Seorang petani adalah pengusaha di bidang pertanian yang melibatkan orang lain untuk bekerja sebaik mungkin. Oleh karena itu petani perlu memiliki jiwa kepemimpinan. Petani merupakan seorang wirausaha di bidang pertanian, karena mengelola agribisnis dengan tujuan memperoleh hasil yang diperlukan masyarakat banyak agar segera laku dijual dengan dengan harga yang menguntungkan. Namun kadang kala harus menanggung risiko apabila agribisnis yang dilakukan mengalami kerugian. Dengan demikian seorang petani sebagai wirausaha tidak hanya sekedar menanam atau memelihara ternak saja, melainkan harus memilih jenis tanaman atau jenis ternak yang dibutuhkan masyarakat, agar hasilnya segera laku dijual dengan harga yang menguntungkan. Pada umumnya petani dengan skala usaha kecil, maka semua pekerjaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan analisa agribisnis ditangani sendiri bersama anggota keluarganya. Bila memerlukan tenaga dari luar keluarga hanya sedikit jumlahnya. Anggota keluarga dan tenaga dari luar atau orang lain yang diupah untuk membantu pekerjaan agribisnis itu sebetulnya mitra kerja yang harus dipimpin oleh petani itu sendiri. Oleh karena itu, setiap petani perlu memiliki jiwa kepemimpinan pada dirinya sendiri untuk memimpin mencapai tujuan agribisnis yang menguntungkan dan berkembang secara berkelanjutan. Setiap individu petani perlu membangun kepercayaan diri sebagai pemimpin, agar mampu mempengaruhi orang lain (dalam hal ini anggota keluarganya maupun pekerja yang diberi upah) agar mau melakukan pekerjaan agribisnisnya dengan baik. Selain itu juga harus mampu menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan kemauan kerja, keakraban, keterbukaan kerja, sehingga terbentuk kreativitas untuk memperoleh hasil lebih baik dari sebelumnya. Seorang petani yang berjiwa pemimpin perlu menguasai cara-cara memotivasi orang lain untuk bekerja lebih baik. Cara memotivasi orang lain Seorang petani yang berjiwa pemimpin harus mampu memotivasi atau memberi dorongan mitra kerjanya agar hasil kerjanya selalu lebih baik. Cara memotivasi mitra kerja, antara lain: - Membangun harga diri mitra kerja, dengan memuji pekerjaan yang baik dan tunjukan harapan usaha terbaik. - Memberikan informasi kepada mitra kerja tentang tujuan (apa yang ingin dicapai) dan jelaskan bagaimana cara mencapainya; - Memberikan tugas dan tanggung jawab yang lebih berat kepada mitra kerja yang terbukti mampu dan harus diberi kebebasan untuk mengambil keputusan, menerapkan kegiatan, melakukan tindakan korektif (memperbaiki kesalahan) untuk mencapai tujuan. - Mengetahui kepribadian, kemampuan dan potensi mitra kerja, agar dapat dimanfaatkan dengan efektif/tepat dan efisien. - Memperhatikan masalah (bukan orangnya) yang dihadapi mitra kerjanya, jika salah dalam mengerjakan pekerjaan. Dalam hal ini pemimpin harus mendengar dengan baik dan menunjukkan perhatian pada perasaan dan kebutuhannya. Rasa harga diri mitra kerja perlu dijaga dan jangan menambah masalah mereka. - Menerapkan penghargaan, yaitu memberi penghargaan atau imbalan kepada mitra kerja yang berperilaku baik, karena orang cenderung mengulangi perilaku yang diberi penghargaan tersebut. Sebaliknya jangan memberi penghargaan kepada mitra kerja yang berperilaku tidak pantas. Penghargaan sangat tepat jika diberikan langsung setelah melakukan kebaikan. Pengahargaan tidak harus memberi uang, bisa juga pujian, pekerjaan yang lebih ringan menggunakan fisik, dan lain-lain. - Jadilah seorang pendengar aktif, maksudnya memperhatikan pendapat/saran orang lain dan memberikan tanggapan secara serius melalui pembicaraan hati ke hati. Dengan demikian terjadi komunikasi/pembicaraan untuk membahas pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Misalnya mengalami masalah sulit untuk mendapatkan pupuk, kemudian diberi saran orang lain untuk memulai membuat sendiri dan memakai pupuk organik. Berdiskusilah dengan orang yang memberi saran tersebut tentang manfaatnya, cara membuat, apa keunggulan pupuk organik dibanding dengan pupuk anorganik, dan lainnya. Melalui diskusi inilah bisa terpecahkan masalah kesulitan mendapatkan pupuk. - Memberi kepahaman tujuan yang akan dicapai kepada mitra kerjanya dan menginformasikan waktu untuk meninjau kemajuan serta hal-hal apa yang akan ditinjau untuk mengetahui perkembangan pencapaian tujuan. - Melakukan tindakan korektif (memperbaiki kesalahan), yaitu jika seorang mitra kerja melakukan kesalahan, segera berbicara empat mata dengan yang bersangkutan, jangan menegur di depan orang lain dan jangan sampai melukai perasaan atau mempermalukan yang bersangkutan. Tindakan korektif ini bersifat meluruskan dan memberitahu yang seharusnya dilakukan. Namun ada kemungkinan tindakan salah itu justru melakukan tugas yang tepat, maka harus dihargai. Cara meningkatkan kemampuan memimpin Kepemimpinan yang baik ialah semakin besar perhatian pemimpin kepada mitra kerja, semakin keras mitra kerja bekerja untuk pemimpinannya. Jika pemimpin mementingkan para mitra kerja, kemungkinan sukses lebih besar. Adapun hal-hal yang dapat membantu meningkatkan kemapuan sebagai pemimpin antara lain: - Sekali mengambil keputusan, laksanakan secepat mungkin. - Menggunakan orang yang berbakat dan mampu melakukan upaya-upaya untuk mencapai tujuan. - Tingkatan kekuatan-kekuatan diri dan jangan tampakan kelemahan-kelemahan. - Mau mengubah rencana-rencana dengan menyesuaikan keadaan. - Harus mau mengakui kesalahan. Sumber Informasi: 1. Mulyono Machmur. Bunga Rampai Ilmu Kepemimpinan. Jakarta. 2007. 2. Geoffrey G. Meredith et al. Kewirausahaan (Teori dan Praktek). Jakarta, PT Pustaka Binaman Pressindo, cetakan keempat. 1989. 3. ---------. Buku Pintar P4K seri 16. Jakarta. (halaman 96). 1996 Penulis : Susilo Astuti h. (penyuluh pertanian pusluhtan)