Panen dan Pasca Panen Panen Panen dapat dilakukan setelah tanaman memasuki masa generatif (berbunga), karena pada saat tersebut metabolisme metabolit sekunder ada dalam kondisi puncak, sehingga kandungan zat berkhasiat ada dalam kondisi yang maksimal. Metabolit sekunder tersebut yang mempunyai khasiat obat. Masa generatif tanaman purwoceng dimulai pada umur 6 -12 BST. Panen sebaiknya dilakukan pada musim kemarau atau pada saat tidak banyak turun hujan. Pada musim kemarau, kandungan metabolit sekunder di dalam tanaman akan lebih tinggi dibanding dengan waktu panen yang dilakukan pada musim hujan dan banyak air. Dengan demikian pada saat panen diharapkan mutu (kandungan zat berkhasiat) simplisia tanaman dalan kadar tertinggi. Panen tanaman dilakukan dengan mengangkat seluruh bagian tanaman termasuk akar, dengan cara menggali dengan menggunakan alat garpu, cangkul atau koret. akar dijaga supaya tidak putus, sehingga semua bagian tanaman dapat terangkat. Sewaktu panen keberadaan gulma di sekitar tanaman perlu diperhatikan agar tidak ikut terbawa. Pemanenan purwoceng yang dibudidayakan dalam pot/polibag. Pemanenan purwoceng dalam pot/polibag sangatlah mudah sangat berbeda karena pemanenan dalam pot/polibag tidak menggunakan alat yang tajam dan keras adapu cara memanen yaitu dengan menggunakan kocoran air dalam selang yaitu; Purwoceng yang sudah siap penen dan cukup umur kita pilih dan kita angkat tempat yang telah biasa untuk memanen purwaceng. Tanaman yang siap panen kita siram hingga kapasitas lapang lalu kita diamkan selama 2-3 jam setelah media tanam sudah gembur dan mudah lepas. Tanaman purwoceng kita pegang tangkalnya lalu dilakukan pencucian media dengan penuh hati-hati, usahakan kocoran air jangan terlalu deras, yang bertujuan agar akar dalam media tanam tidak terputus atau tidak rusak. Pasca panen setelah tanaman dipanen, simplisia (herba) yang terdiri dari akar, batang dan daun dicuci dengan air bersih, dibilas 2 sampai 3 kali, dan dipisahkan atau buang seluruh kotoran dan campuran tanaman lain. Herba yang telah dicuci dan dibilas ditiriskan. Herba yang telah ditiriskan, dipotong-potong dengan panjang potongan 1 - 2 cm. Herba potongan ini kemudian dikeringkan dengan matahari, atau dengan pengeringan kering angin di ruangan (menggunakan angin yang dihembuskan), atau kering oven dengan suhu 40?C. Lapisan herba disusun setipis mungkin pada saat pengeringan, agar keringnya merata, atau tidak terjadi pembusukan dan terkontaminasi jamur. Alas pengering diusahakan bersih, bisa menggunakan alas berasal dari anyaman bambu atau bahan stainlessteel. Proses pengeringan herba yang benar akan menghasilkan simplisia berwarna hijau seperti warna asli di waktu masih segar. Simplisia yang telah kering, dicirikan rapuh atau remah apabila diremas, kadar airnya berkisar antara 10 -12%. Simplisia yang kering tersebut dapat diolah langsung sebagai bahan baku jamu atau obat. Seandainya tidak diproses langsung sebagai jamu dan obat, atau hendak dikirim ke suatu daerah lain, simplisia tersebut hendaknya dikemas dalam kantong plastik yang kedap udara. Setiap kemasan kantong plastik berisi antara 2 - 5 kg simplisia purwoceng kering. Kemasan simplisida tersebut dimasukkan ke dalam kotak kardus untuk disimpan ditempat penyimpanan ber-AC ditulis oleh Dalmadi sumber: Ditjen Horti gambar globososo.com/image