Loading...

Pelatihan Pembuatan Pupuk KCl Alami Berbahan Dasar Sabut Kelapa: Ubah Limbah Jadi Pupuk Kaya Unsur (K dan Cl)

Pelatihan Pembuatan Pupuk KCl Alami Berbahan Dasar Sabut Kelapa: Ubah Limbah Jadi Pupuk Kaya Unsur (K dan Cl)
Pembatasan penyediaan pupuk kimia oleh pemerintah bertujuan untuk mencegah penggunaan pupuk kimia yang berlebih oleh petani. Hal ini menuntut masyarakat petani untuk berinovasi menciptakan pupuk berbahan limbah alami. Tim Teknis Balai Penyuluhan Kecamatan Kebumen berikan opsi kepada Kelompok Tani "Tani Makmur" Desa Bumirejo untuk mengatasi permasalahan ini dengan memberikan pelatihan pembuatan pupuk KCl Alami berbahan dasar limbah sabut kelapa pada Rabu (3/10) sehingga lebih aman dampaknya untuk lingkungan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di rumah Bapak Sugihandodo yang merupakan salah satu anggota aktif Kelompok Tani "Tani Makmur" Desa Bumirejo. Bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan Pupuk KCL Alami kali ini yaitu sebagai berikut :1. Sabut kelapa sebanyak 25 kg2. Air 40 liter3. Air kelapa 1liter4. Air gula pasir 100 ml5. EM4 100 ml 6. Drum bekasCara pembuatan pupuk KCl Alami yaitu dengan memasukkan sabut kelapa, air, serta bahan-bahan lain ke dalam drum, kemudian ditutup selama 15 hari. Penutupan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat proses fermentasi anaerob. Setelah 15 hari, campuran sabut kelapa ini akan memberikan perubahan pada air rendaman menjadi berwarna hitam kekuning-kuningan. Perubahan ini merupakan indikator bahwa air hasil rendaman sabut kelapa sudah siap digunakan menjadi pupuk yang kaya akan unsur K dan Cl.Berdasarkan pemaparan yang disampaikan oleh Tim Teknis Balai Penyuluhan Kecamatan Kebumen, Anna Berthaliana, S.P. "Pupuk Alami KCl ini memiliki banyak manfaat yaitu mempercepat proses pembungaan dan pembuahan, memperkuat organ tanaman agar tidak mudah rontok (daun, bunga, dan buah), meningkatkan kualitas hasil (rasa, warna, dan bobot panen), serta meningkatkan daya simpan buah agar tidak mudah busuk. Di samping itu, sifatnya yang alami sangat baik diaplikasiakan pada tanaman karena ramah lingkungan dan tidak meninggalkan residu bahan kimia seperti pupuk anorganik pada umumnya".Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para petani mulai termotivasi untuk berkreasi memanfaatkan limbah sebagai bahan yang lebih bermanfaat, seperti bahan pembuatan pupuk alami. Hal ini tentu dapat dilakukan sebagai salah satu solusi di tengah permasalahan terbatasnya ketersediaan pupuk anorganik untuk para petani. Selain itu, dengan adanya pembuatan pupuk alami mampu mendukung program pemerintah untuk kembali menggunakan pupuk organik secara berkelanjutan untuk memperbaiki kondisi tanah pertanian yang sakit akibat penggunakan pupuk kimia yang berlebihan. (Anna Berthaliana, S.P)