Mangga merupakan komoditas hortikultura populer. Ada sekitar 400 varietas mangga yang ada di seluruh Indonesia. Mangga dapat dikonsumsi sebagai buah segar maupun beku, diawetkan atau dikeringkan. Selain itu dapat diproses menjadi jus, puree, maupun acar. Mangga matang paling baik dikonsumsi sebagai makanan penutup. Selain itu mangga diolah sebagai manisan, es krim dan produk roti. Mangga merupakan tanaman yang dibudayakan dalam skala kecil. Sebagian besar petani manga di Indonesia memiliki tanaman tidak lebih dari 100 pohon. Harumanis merupakan varietas utama. Panen mangga di Indonesia menjalani proses komersialisasi, yang ditandai dengan peningkatan adopsi input-input eksternal. Proses ini paling maju di Jawa Barat dan Jawa Tengah. NTB merupakan kebalikan dari spektrum komersialisasi karena para petani mangga sangat terbatas dalam menggunakan input eksternal. Buah mangga mengandung berbagai kandungan fitokimia dan nutrisi. Buah mangga mengandung serat pangan yang tinggi, kaya vitamin C, provitamin A, karotenoid dan polifenol yang beragam. Mangga biasanya dikonsumsi sebagai buah segar atau jus segar. Produk lainnya yang berbahan dasar mangga seperti mangga kering, permen mangga dan lainnya juga bisa ditemukan di took-toko dan supermarket di kota-kota besar, akan tetapi jumlahnya masih sangat sedikit. Sebagian besar produk-produk ini justru diimpor dari Thailand, Malaysia, Singapura dan Filipina. Beberapa jus mangga olahan dijual di Indonesia. Namun muatan produk lokal di dalam jus mangga olahan tersebut sangat sedikit. Banyak perusahaan jus mengimpor konsentrat dan puree mangga, lalu menambahkan sedikit daging buah (pulp) produksi lokal sekedar sebagai pemberi rasa. Tiga perempat produksi mangga di seluruh dunia berasal dari Asia, dengan sisanya berasal dari Amerika Latin dan Afrika. Dengan produksi total sekitar 40 persen dari produksi dunia, India menjadi negara penghasil mangga terbesar di dunia, diikuti China, Thailand dan Pakistan. Namun, sekalipun pertumbuhan perdagangan mangga di tingkat internasional sangat pesat, hampir 95% produksi mangga di seluruh dunia dikonsumsi di dalam negara-negara produsen. Di Asia Timur dan Tenggara, negara importir mangga terbesar adalah Malaysia, Hong Kong, Singapura, Laos, dan Jepang. Indonesia merupakan penghasil mangga terbesar keenam di dunia dengan produksi sekitar 3 sampai 5 persen dari total produksi mangga di seluruh dunia, tergantung pada tahunnya. Indonesia merupakan eksportir mangga marjinal. Indonesia mengekspor sekitar 1.000 ton mangga segar pertahun, atau sekitar 0,1 persen dari produksi dalam negeri. Para eksportir menegaskan bahwa Singapura masih menjadi tujuan utama ekspor, diikuti dengan UAE. Sesekali, mangga juga diekspor ke Malaysia dan Hong Kong. Ketergantungan pada transportasi udara menjadi hambatan terbesar bagi perkembangan ekspor mangga meskipun peluangnya sangat besar. Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), terus mendata lahan tidur. Dan mengoptimalkan bantuan benih, pupuk, alat mesin pertanian, penanganan pasca panen untuk quality control hingga penyediaan informasi pasar. Indonesia sangat diuntungkan dengan pondasi ekspor yang kuat karena waktu produksi dan kedekatan geografis. Waktu produksi di Indonesia sangat bagus karena suplai mangga jenis harum manis di Indonesia berlimpah sepanjang Oktober dan November. Pada saat yang sama, negara-negara Asia lainnya justru sedang tidak berproduksi dan tidak memiliki akses ke sumber-sumber produksi mangga sekitarnya. Secara geografis, Indonesia juga berada di posisi yang unik untuk menyuplai Hong Kong, Asia Tenggara, subkontinen India, dan negara-negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi. Peluang pasar lainnya yang dapat diraih produsen mangga Indonesia adalah Amerika, Kanada, Eropa, China, Jepang dan Singapura. Materi Cyber, 7 Januari 2020 Penulis : Ali Nurdin