PELATIHAN MEMANFAATKAN LAHAN SEMPIT UNTUK BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK Oleh : Doseph Ginting, sp DINAS KETAHANAN PANGAN DAN PERTANIAN KOTA BINJAI 2019 PELATIHAN MEMANFAATKAN LAHAN SEMPIT UNTUK BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK Menurunnya luas lahan pertanian menyebabkan menurunya produksi pertanian sementara meningkatknya jumlah penduduk harus diikuti meningkatnya produksi pertanian, hal inilah yang menyebabkan daya dukung lahan pertanian di setiap kelurahan semakin berat. Meningkatnya pendidikan, pengetahuan, dan kesadaran masyarakan akan keamanan pangan, menyebabkan tuntutan masyarakat akan pangan sehat, aman dan bergizi terus meningkat. Akulturasi antarawarga perumahandan masyarakat setempat juga meningkatkan pemahaman akan pangan sehat, aman dan bergizi. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa peningkatan produksi pertanian harus diikuti dengan meningkatnya kualitas pangan yang aman, sehat , dan bergizi. Upaya meningkatkan produksi pertanian di lahan sempit yang dapat memenuhi tuntutan masyarakat akan sayuran sehat, aman dan bergizi dapat dilakukan dengan budidaya sayuran organik dalam sitem bertingkat (vertikulur sayuran organik). Vertikultur sayuran organik adalah budidaya sayuran dalam pot Aman Suyadi, Bambang Nugroho Pelatihan Memanfaatkan Lahan Sempit untuk Budidaya Sayuran Organik yang ditempatkan pada suatu rak secara vertikal dengan memanfaatkan sumber bahan organik organik yang ada di sekitar perumahan. Hasil survey pendahuluan oleh tim pelaksana IbM menunjukkan bahwa pemanfaatan halaman perumahan untuk bidadaya tanaman hias dan sayur telah banyak dilakukan umumnya oleh para ibu PKK dan remaja putri, termasuk oleh para kader dan anggota PKK RW 12 dan 13, namun penerapan teknologi vertikultur sayuran organik belum diterapkan karena terkendala ketrampilan dan pengetahuan mereka tentang teknologi tersebut yang belum mereka kuasai. Permasalahan yang dihadapi para kader dan anggota PKK RW 12 dan 13 adalah kesulitan memberdayakan lahan sempit di sekitar tempat tinggalnya untuk budidaya sayuran organik secara vertikultur (vertikultur sayuran organik)juga kemampuan berwirausaha yang masih rendah sehingga potensi lahan sempit di sekitar tempat tinggalnya belum dikelola secara baikkemampuan dan ketrampilan para kader dan anggota PKK RW 12 dan 13 dalam memberdayakan lahan sempit di sekitar tempat tinggalnya dengan cara meningkatkan kemampuan dan ketrampilan penguasaan teknologi vertikultur sayuran organik mulai dari pembutan pupuk organik, pestisida hayati, pesemaian bibit, pembuatan media tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan dan pasca panen, serta kemampuan berwirausaha (agribisnis) tanaman sayuran. Tujuan selanjutnya adalahtertanganinya limbah rumah tangga, terciptanya lingkungan hijau yang asri dan estetik serta para kader dan anggota PKK RW 12 dan 13 mendapatkan penghasilan tambahan dari penjualan sayur organik METODE Model pembinaan ditentukan bersama antara para kader dan anggota PKK RW 12 dan 13 dengan tim IbM berdasarkan prioritas permasalahan yang akan diatasi dan potensi wilayah. Kesepakatan awal adalah pembinaan para kader dan anggota PKK RW 12 dan 13 diarahkan pada penguasaan teknologi pembuatan pupuk organik, pembuatan pestisida hayati, dan vertikultur sayuran organik serta peningkatan pengetahuan kewirausahaan. Metode yang digunakan dalam realisasi program IbM ini adalah pelatihan dan praktik langsung, pendampingan, pembinaan, serta kemitraan dengan para kader dan anggota PKK RW 12 dan 13. Pelatihan dan Praktik Langsung Pelatihan dilakukan dengan perkuliahan klasikal dan praktik langsung. Penyampaian materi dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, dan simulasi. materi pelatihan meliputi:teknik pembuatan pupuk organik (teknik pembuatan bioaktivator, teknik pembuatan pupuk pembuatan pupuk organik cair danpupuk kompos), teknik pembuatan pestisida hayati,teknik vertikultur sayuran organik, teknik pasca panen sayuran organik, dan kewirausahaan pemberdayaan lahan sekitar rumah. Praktik langsung pembuatan pupuk organik dimulai dari proses persiapan, pembuatan bioaktivator,pembuatan pupuk organik cair, dan pembuatan pupuk kompos.Praktik pembuatan pestisida hayati dimulai dari persiapan