Loading...

Pasca Panen Tanaman Sorgum, oleh Yohana Benga Kian, SP.

Pasca Panen Tanaman Sorgum, oleh Yohana Benga Kian, SP.
PASCA PANEN TANAMAN SORGUM Perontokan Perontokan secara tradisionil dilakukan dengan pemukul kayu dan dikerjakan di atas lantai atau karung goni. Pemukulan dilakukan terus menerus hingga biji lepas. - Setelah itu dilakukan penampian untuk memisahkan kotoran yang terdiri dari daun, ranting, debu atau kotoran lainnya. Sejumlah biji dijatuhkan dari atas dengan maksud agar kotorannya dapat terpisah dari biji dengan batuan hembusan angin. Agar dicapai hash yang terbaik dan efisien dianjurkan agar menggunakan wadah supaya biji tetap bersih, usahakan agar biji segera dirontok setelah panen untuk mencegah serangan tikus dan burung, dan kadar air tidak boleh lebih dari 10 - 12 % untuk mencegah pertumbuhan jamur. 2. Pembersihan dan sortasi Pembersihan bertujuan untuk membuang kotoran kotoran, bagian-bagian dari bahan yang tidak penting dan menyingkirkan komoditi yang terikut. Sedangkan sortasi adalah proses pemisahan dan penggolongan tingkat mutu dan kesegaran. Alat pembersih dan sortasi yanag umum digunakan antara lain ayakan berlubang, ayakan meja bergoyang dan hembusan udara. Bentuk, ukuran dan banyaknya lubang pada ayakan berbeda-beda tergantung pada macam, bentuk dan ukuran komoditi yang di tangani. 3. Pengeringan. Biasanya pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran selama ± 60 jam hingga kadar air biji mencapai 10 - 12 %. Kriteria untuk mengetahui tingkat kekeringan biji biasanya dengan cara menggigit bijinya. Bila bersuara berarti biji tersebut telah kering. Pengeringan merupakan salah satu proses yang mutlak diperlukan sebelum biji sorghum disimpan. 4. Penggilingan / Penyosohan Meskipun penggunaan sorghum untuk konsumsi manusia tersebar luas, namun teknologi pengolahan biji-bijian ini masih belum memadai. Metode tradisional yang digunakan di semua Negara membutuhkan kerja keras dan waktu yang lama, dan meskipun penggilingan skala kecil telah diperkenalkan di beberapa daerah namun mesin produksi tepung masih terbatas karena kurangnya tekonologi yang dikuasai untuk mengolah biji-bijian ini. Dalam proses tradisional, jika waktu masih memungkinkan biji-bijian dibasahi dan dikuliti sebelum ditumbuk menjadi tepung. Pengupasan yang dilakukan dengan cara memukul-mukul menggunakan tangan, tergantung pada varietas, membutuhkan 3,5 – 5,5 mm/kg sorgum dan 6 – 22 mm/kg millet (perkiraan di India). 5. Penyimpanan Biasanya bahan pangan hasil pertanian mengalami beberapa tingkat penyimpanan yaitu : tingkat petani, tingkat pengumpul, tingkat penyalur, tingkat peralihan, tingkat pengecer dan tingkat konsumen. Penyimpanan sederhana di tingkat petani adalah dengan cara menggantungkan malai sorghum di ruangan di atas perapian dapur. Cara ini berfungsi ganda yaitu untuk melanjutkan proses pengeringan dan asap api berfungsi pula sebagai pengendalian hama selama penyimpanan. Namun jumlah biji yang dapat disimpan dengan cara ini sangat terbatas. 6. Pemanfaatan biji Sorghum Menurut Rismunandar, 1989 Sorghum dapat di jadikan nasi sorghum yang cukup pulan, begantung pada jenisnya. Untuk membuat nasi sorgum, kulit arinya harus benar-benar bersih, seandainya tidak di bersihkan akan mengakibatkan rasa pahit yang sesuai dengan sifat jenisnya. Berbagai jenis makanan yang dapat di hasilkan antara lain bubur tepung sorghum, dodol sorghum dan sebagainya. Sorghun juga dapat di gunakan untuk membuat tapai yang rasanya tidak kalah jika dibandingkan dengan tapai yang di buat dengan bahan dasar ketan hitam atau ketan putih. Tepung sorghum juga di manfaatkan untuk membuat briket arang kayu guna cetakan pengecoran besi. Pabrik Alumunium menggunakan tepung sorghum sebagai bahan untuk menggumpalkan peleburan Alumunium. Pengeboran minyak bumi menggunakan tepung sorghum untuk melicinkan pengeboran, pendingin bor, dan menahan perembesan air dari dinding sumur bor. Pabrik tepung sorghum menghasilkan dedak sebagai bahan samping. OLEH : YOHANA BENGA KIAN, SP. BPP GONSALU – KECAMATAN LARANTUKA, KABUPATEN FLORES TIMUR.