Loading...

Para-para Gudang Penampung Jagung Tradisional.

Para-para Gudang Penampung Jagung Tradisional.
Para-Para Gudang Penampung Jagung Tradisional. Di zaman moderen sekarang ini, banyak alat atau tempat yang serba mesin yang memudahkan aktifitas manusia. Termasuk dibidang pertanian. Tapi ada yang masih tetap bertahan di tengah himpitan alat-alat modern yaitu disebut Para-Para. Dibuat berbentuk rumah tanpa sekat-sekat kamar dengan luasan berfariasi, tergantung luasan tanam si pemilik. Atapnya dirancang bisa di buka pasang dengan maksud dimusim kemarau disiang hari bisa dibuka untuk menjemur jagungnya. Dan dimalam hari dipasang kembali. Para-Para ini merupakan gudang penampung jagung masyarakat tani yang berfungsi ganda. Selain sebagai gudang penampung juga digunakan sebagai tempat pengeringan jagung di musim penghujan. Biasanya para-para ii dibangun dilahan pertaniannya dan ada juga yang dibangun dihalaman rumah. “kalau melihat yang paling besar bangunan para-paranya, sudah itumi yang paling luas menanam jagung” ujar salah seorang petani. Di Desa Wakadia disepanjang jalan hampir semua rumah kita temui bangunan para-para ini. Petani disana masih menggunakan para-para ini sebagai tempat pengeringan jagungnya. Ini turun temurun dari orang tua mereka. Biasanya setelah panen, jagung diangkut di tempat ini selanjutnya aktifitas pasca panen sudah berlangsung di sini. La Fiu, SP. Selaku koordinator penyuluh pertanian di kecamatan Watopute mengatakan ini merupakan keunikan tersendiri bagi petani di kabupaten Muna karena hampir semua rumah di Wakadia memiliki bangunan Para-Para ini. Dimusim kemarau masyarakat tinggal membuka atapnya untuk melakukan penjemuran dan dimusim hujan jagungnya diasapi dari bawah dengan menggunakan kayu-kayu khusus atau kulit dan batang jagung sebagai bahan bakarnya.