Kedelai dapat tumbuh disemua jenis tanah, namun agar tanaman kedelai dapat tumbuh optimal diperlukan lahan yang subur, gembur, dalam dengan draenasi bagus. Produksi dan produktifitas kedelai dipengaruhi oleh banyak faktor seperti iklim, jenis tanah, varietas benih, teknologi budidaya meliputi pemupukan, pengendalian OPT yang tak kalah pentingnya adalah perlakukan saat panen dan penanganan pasca panennya. Untuk mendapatkan produksi yang maksima, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. pada saat panen dan penanganan pasca panen, yaitu penentuan waktu panen, cara panen yang benar dan penanganan pasca panen. Penentuan waktu panen Waktu panen kedelai merupakan salah satu tahapan yang penting, karena sangat berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas hasil panennya. Penetapan waktu panen kedelai dilakukan pada tingkat kemasakan kedelai yang tepat. Jika panen dilakukan terlalu awal awal menyebabkan jumlah butir muda tinggi sehingga kualitas biji dan daya simpannya rendah. Sebaliknya jika tanaman lambat dipanen menyebabkan buah tua mengering dan kulit polongnya retak, sehingga biji kedelai lepas berhamburan yang berakibat terhadap kehilangan hasil (loses) yang tinggi. Ciri tanaman kedelai yang siap panen antara lain: 1) bila sebagian besar pertanaman daunnya berwarna kuning lalu gugur; 2) buah berwarna kuning kecoklatan dan retak; 3) polong terlihat tua; 4) batang berwarna kuning agak coklat dan gundul;5) kedelai siap panen berumur 75-110 hari (tergantung varietasnya) sedang yang dipakai untuk benih dipanen pada umur 100-110 hari; 6) kadar air masih tinggi (lebih dari 30%) atau saat kadar air rendah (17-20%). Kegiatan panen dan pasca panen akan mempengaruhi kadar air pada kedelai. Panen yang dilakukan pada kadar air tinggi susut benihnya lebih besar (15,5%), untuk itu panen sebaiknya dilakukan pada saat kadar air kedelai rendah (17-20%). Kondisi ini akan mendapatkan beberapa keuntungan antara lain rantai kegiatan pasca panen lebih pendek sehingga menghemat waktu, hemat biaya dan tenaga serta susut pasca panennya lebih rendah. Untuk itu jumlah sebaiknya panen kedelai dilakukan pada saat kemarau agar hasil panen dapat segera dijemur.. Cara panen yang tepat Kacang kedelai dipanen dengan cara mencabut atau memotong tanaman. Memanen dengan cara mencabut dilakukan dengan memegang batang pokok dengan posisi tangan di bawah ranting dan cabang berbuah. Karena tanaman kedelai tua mudah rontok, maka tanaman dicabut dengan hati-hati. Pencabutan tanaman lebih mudah bila kondisi tanah ringan dan berpasir. Cara panen dengan mencabut tidak anjurkan karena bintil akar yang mengandung rizhobium ikut terbuang. Pada tanah yang keras panen dilakukan dengan cara memotong. Keuntungan dengan cara pemotongan antara lain lebih cepat dan menjaga kesuburan tanah karena bintil akar yang mengandung rizhobium tidak terbuang, Alat yang digunakan untuk memotong adalah sabit tajam atau mesin permanen, dengan alat potong yang tajam selain mempercepat pekerjaan juga mengurangi jumlah polong yang rontok. Sebaiknya pemanenan dilakukan secara bertahap karena tingkat kemasakan buah tidak serempak. Penanganan pasca panen Penanganan pasca panen kedelai yang baik dimaksudkan untuk mencegah tingginya angka kehilangan hasil (loses) yang besar, meningkatkan daya simpan, meningkatkan mutu dan nilai tambah dan pendapatan petani. Adapun penanganan pasca panen kedelai yang baik meliputi kegiatan pengeringan, pembijian dan penyimpanan. a. Pengeringan diawali setelah proses panen kedelai selesai, kemudian segera dijemur lantai jemur, diatas tikar, terpal plastik, atau anyaman bambu, Bila denganterpal palstik sebaiknya dipilih alas warna gelap atau hitam untuk mempercepat pengeringan. Penjemuran dengan sinar matahari penuh dilakukan selama 3-7 hari. Agar keringnya merata, selama penjemuran dilakukan pembalikan berulangkali. Dengan pembalikan akan memudahkan polong kedelai lepas sehingga mempermudah proses pengeluaran polong. Brangkasan kedelaii yang baru dipanen jangan ditumpuk terutama pada saat musim hujan. Pada saat musim hujan brangkasan kedelai bisa ditumpuk di para-para yang dibuat bertingkat dan dari bawah dialirkan udara panas dengan cara membakar sekam dengan tujuan menurunkan kadar air hingga kadar air mencapai kurang lebih 18%. b. Pembijian, untuk memisahkan biji dari kulit polong, dilakukan dengan memukul tumpukan brangkasan dengan kayu atau pemukulan dilakukan pada brangkasan yang dimasukkan dalam karung terlebih dahulu. Cara lain perontokan bisa dilakukan dengan menggunakan alat perontok padi (perontok mekanis). Keuntungan dengan alat ini antara lain dapat menurunkan loses sebesar 6% bila dibandingkan dengan cara manual dan membutuhkan waktu lebih cepat (400 rpm). Setelah biji terpisah dari brangkasan, kemudian kedelai ditampi agar biji terpisah dari sisa brangkasan atau kotoran lain. Kemudian pisahkan biji kedelai yang jelek/ keriput/busuk. Proses pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pembersih yang merupakan kombinasi antara ayakan dan blower. c. Penyimpanan, kedelai yang sudah bersih, kemudian dijemur hingga kadar air mencapai 9-11%, kemudian disimpan dikarung goni/plastik yang bersih yang bebas dari hama dan penyakit dan disimpan ditempat yang kering. Karung berisi kedelai tersebut ditumpuk dengan alas kayu agar tidak langsung menyentuh lantai atau tanah. Karung disimpan di tempat yang teduh, kering dan bebas hama dan penyakit. Khusus biji yang akan dijadikan benih, biji harus dipilih dari tanaman yang sehat, dijemur sampai kadar air 10-15%, disimpan ditempat terpisah dengan kedelai yang bukan untuk benih, proses penyimpanan sebaiknya dicampur dengan abu jerami dan disimpan dalam kaleng dan dijemurtiap bulan. Dengan cara ini benih kedelai dapat disimpan selama empat bulan bahkan sampai usia setahun. . Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber :1) Tingkatkan Mutu dan Potensi Kedelai, 2013, Kementerian Pertanian, Ditjen Tanaman Pangan, Direktorat Budiadaya Aneka Kacang dan Umbi; 2) Dihimpun dari berbagai sumber. Sumber gambar: https://www.google.com/search...............