Loading...

PASCA PANEN UBI KAYU

PASCA PANEN UBI KAYU
Ketersediaan pangan dalam jumlah dan mutu yang cukup dan berkesinambungan Merupakan kunci utama untuk menuju ketahanan panganyang tangguh. Sektor tanaman pangan di Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam upaya penyediaan bahan pangan bagi masyarakat.Salah satu komoditas tanaman pangan adalah ubikayu (Manihot esculentacrantz) merupakan bahan pangan sumber karbohidrat yang penting (disampingberas dan jagung) serta bahan baku untuk industri pangan maupun non pangan. Ditinjau dari aspek budidayanya, penanaman ubikayu cukup menguntungkan karena daya adaptasinya luas (termasuk di lahan yang kurang subur/marginal),tidak mudah diserang hama dan penyakit, cara budidayanya telah dikenal dan dikuasai oleh petani serta biaya produksi relatif murah dengan hasil per hektar cukup bervariasi.Contoh Perbandingan produksi umbi lokal rata-rata 11 ton/ha, sedangkan untuk varietas Unggul seperti Adira 1 dan Adira 4 produksi umbinya dapat mencapai 25 - 40ton/ha Tanaman ubikayu banyak di-usahakan oleh petani karena ubikayu banyak manfaat, untuk berbagai ke-perluan yaitu untuk konsumsi langsung manusia, bahan makanan ternak dan bahan industri.Untuk konsumsi manusia ubikayu dapat diolah menjadi Berbagai bentuk produk makanan seperti tape, keripik dan lain-lain. Sebagai bahan makanan ternak, ubikayu terutama diolah menjadi gaplek utuh, gaplek irisan (chips), dan gaplek pellet. Permintaan ubikayu terus meningkat seiring dengan beragamnya pemanfaatan ubikayu untuk bahan baku industri, termasuk bioethanol. Peluang Untuk meningkatkan produksi juga masih terbuka lebar dengan teknik budidaya Yang tepat dan tersedianya varietas unggul berpotensi hasil tinggi. Keberhasilan peningkatan produksi ubikayu perlu diikuti dengan penanganan pasca panen yang baik sehingga dapat mengurangi susut hasil panen dan mempertahankan mutu ubikayu. Untuk mengurangi susut hasil panen dan mempertahankan mutu ubikayu perlu dilakukan teknologi penanganan pasca panen yang didasarkan pada prinsip-prinsip Good Handling Practices (GHP). Oleh karena itu dalam rangka mewujudkan penanganan pasca panen ubikayu yang baik perlu pedoman teknologi penanganan pascapanen ubikayu. Dengan pedoman teknologi penanga-nan pascapanen ubikayu diharapkan para petani dapat melakukanpenanganan pasca-panen berdasarkan prinsip-prinsip yang benar sehingga dapat mengurangi susut hasil panen pada emua tahap kegiatan penanganan pascapanen ubikayu dan mempertahankan mutu bikayu serta mendapatkan hasil yang memenuhi persyaratan kualitas.1.2.TujuanTujuan buku teknologi penanganan pascapanen ubikayu sebagai berikut:1.Bahanpanduan bagi petani dan pelaku pascapanen lainnya tentang cara-cara penanganan Pascapanen yang berdasarkan prinsip-prinsip Good Handling Practices (GHP) sehingga diharapkan dapat mengurangi tingkat kehilangan hasil ubikayu. TEKNOLOGI PENANGANAN PASCA PANEN Penanganan pascapanen ubikayu meliputi kegiatan penentuan saat panen, pemanenan, pengupasan,pencucian disertai perendaman,perajangan, pengeringan, pengemasan chips dan penyimpanan umbi segar. A. Penentuan saat panen Penentuan saat panen harus dilakukan berdasarkan deskripsi varietas ubikayu (umurtanaman) dan pengamatan visual (kenampakan fisik). B. Pemanenan Pemanenan ubikayu sebaiknya dilakukan pada umur yang tepat sesuai dengan karakteristik varietasnya. Pada umumnya umur panen ubi kayu berkisar antara umur 8 -12bulan. Panen yang dilakukan terlalu awal akan memberikan hasil produksi dan kandungan pati yang rendah. Apabila ubikayu dipanen melewati umur optimumnya maka akan memberikan kandungan serat yang kasar dan tinggi. Pemanenan dilakukan dengan beberapa cara /variasi tergantung adat kebiasaan di suatu daerah masing-masing. Pemanenan dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Pada tanah yang gembur cabut batang dan umbi dengan kedua belah tangan. 