Loading...

PEMADATAN POPUPALASI UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG DI POKTAN NGUDI MULYO DESA KEREK KECAMATAN NGAWI KABUPATEN NGAWI

PEMADATAN POPUPALASI  UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI JAGUNG DI POKTAN NGUDI MULYO DESA KEREK KECAMATAN NGAWI KABUPATEN NGAWI
Wilayah geografis kecamatan Ngawi bagian utara memiliki kondisi yang mengharuskan penduduknya berprofesi sebagai petani jagung. Kondisi alam yang berbukitan dan tidak adanya saluran irigasi maka lahan pertanian hanya menantikan curah hujan sebagai pengairan sawah dan ladang. Petani jagung Kec. Ngawi dalam bercocok tanam menggunakan teknik turun temurun yang sudah mendarah daging. Keinginan produksi jagung pada lahan kering dapat meningkat pernah disampaikan dari salah seorang ketua kelompok tani. Peningkatan taraf hidup hanya dapat dilakukan dengan peningkatan produksi bagi petani. Selain hal tersebut bagaimana biaya produksi sedapat mungkin dapat dihemat. Untuk itulah tantangan bagi PPL untuk dapat membantu memecahkan masalah tersebut.Masalah rendahnya produksi dengan biaya semakin tinggi memang bukanlah satu-satu. Selain hal tersebut ada masalah yang lebih besar yaitu anjloknya harga saat panen raya karena berbagai keadaan yang ada. Untuk itulah usaha yang pertama dilakukan adalah penyuluhan tentang peningkatan produksi melalui pemadatan populasi yang disebut double row (baris ganda). Dalam penyampaian teknik pemadatan populasi tentunya dibutuhkan penjelasan yang sesederhana mungkin dan bisa diterima logika petani. Tentunya teknik baru yang diterima akan memudahkan pekerjaan dan ada sesuatu yang lebih dari teknik penanaman jagung cara lama.Pada kebiasaan lama para petani jagung Desa Kerek Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi mengatur tanaman jagung dengan jarak antar baris 80cm dan jarak antar tanaman dalam baris 40cm. Dengan demikian dapat dihitung dalam area 10m2 terdapat populasi 338 batang. Setelah tanaman jagung berusia kisaran 40 hari tanaman tampak rapat satu dengan yang lain. Perubahan yang dilakukan dalam mengatur jarak tanaman dengan teknik double row, yaitu jarak antar baris berselang dengan jarak baris ke I 40cm dan baris ke II 100cm, sedangkan jarak antar tanaman dalam satu baris 20cm. Maka akan didapat populasi dalam 10m2 sekitar 765 batang. Dengan demikian ada penambahan populasi tanaman sekitar 427 batang tiap 10m2. Harapan dengan pemadatan populasi ini mengurangi biaya untuk pelebaran lahan guna penambahan tanaman jagung. Mengingat lahan sudah tidak mungkin lagi ada pelebaran untuk tanaman pangan maka yang bisa dilakukan hanyalah efisiensi lahan dengan rekayasa penanaman.Biaya produksi jagung juga dapat ditekan dalam hal tenaga kerja pemupukan, yang seharusnya memupuk dua lajur baris, dapat diringkas menjadi satu baris pada sela double row yang menggunakan jarak 40 cm, lebih hemat tenaga dan waktu. Solusi tersebut diterapkan pertama kali pada lahan ketua kelompok tani Ngudi Mulyo, dan setelah panen dari petani lain banyak yang merespon dan akan mencontoh teknik penanaman double row. Alasannya mencontoh sangat simple yaitu mudah dalam penyemprotan tanaman pada saat tanaman sudah berumur lebih dari 40 Hst.Perawatan tanaman jagung selanjutnya sama dengan kebiasan petani yang biasa dilakukan. Karena pada hal yang satu ini petani lebih paham dengan kondisi lapangan yang dihadapi. Jika mengalami kendala hama dan penyakit, barulah konsultasi dengan petugas PHT untuk dilakukan observasi dan pemberian solusi yang dihadapi.Pada akhirnya harapan inovasi dapat diterima oleh petani yang menginginkan inovasi pertanian guna meningkatkan taraf hidup dapat terwujud. Semuanya kembali pada Yang Maha Kuasa sebagai penentu akhir keberhasilan. Bekerja cerdas tidak hanya bekerja keras. (DS)Penulis: Dwi Setiyono, S.ST. PPL BPP Kecamatan Ngawi.Sumber: www.litbang.pertanian.go.id