menit dengan suhu 120 o Biarkan lembaran wafer berada pada udara terbuka (suhu kamar) selama 24 jam, sehingga menjadi wafer pakan yang siap disajikan kepada ternak. Pemberian wafer pakan kepada ternak juga harus diperhatikan. Jangan dilakukan secara terus-menerus akan tetapi secara bergantian atau berselang-seling dengan pemberian konsentrat. Misalnya, apabila pemberian wafer pada pagi hari jam 06.00 pagi, maka konsentrat pada siang harinya sekitar pukul 12.00. Mengingat dari hasil percobaan, kandungan nutrien pakan antara wafer, konsentrat dan rumput lapang tidak berbeda jauh, maka perbandingan pemberian wafer pakan dengan konsentrat harus seimbang. Apabila pemberian konsentrat sebanyak 450 gram, maka wafer pakan 500 gram. (Inang Sariati) Sumber Informasi: dari berbagai sumber