2. Namun apabila keadaan tanah agak keras diperlukan alat bantu berupa pengungkit. Apabila ada umbi yang tertinggal di dalam tanah, maka umbi dapat digali dengan cangkul. Penggalian dilakukan dengan hati-hati agar umbi tidak luka atau patah 3. Pemanenan dengan alat pengungkit relatif lebih efisien (67 jam/ha/orang), bila dibandingkan dengan cara mencabut dengan tangan (113 jam/ha/orang). 4. Panen dengan menggunakan pengungkit susut panennya relatif lebih kecil (1,3%) dibandingkan dengan menggunakan tangan sampai 7 %. 5. Pisahkan umbi dari batang dengan bantuan parang/golok,secara hati-hati agar tidak tertinggal dibatang. 6. Kemudian masukkan ke dalam karung dan angkut ke tepi jalan untuk diangkut ke rumah petani dengan sepeda, pedati, lori, pick-up atau truk. C. Pengupasan Pengupasan kulit secara manual merupakan cara pengupasan ubikayu yang terbaik. Cara ini memberikan rendeman yang tinggi namun memerlukan waktu yang relatif lama dan tenaga kerja yang banyak.Pengupasan kulit dapat dilakukan dengan alat bantu pisau atau alat khusus pengupasan ubikayu. Lendir yang ada pada lapisan ubikayu sebaiknya dihilangkan dengan cara dikerik. Perlakuan ini dilakukan segera setelah umbi dikupas untuk mengurangi kadar asam biru atau asam sianida (HCN).Pengupasan kulit yang tidak bersih akan enyebabkan kotoran yang masih banyak melekat sehingga mengakibatkan susut pengupasan meningkat sampai 4-10 %.Proses pengupasan kulit ubikayu. D. Pencucian Ubikayu yang telah dikupas secepatnya dicuci dengan air yang mengalir kalau masih menunggu diproses ubikayu kupas sebaiknya direndam sementara dalam air (perhatikan, semua umbi harus tercelup air, bagian yang tidak tercelup akan berwarna coklat). Bak perendaman ubikayu kupas berukuran panjang x lebar x tinggi = 1m x 1m x 1m untuk kapasitas 1 ton.Bak pencucian terbuat dari semen atau keramik, yang dilengkapi dengan instalasi air dan saluran pembuangan E. Perajangan Proses perajangan ubikayu diartikan sebagai pengirisan/mengecilkan ukuran umbi kupas. Perajangan dapat dilakukan dengan alat atau mesin. Tahapan proses yang penting dan cukup menentukan mutu tepung kasava yang dihasilkan adalah pada saat pembuatan gaplek dan chips kering. Gaplek berbentuk gelondong, sedangkan chips bentuk cacah atau bentuk irisan tipis (slicer) atau bentuk sawut (shrudding). 1. Gaplek yaitu dibuat dengan cara umbi yang telah dikupas dibelah dua kemudian dicuci dan dilakukan penjemuran di lantai jemur.Untuk menghasilkan gaplek yang berwarna putih dan tidak berjamur, umbi terlebih dahulu dilakukan perendaman selama lima menit atau penyemprotan umbi dengan 4 % larutan garam atau 0,2 % sodium bisulfit. 2. ChipsUntuk merajang ubikayumenggunakan alat perajang sederhana/ manual yang digerakkan dengan tenaga, Sundari, SST (BBP2TP, Bogor), Email:sunburase@yahoo.com Penulis Koordinator Subsektor   Sumber : PTT Ubi Kay. Kemta. 2012 http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/52837