Loading...

PELATIHAN SERAK JAWA

PELATIHAN SERAK JAWA
"Tantangan pembangunan pertanian ke depan akan semakin berat, kita dituntut secara terus menerus untuk meningkatkan produksi pangan khususnya padi untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri maupun untuk menyangga pangan nasional. Disisi lain kondisi petani kita pada umumnya terbelenggu dengan pemilikan lahan yang sempit, rendahnya akses terhadap informasi teknologi, sumber permodalan, sarana produksi dan pasar" Demikian sambutan Kepala Dipertanhut Kab. Pemalang pada Pembukaan Pelatihan Penangulangan Hama Tikus Menggunakan Burung Hantu (Tyto Alba) di Desa Penggarit Kecamatan Taman pada tanggal 24 Februari 2014 yang diikuti 30 orang peserta berasal dari 12 Desa meliputi 4 kecamatan daerah endemis tikus sekaligus merupakan sentra tanaman padi. Permasalahan pangan khususnya padi dihadapkan pada permasalahan yang tidak kunjung selesai seperti alih fungsi lahan, cuaca ekrtrim yang tidak menentu serta serangan Organisme Pengganggu Tanaman. Namun demikian permasalahan tersebut bukan berarti tidak ada ada jalan keluar, tentunya dengan inovasi permasalahan tersebut dapat ditekan dan diatasi. " OPT padi utamanya tikus serangannya sangat merugikan petani, tingkat serangannya bisa mencapai 60% bahkan bisa puso, oleh karena itu satu temuan penanggulangan hama tikus menggunakan Burung Hantu merupakan inovasi yang sangat bermanfaat dan dibutuhkan petani" Ir. Supriyantopo menambahakan lebih lanjut. Mengingat kemampuannya dalam berburu dan memakan tikus, burung hantu jenis Tyto Alba perlu disebarluaskan dan dikembangkan di seluruh areal persawahan agar kerugian petani dapat ditekan. Pelatihan tersebut dilaksanakan secara klasikal selama 2 hari dan praktek dan pengamatan dilapangan 1 hari. Kegiatan praktek lapangan di Desa Tlogoweru Kec. Guntur Kab. Demak dengan melihat langsung pelestarian, pengembangan dan kehidupan burung Hantu serta mengamati dampak dari adanya Tyto Alba tersebut yang dipandu oleh Team Tyto Alba dari desa setempat. Upaya untuk pengendalian hama tikus selama ini telah dilakukan melalui teknik jantan mandul, pengusiran dengan suara (biosonik), secara fisik mekanik (gropyokan, jebakan, pengomposan, jaring), kimiawi (peracunan dengan rodentisida), pemasangan pagar sawah namun hasilnya belum dapat mengimbangi perkembangan hama tikus. Pemberantasan tikus secara kimiawi menggunakan rodentisida memang efektif tapi sangat berdampak kurang baik bagi lingkungan. Kelemahan atau kekurangan akibat penggunaan rodentisida antara lain : 1. Racun yang berbahaya bagi makhluk hidup lainnya (manusia dan hewan ternak) 2. Bungkus atau Kemasan rodentisida terkadang terbuang diareal persawahan/perkebunan sehingga mencemari lingkungan. 3. Racun dapat mencemari sungai maupun perairan yang dikonsumsi oleh penduduk. 4. Bau menyengat dari tikus yang mati akibat terkena racun rodentisida 5. Kurang efektif bila areal persawahan/perkebunan sangat luas. 6. Mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli rodentisida dan ongkos tenaga kerja. 7. Hewan tikus sangat cerdik. Apabila sudah ada yang terkena racun, maka tikus lainnya akan sangat berhati-hati. Burung Hantu Tyto Alba adalah salah satu dari ratusan spesies Burung Hantu, tidak kurang dari 222 spesien Burung Hantu yang ada di alam memiliki karakter, makanan dan habitat yang berbeda pula dengan burung-burung hantu yang lain. Makanan utama adalah tikus sawah ( Rattus Argentiventer) yang merupakan OPT menyerang tanaman petani pada malam hari sedangkan pada siang hari tikus bersembunyi di lubang tanah. Burung Hantu jenis Tyto alba dikenal juga serak jawa atau muka monyet, merupakan burung predator yang termasuk burung malam ( nokturnal), keluar dari rumah burung hantu (rubuha)/persembunyiannya pada waktu matahari terbenam (magrib) untuk mencari mangsa berupa tikus sawah hingga menjelang fajar (subuh) dan pada siang hari Tyto Alba kembali ke sarang dan tidur hingga matahari terbenam lagi. "Sejak adanya burung hantu di desa ini kita bisa menggunakan waktu gropyokan untuk istirahat dan melakukan kegiatan lainnya serta biaya yang dikeluarkan membeli racun dapat untuk membiayai kebutuhan lainnya" penjelasan dari team Tyto Alba Tlogoweru saat mengakhiri praktek lapangan. (Nurul Ashar, Penyuluh Pertanian Madya Dipertanhut Kab. Pemalang)