bahan, pembuatan adonan, dan penyaringan. Praktik vertikultur sayuran organik dimulai dari persiapan, pembibitan (pesemaian) sayuran, pembuatan media tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman dan panen. Praktik pasca panen sayuran organik dimulai dari persiapan, pembersihan, pemilahan, dan pengemasan hasil panen, dan penyimpanan dan pengangkutan. Aman Suyadi, Bambang Nugroho Pelatihan Memanfaatkan Lahan Sempit untuk Budidaya Sayuran Organik Pendampingan Pendampingan dilakukan selama proses pembuatan pupuk organik, pembuatan pestisida hayati, vertikultur sayuran organik, dan pasca panen sayuran. Pendampingan pembuatan pupuk organik dilakukan mulai dari proses persiapan, pembuatan bioaktivator,pembuatan pupuk organik cair, dan pembuatan pupuk kompos.Pendampinganpembuatan pestisida hayati dimulai dari persiapan bahan, pembuatan adonan dan penyaringan. Pendampingan vertikultur sayuran organik dimulai dari persiapan, pembibitan (pesemaian) sayuran, pembuatan media tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman dan panen. Pendampingan pasca panen sayuran organik dimulai dari persiapan, pembersihan, pemilahan, dan pengemasan hasil panen, dan penyimpanan dan pengangkutan. Pendampingan dilakukan sampai dua siklus produksi dan dapat diperpanjang jika para kader dan anggota PKK RW 12 dan 13 dianggap belum mandiri, pendampingandibatasi sampai tiga kali siklus produksi (delapan bulan). Pembinaan Pembinaan dilakukan dengan membimbing dan memantau para kader dan anggota PKK RW 12 dan 13 setelah kegiatan pelatihan selesai, pembinaan dilakukan secara rutin setiap dua minggu, jika dibutukan, pembinaan dapat dilakukan sesuai permintaan mitra atau Tim IbM. Pembinaan juga dilakukan sampai dua siklus produksi dan dapat diperpanjang jika anggota para kader dan anggota PKK RW 12 dan 13 dianggap belum mandiri, pendampingan dibatasi hanya tiga kali siklus produksi (delapan bulan). Kemitraan Kemitraan diwujudkan dengan memberi bantuan modal sarana dan prasarana pembuatan pupuk organik, pestisida hayati, vertikultur sayuran organik, dan pasca panen sayuran organik. serta bantuan teknis. Bantuan modal sarana dan prasarana tersebut di atas berupa bahan dan peralatan pembuatan bioaktivator, pupuk organik cair, dan pupuk kompos, bahan dan peralatan pembuatan pestisida hayati, bahan dan peralatan vertikultur sayuran organik, yaitu bahan dan peralatan pembibitan, pembuatan media tanam, pemeliharaan, dan panen), serta bahan dan peralatan pengolahan pascapanen sayuran organik.Bantuan teknis berupa peningkatan kemampuan dan ketrampilan pembuatan pupuk organik, pestisida hayati, vertikultur sayuran organik dan pasca panen sayuran organik HASIL DAN PEMBAHASAN Teknik Pembuatan Pupuk Organik Pembuatan pupuk organik yang dilaksanakan terfokus pada pembuatan bioaktivator, pembutana pupuk organik cair (POC) dan pembuatan pupuk organik padat (kompos). Kegiatan pelatihan diawali dengan pre test dengan caramembagikan soal kepada peserta seputar materi pelatihan. Hasil pre test menunjukkan bahwa sedang untuk perilaku sikap, rendah untuk perilaku pengetahuan, dan rendah untuk perilaku psikomotor. Pelatihan dilanjutkan dengan pemberian materi secara klasikal, meliputi teknik pembuatan pupuk organik, kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung, pembuatan pupuk organik, yang dimulai dari proses persiapan, pembuatan bioaktivator, pembuatan pupuk organik cair (POC), dan pembuatan pupuk padat (kompos). Praktik dilakukan dengan melibatkan seluruh peserta sehingga para peserta membuat pupuk organik. Setelah praktik langsung pembuatan pupuk organik, dilanjutkan dengan Post test, yang Aman Suyadi, Bambang Nugroho Pelatihan Memanfaatkan Lahan Sempit untuk Budidaya Sayuran Organik Peningkatan ketrampilan dalam pembuatan pupuk organik cair dan kompos. Guna mempercepat transfer teknologi pembuatan pupuk organik, keterlibatan peserta selalu didampingi oleh tim pelaksana, mulai dari tahap persiapan hingga pembuatan kompos. Pendampingan dilakukan setiap minggu hingga minggu ke lima . Hasil praktik langsung berupa 20 liter bioaktivator, 200 liter pupuk organik cair dan 750 kg pupuk kompos. Teknik Pembuatan Pestisida hayati Pelatihan pembuatan pestisida hayati dilakukanmeliputi kegiatan persiapan dan pemilihan