Loading...

Pelestarian Burung Hantu Dengan Pendirian Rumah Burung Hantu

Pelestarian Burung Hantu Dengan Pendirian Rumah Burung Hantu
Pelestarian Burung Hantu (Tyto alba) Sebagai Musuh Alami Hama Tikus Latar Belakang : Peledakan populasi tikus Kerusakan area pertanian Upaya Gropyokan susah dilakukan Penggunaan Rodentisida kurang efektif Pemasangan kabel beraliran listrik, membahayakan.. Kenapa Burung Hantu Menjadi Pilihan? Makanan utama Burung Hantu adalah TIKUS Kemampuan berburu sangat Tinggi Mampu memangsa 2 – 3 ekor tikus / Hari Bahkan mampu membunuh melebihi jumlah yang dimakannya.. Daya pendengaran sangat tajam Mampu mendengar suara tikus dari jarak 500 m Penglihatan sangat tajam Memiliki sinar infra merah, sehingga mampu melihat dengan jelas pada malam hari Memiliki bulu yang dilapisi lilin sehingga ketika terbang menyambar tikus, tidak bersuara Kawasan berburu yang tetap dan teratur Daya jelajah sejauh 12 Km Setia pada kandangnya selama masih dirasa aman Faktor-faktor pendorong yang mempengaruhi cepatnya penyebaran burung hantu ( Tyto Alba ) Burung hantu Tyto Alba termasuk binatang berumah satu (monoceus) yang mengasuh anak-anaknya hingga dewasa. Setelah dewasa anak burung hantu akan pergi meninggalkan induknya untuk mencari pasangan dan sarang baru. Burung hantu Tyto Alba mampu berkembang biak dengan cepat dan mampu bertahan hidup selama 4,5 tahun. Populasi burung hantu Tyto Alba terjadi seiring dengan ketersediaan tikus. Apabila populasi tikus berkembang cukup tinggi, maka populasi burung hantu Tyto Alba akan ikut meningkat. Burung hantu Tyto Alba menempati sarang selama 3-249 hari atau mengikuti daur hidup alam. Sepasang Tyto alba bisa mengamankan 5-10 ha sawah. Populasi Tikus berkurang Dampak yang diharapkan dari pendirian Rumah Burung Hantu Pembelajaran bagi peteni, pentingnya kerjasama kelompok tani Pembelajaran bagi petani tentang pentingnya pelestarian musuh Pada waktu mendatang diharapkan peranan Tyto Alba Dapat dirasakan oleh seluruh petani yang selama beberapa tahun terakhir menjadi sasaran utama tikus, sehingga mengurangi produksi beberapa hasil pertanian , bahkan menyebabkan kerugian bagi petani. Diambil dari Beberapa Sumber Penulis : Imsabiyah, STP (THL-TBPP Balai Penyuluhan Pertanian Sekaran)