Pada saat ini, tanaman paprika (Capsicum annuum var. Grossum L.) merupakan salah satu komoditas penting yang dibudidayakan di bawah naungan. Tanaman paprika berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan kemudian menyebar ke Eropa dan Asia setelah tahun 1500-an. Pada awal penyebaran di Eropa, tanaman paprika dibudidayakan di lahan terbuka. Walaupun termasuk tanaman tahunan, paprika dibudidayakan sebagai tanaman setahun di daerah beriklim temperata, tetapi di daerah tropis tanaman tersebut kemungkinan akan tumbuh dan memberikan hasil selama lebih dari beberapa tahun. Dalam klasifikasi tumbuhan, paprika dimasukkan ke dalam famili Solanaceae. Daunnya berukuran lebar dan berwarna hijau tua. Bentuk buahnya mirip lonceng, sehingga dinamakan bell pepper. Aroma buahnya pedas menusuk, namun rasanya tidak pedas, bahkan cenderung manis, sehingga disebut sweet pepper. Paprika membutuhkan kondisi tertentu untuk pertumbuhannya, yaitu suhu 24-30 C pada siang hari dan 9-12 C pada malam hari. Meskipun demikian, tanaman itu masih dapat bertahan pada suhu 38 C. Di Indonesia, tanaman itu cocok ditanam pada dataran tinggi yang bersuhu 16-25 C. Buah paprika mengandung sedikit protein, lemak dan gula tetapi mengandung banyak karoten dan sebagai sumber vitamin C (sampai 340 mg/100 g buah segar). Jika dibandingkan dengan buah jeruk yang mengandung vitamin C sekitar 146 mg/100 g, maka kandungan vitamin C pada paprika jauh lebih tinggi dari pada buah jeruk. Paprika umumnya digunakan sebagai bumbu penyedap masakan dan juga sebagai zat pewarna makanan. A. Peluang Bisnis Paprika Usaha tani paprika memiliki peluang bisnis yang baik karena penggunaan paprika cukup luas sehingga pangsa pasarnya cukup banyak. Selain digunakan untuk konsumsi rumah tangga, paprika juga digunakan untuk industri makanan dan minuman, industri farmasi (obat-obatan), industri kosmetik, dan industri makanan ternak. Dengan semakin banyaknya wisatawan asing dan ekspatriat yang tinggal di Indonesia dan semakin populernya makanan barat di kota-kota besar di Indonesia sepeti pizza dan salad,terutama anak-anak muda yang sangat menyukai masakan Eropa sehingga permintaan akan paprika semakin meningkat. Hotel, restoran, catering, dan pasar swalayan pada gilirannya sangat membutuhkan paprika.Dilihat dari aspek sumberdaya alam,tersedianya dataran tinggi dan lahan yang sesuai untuk pertumbuhan paprika merupakan peluang mengembangkan usaha paprika. Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan industri pengolahan berbahan baku paprika, penggunaan oleoresin yang cukup luas dalam berbagai keperluan industri pangan dan farmasi, penggunaan ekstrak bubuk paprika dalam pemeliharaan ternak menyebabkan permintaan paprika meningkat Dilihat dari aspek sumber daya alam, tersedianya dataran tinggi dan lahan yang sesuai untuk tanaman paprika merupakan prospek dalam pengembangan tanaman paprika.Peluang pemasaran paprika tidak hanya terbatas di dalam negeri tetapi juga luar negeri, yaitu Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Inggris, Swedia, Perancis, Swiss, Spanyol, Italia, Kanada, Belgia, Jepang, Singapura, Malaysia, Singapura. B. Pemasaran Paprika Pemasaran buah paprika tidak terlalu sulit karena memiliki pasar yang sangat luas baik di dalam negeri maupun untuk pasar ekspor. Pemasaran dalam negeri tidak seperti pemasaran cabai lainnya, karena belum memasyarakatnya buah paprika dan masih sedikit jenis masakan khas Indonesia yang menggunakan buah paprika serta paprika masih tergolong mahal dibanding dengan cabai besar biasa. Paprika dapat dipasarkan dalam bentuk buah segar, buah kering maupun dalam bentuk olahan, tergantung pada permintaan pasar. Pemasaran dalam bentuk buah segar, harga jualnya dibedakan atas bentuk, warna dan ukuran buah. Dari segi warna, paprika dibedakan yaitu merah, hijau, kuning dan orange.Paprika orange, kuning dan merah harga jualnya lebih tinggi dibandingkan dengan paprika warna hijau. Selain warna, harga jual paprika ditentukan pula oleh ukuran buahnya.Buah paprika dibedakan menjadi 4 kategori, yaitu (a). kecil, diameter buah 6,5 - 8,0 cm, bobot buah 120 - 160 gr; (b). sedang, diameter buah 7,5 - 9.5 cm, bobot buah 160 - 200 gr, (c). besar, diameter buah 9 - 11 cm, bobot buah 200 - 250 gr. (d).sangat besar, diameter > 11 cm,bobot buah > 250 gr. Kegiatan pemasaran paprika dari petani produsen sampai ke konsumen melibatkan cukup banyak mata rantai pemasarannya. Panjang atau pendeknya mata rantai pemasaran akan berpengaruh terhadap harga jual di tingkat petani dan harga jual di pasaran (harga yang dibayar konsumen). Semakin pendek mata rantai pemasaran, berarti harga jual di tingkat petani produsen semakin tinggi. Rantai pemasaran yang pendek, pedagang perantara memperoleh keuntungan yang wajar dan konsumen mendapatkan harga yang tidak terlalu mahal. Pemasaran buah paprika segar selama ini, umumnya petani produsen menjual langsung ke swalayan, hotel, restoran. Cara memasarkan langsung seperti ini biasanya sangat menguntungkan karena petani produsen akan mendapatkan harga yang tinggi.Petani produsen menjualnya kepada pedagang/tengkulak sewaktu pedagang/tengkulak itu datang ke kebun dan membeli langsung paprika tersebut.Kelebihannya, paprika belum disortir petani produsen dan pasti dibeli semua oleh pedagang/tengkulak sedangkan kekurangannya adalah biasanya harga ditentukan oleh pedagang/tengkulak sehingga jika petani produsen tidak pandai menjualnya tentu tidak akan mendapat keuntungan yang memadai. Harga paprika sangat tergantung pada musim panen, jika musim panen raya pada umumnya harga paprika di pasaran turun. Pada saat panen raya, harga paparika di tingkat petani produsen dapat berfluktuasi setiap hari bahkan setiap jam.Selain itu, pada saat bulan ramadhan harga paprika juga menurun karena permintaan akan paprika dalam negeri juga menurun.Harga paprika cenderung ditentukan di tingkat pedagang besar (grosir). Melalui jaringannya, pedagang besar telah memiliki kemudahan untuk memperoleh harga di pasaran atau harga konsumen. Disarikan oleh : Lasarus, Pusat Penyuluhan Pertanian Sumber : 1. Ir. Bambang Cahyono, 2012. Budidaya Intensif Cabai Paprika Secara Organik dan Anorganik, Penerbit Pustaka Mina Jakarta. 2. Standar Prosedur Operasional (SOP) Paprika di Greenhouse, Direktorat Jenderal Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Ditjen Hortikultura, Deptan, 2006. 3. Nikardi G, dkk, 2006. Budidaya Tanaman Paprika (Gapsicum annuum var. grossum) di dalam Rumah Plastik. Penerbit Balai Penelitian Sayuran Lembang.