bahan, pembuatan adonan, penyaringan adonan. Pelatihan diawali dengan pre test, dilakukan dengan membagikan soal kepada peserta seputar pembuatan pestisida hayati.Hasil pre test menunjukkan bahwa perilaku peserta pelatihan dapat dirinci sebagai berikut: sedang untuk perilaku sikap, rendah untuk perilaku pengetahuan, dan sedang untuk perilaku psikomotorik. Pelatihan dilanjutkan dengan pemberian materi oleh tim pelaksana secara klasikal. Materi yang diberikan adalahteknik pembuatan pestisida hayati.Setelah pemberian materi dilanjutkan dengan praktik langsung teknik pembuatan pestisida hayati, dilakukan untuk mentransfer pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta. Praktik langsung dimulai dari proses persiapan dan pemilihan bahan, pembuatan adonan,dan penyaringan adonan. Praktik langsung diikuti oleh 14 peserta, sehingga para peserta diharapkan lebih mudah memahami dan meningkatkan ketrampilannya. Para peserta dilibatkan dalam setiap tahap kegiatan pembuatan pestisida hayati. Pendampingan oleh tim pelaksanadilakukan pada hari ke 7 dan 14 setelah praktik.Setelah praktik langsung dilanjutkan dengan Post test, hasil evaluasi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan perilaku peserta dalam pembuatan pestisida hayati, hal ini berarti telah terjadi transfer pengetahuan dan teknologi dari pemateri kepada peserta. Setelah pelatihan dilanjutkan dengan pemantauan dan pendampingan. Pemantauan dan pendampingan dilaksanakan hasil pemantauan dan pendampingan menunjukkan bahwa telah terjadi transfer pengetahuan dan ketrampilan pembuatan pestisida hayati kepada peserta pelatihan. Indikator keberhasilan kegiatan ini ditunjukkan dengan kemampuan peserta menghasilkan 200 liter pestisida hayati. Pembuatan Vertikultur Sayuran Organik Pembuatan demplot vertikultur sayuran organik meliputi beberapa kegiatan utama, yaitu persiapan, pembibitan/pesemaian sayuran, pembuatan media tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman dan pemanenan. Pembuatan demplot diikuti oleh kader dan pengurus RW 12 dan 13 sejumlah 10 orang, Setelah tahap persiapan dilakukan pembuatan vertikultur sayuran organik, meliputi pesemaian beberapa jenis sayuran, antara lain : cabe, terong, caisin, selada, bayam merah, bayam cabut, kangkung darat, bawang daun, seledri, dan kubis bunga. Setelah pembuatan pesemaian, dilanjutkan dengan pembuatan media tanam. Media tanam berupa campuran tanah dengan pupuk kompos hasil praktik langsung sebelumnya, sedangkan tanah diperoleh dari lahan sekitar rumah, perbandingan tanah dengan kompos 1: 1. Aman Suyadi, Bambang Nugroho Pelatihan Memanfaatkan Lahan Sempit untuk Budidaya Sayuran Organik Semua berhasil mencampur media tanam dan memasukannya ke dalam pot dalam rak vertikultur. Setiap rak vertikultur berisi 5 pot (terbuat dari peralon talang air sepanjang 2 meter). Pot disusun secara bertingkat dalam rak vertikultur. Penanaman sayuran dilakukan dengan cara memindahkan bibit semai ke dalam pot, pemindahan dilakukan dengan cara membuat lubang tanam sesuai ukuran pot semai kemudian mengeluarkan bibit dengan menyertakan media semai dan menanamnya didalam pot. Penanaman dilakukan pada sore hari, setiap pot ditanami satu jenis tanaman sehingga dalam satu rak terdapat lima jenis sayuran. Peserta berhasil menanam sayuran dalam pot dan menumbuhkannya hingga dewasa. Pemeliharaan tanaman meliputi kegiatan penyiraman, pendangiran, pengendalian gulma dan pengendaian hama dan penyakit. Pemeliharaan tanaman dilakukan secara mandiri oleh peserta, hasil pemantauan menunjukkann bahwa tanaman sayur dapat tumbuh dengan baik. Beberapa tanaman sayuran berumur pendek seperti caisin, selada, bayam merah, bayam cabut, kangkung darat sudah siap dipanen. Pemantauan dan pendampingan dilakukan selama proses pembuatan demplot vertikultur sayuran organik, pemeliharaan tanaman serta panen. Pemantauan dan pendampingan dilakukan setiap 10 hari, hingga pemantauan ketiga diketahui bahwa semua peserta mampu menanam dan memeliharan tanaman sayur organik dalam sistem vertikultur. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan sikap, pengetahuan, dan ketrapilan peserta dalam vertikultur sayuran organik. