Loading...

Panen dan Pasca Panen Jagung dengan system tanam TOT

Panen dan Pasca Panen Jagung dengan system tanam TOT
Penanaman jagung setelah panen padi pada lahan sawah tadah hujan, sering mengalami gagal panen akibat kekeringan. Upaya untuk mengatasi resiko kegagalan tersebut sekaligus untuk meningkatkan efisiensi usaha tani pada tanaman tersebut adalah dengan cara tanam tanpa olah tanah atau yang sering Ditinjau dari segi keuntungan yang dapat diperoleh dengan cara tanam tanpa oleh tanah atau TOT adalah: menghemat biaya pengolahan; mepersingkat masa sela antara tanaman sebelumnya dengan waktu tanam variatas berikutnya; mengurangi resiko kegagalan akibat kekeringan; mengurangi biaya pengairan; dan mempertahankan porositas struktur tanah. disebut TOT. Untuk memperoleh hasil yang tinggi, variatas yang ditanam merupakan salah satu faktor penentu. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas jagung adalah pengenalan variatas unggul yang bermutu tinggi di setiap daerah, khususnya pada sentral pengembangan jagung. Salah satu variatas jagung yang bermutu protein tinggi adalah variatas Srikandi Kuning dan Putih. Variatas ini dapat beradaptasi dengan baik pada daerah yang memiliki tipografi yang serupa. Dapat dipanen pada umur 105 sampai 110 hari dengan potensi hasil 8 ton per hektar. Pada umur tersebut jagung dapat dipanen untuk konsumsi jagung muda yang digemari di desa maupun di perkotaan. Sehingga kadang kala harga jagung muda di pasaran lebih tinggi daripada jagung kering. Hasil jagung dengan teknologi TOT lebih baik dan produksi lebih tinggi dibanding olah tanah sempurna(OTS) produksi dengan system TOT dengan varietas Bima-2 produksi (t/ha) 13,56 varietas Bima 3 12,83, varietas Lamuru 7,96, varietas Sukmaraga 8,53 dan varietas Gumarang 7,96 sedangkan dengan system OTS varietas Bima-2 produksi (t/ha) 13,20 varietas Bima 3 12,00, varietas Lamuru 7,80, varietas Sukmaraga 8,10 dan varietas Gumarang 7,2. Panen dilakukan apabila tanaman jagung memperlihatkan tanda - tanda : 1. Kelobot sudah kering 2. Umur panen sudah sampai (sesuai deskripsi) 3. Apabila sudah terbentuk lapisan hitam pada dasar biji 4. Sebagian daun berwarna kuning dan agak kering (Gumarang) kecuali varieas Bima (1-5) daunnya tetap hijau walau kelobot sudah tua (kering). Pengembangan jagung varietas Bima (1-5) sangat cocok diintegrasikan dengan ternak ruminansia besar (sapi atau kerbau) karena biomasnya dapat dibuat pakan ternak. 5. Bila sudah terbentuk black layer (lapisan hitam) pada biji, bisa dilakukan pemotongan batang diatas tongkol. Apabila belum terbentuk lapisan hitam pada dasar biji, maka jagung belum masak fisiologis. Jika dilakukan pemanenan pada keadaan tersebut, maka biji tidak bernas dan bobotnya ringan. 6. Pemangkasan biomas diatas tongkol dan panen. Pemangkasan batang (biomas) dibagian atas tongkol bertujuan untuk : (1) mempercepat proses pengeringan jagung dibatang sebelum panen, (2) agar biomas diatas tongkol dapat dijadikan pakan, (3) mempermudah pelaksanaan panen jagung. 7. Penjemuran hasil panen dan pemupukan untuk prosessing Penjemuran hasil panenan segera dilakukan untuk menghindari tumbuhnya jamur pada biji jagung. Penjemuran dilakukan 3-4 hari untuk menurunkan kadar air biji sebelum diprosessing. Biji yang diprosessing dengan kadar air tinggi mudah rusak (biji pecak atau lapisan biji terkelupas). Penjemuran biji jagung tergantung peruntukannya. Apabila peruntukannya dikonsumsi atau dijual, maka penjemuran cukup sampai kadar air 14%, sedang apabila peruntukannya benih, maka kadar air harus diturunkan 10 - 12%. Penanganan panen dan pasca panen jagung tergantung tujuan pemanfaatannya. Panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada musim hujan karena berpengaruh terhadap pemasakan biji dan pengeringan hasil. Jagug untuk konsumsi muda dapat dipanen sekitar umur 68-70 hari. Sementara panen pipilan kering dilakukan pada umur 80 - 100 hari setelah tanam. Jagung untuk pipilan kering dipanen bila klobot telah mongering, biji mengkilap, dan terlihat ada lapisan hitam (black layer) pada pangkal yang menempel pada tongkol biji. Kadar air jagung siap panen umumnya berkisar 30 -. 40 %. Jika dipanen pada musim kemarau jagung untuk pipiln dapat dibiarkan kering dilapang selama 1 - 4 minggu atau setelah muncul lapisan hitam dan kadar airnya menjadi sekitar 20% asalkan tidak turun hujan. Setelah dipanen, jagung dapat langsung di pipil secara manual atau dengan alat/mesin pemipil. Jagung pipilan dalam waktu 1 - 2 hari harus segera dikeringkan. Pengeringan jagung untuk pipilan kering sebaiknya dua kali. Pertama, tongkol tanpa klobot dikeringkan hingga kadar airnya 18%. Tujuannya untuk mempermudah pemiplan, Kedua, pengerimgan jagung pipilan sampai kadar airnya sebesar 14% jagung dapat disimpan dalam bentuk tongkol tanpa klobot atau dalam bentuk biji pipilan. Penyimpanan jagung dengan kadar air diatas 14% rawan terkena serangan cendawan Aspergilus sp. Semakin lama disimpan, semakin besar kemungkinan jagung terserang cendawan Aspergilus sp. Sundari, S.ST, Email: sunburase@yahoo.com Sumber Bacaan: ‘- http://.blogspot.com/2013/03/budidaya-tanaman-jagung ‘- Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul..Ir. Purwono, MS.dkk.2011