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa peserta mampu menumbuhkan dan memelihara sayuran organik dalam sistem vertikultur sebanyak 40 rak, Keberhasilan ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : lingkungan yang sesuai untuk budidaya sayuran organik, peserta serius dan tekun dalam setiap tahapan vertikultur sayuran organik, dan adanya pemantauan dan pendampingan secara rutin. Pembuatan demplot vertikultur sayuran organik untuk rumah yang tidak memiliki lahan dilakukan dalam pipa peralon bulat yang digantung dipagar rumah. Peralon yang digunakan berdiameter 4 dim, panjang 1,5 m, diberi lubang tanam sebanyak berisi 9 lubang. Media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kompos (1:1). Penanaman benih dilakukan secara langsung (tabela), jumlah benih 2 butir per lubang tanam, jenis sayuran yang ditanam meliputi Caisin, merah dan seledri. Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman setiap pagi hari, penyiangan jika ada gulma dan pengendalian hama penyakit tanaman (secara hayati) dan pemanenan. Peserta mampu menghasilkan 7 set (25 peralon gantung) vertikultur sayuran organik.Pembuatan demplot vertikultur sayuran organik dilakukan hingga tiga tahap sikluspanen. Pemantauan dan pendampingan dilaksanakan setiap 10 hari sekali sebanyak empat kali.Hasil pendampingan dan pemantauan siklus ketiga kedua menunjukkan bahwa peserta mampu menumbuhkan sayuran organik dalam sistem vertikultur hingga panen. Aman Suyadi, Bambang Nugroho Pelatihan Memanfaatkan Lahan Sempit untuk Budidaya Sayuran Organik 4.Pelatihan pasca panen sayuran organik Pelatihan pasca panen sayuran organik dilakukan diawali dengan penyampaian materi secara lisan kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung. Pelatihan diikuti oleh 14 ibu-ibu PKK. Penyajian materi pasca panen sayuran organik dimulai dari waktu panen yang tepat, cara panen, pengumpulan, sortasi, pembersihan, pengemasan, penyimpanan, dan transportasi. Setelah penyajian materi, pelatihan dilanjutkan dengan praktek langsung, mulai dari cara panen hingga pengangkutan. Praktik langsung dilaksanakan bersamaan dengan saat panen sayuran dari setiap siklus (3 siklus), hasil pelatihan menunjukkan bahwa peserta mampu melaksanakan penangan pasca panen sayuran organik, mulai dari pemanenan hingga pengangkutan. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi transfer pengetahuan dan ketrampilan dari pelatih kepada peserta. Hasil panenan sayuran organik setiap siklus penanaman mencapai 4,25 kg per rak vertikultur dan 3,5 per 3 set vertikultur gantung. Pelatihan kewirausahaan dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 3dihadiri oleh peserta yang terdiri atas pengurus inti PKK RW Nara sumber adalah praktisi kewirausahaan di kabupaten Banyumas. Pelatihan kewirausahaan meliputi kegiatan teknik analisa usaha tani dan model pemasaran hasil pertanian. Pemberian materi dilakukan secara klasikal, meliputiteknik analisa usaha tani dan model-model pemasaran hasil pertanian. Selama pemberian materi dilakukan tanya jawab dan diskusi, baik antara peserta dengan pemateri maupun antar peserta, sehingga menciptakan suasana keharmonisan yang lebih erat, cara ini mampu mengatasi kesulitan yang timbul selama pelatihan. Setelah penyajian materi secara klasikal dilanjutkan dengan praktik langsung kewirausahaan. Praktik langsung dimulai dari cara menghitung biaya produksi, menetapkan harga jual, mencatat hasil penjualan, menyusun laporan keuangan, mengenal model pemasaran hasil pertanian, dan upaya meningkatkan volume penjualan. Kegiatan pelatihan melibatkan para peserta secara aktif sehingga peserta lebih cepat paham dan ketrampilan terlihat semakin meningkat, keterlibatan peserta pada setiap tahap selalu didampingi oleh tim pelaksana sehingga transfer pengetahuan dan teknik kewirausahaan berjalan lebih cepat . Hasil evaluasi menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan kewirausahaan peserta, hal ini berarti telah terjadi transfer pengetahuan dan teknik kewirausahaan dari pemateri kepada peserta, Selanjutnya evaluasi terhadap seluruh tahapan kegiatan Ibm dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2015. Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui ketercapaian target luaran kegiatan program IbM, selain itu juga dimaksudkan untuk mengetahui peningkatan pengetahuan dan teknologi pemanfaatan lahan sempit