Loading...

Pemanfaatan Kompos Plus Alternatif Pengendali OPT Ramah Lingkungan Pada Komoditas Sayuran

Pemanfaatan Kompos Plus Alternatif Pengendali OPT Ramah Lingkungan Pada Komoditas Sayuran
Agribisnis sayuran merupakan sumber pendapatan bagi petani skala kecil, medium, dan besar karena memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya mempunyai nilai jual yang tinggi, jenis sayuran diusahakan sangat beragam, dapat diusahakan di lahan relatif sempit serta memiliki potensi permintaan tinggi dari pasar domestik maupun luar negeri. Untuk meningkatkan produktivitas sayuran, seringkali para petani menggunakan input produksi seperti pupuk dan pestisida dalam takaran yang cenderung berlebih. Akibatnya, disinyalir telah menurunkan kesehatan ekosistem pertanian terutama di daerah-daerah sentra produksi seperti terjadinya pengerasan lahan, pengurasan unsur hara mikro, pencemaran air tanah dan berkembangnya hama dan penyakit tertentu, dan akhirnya berdampak menurunnya produktivitas lahan dan tanaman. Dengan kata lain penggunaan bahan anorganik dalam takaran tinggi secara terus menerus tidak ramah lingkungan dan tidak berkelanjutan. Penerapan sistem pertanian dengan menggunakan prinsip budidaya pertanian ramah lingkungan, yaitu dengan mengombinasikan teknologi penggunaan biopestisida dan pupuk organik mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Hal ini dikarenakan dapat meningkatkan daya dukung lahan, optimalisasi penggunaan pupuk, dan menekan serangan OPT. Penggunaan bahan organik berupa kompos akan menciptakan lingkungan yang baik bagi perkembangan mikroorganisme di dalam tanah. Efikasi pupuk organik tersebut lebih meningkat bila ditambahkan tumbuhan sebagai biopestisida sebagai pengendali OPT. Alam Indonesia sangat kaya dengan flora dan fauna yang berpotensi sebagai bahan pupuk organik dan bahan aktif pestisida nabati. Selain itu, sebagai mikroba antagonis dan musuh alami sebagai bahan baku untuk mengisi kekosongan teknologi yang ada baik dengan teknologi sederhana maupun tinggi. Sesungguhnya bahan organik tanah baik dalam bentuk pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, sisa tanaman, dan lain sebagainya, merupakan bahan pembenah tanah yang sudah banyak dibuktikan efektivitasnya baik dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, maupun biologi tanah. Pupuk organik berupa pupuk kandang atau kompos mengandung unsur hara lengkap tapi konsentrasinya rendah. Oleh karena itu masih memerlukan tambahan bahan lain seperti inokulasi mikroba yang dapat mempercepat perombakan dan pelepasan hara pupuk organik, membantu menambat N, dan melarutkan P di dalam tanah sehingga siap untuk diserap tanaman. Keuntungan lain yang diperoleh adalah bahwa kandungan kimia dalam tumbuhan seperti azadirachtin (mimba) bersifat sistemik, yaitu dapat meresap kedalam jaringan tumbuhan sehingga apabila diaplikasikan sebagai pupuk di tanah maka apabila terserap oleh tanaman akan ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya, seperti daun dan akan berfungsi melindungi tanaman dari gangguan OPT. Kompos plus (penggunaan pupuk kandang, mimba, pahitan, dan kacang babi) mempunyai fungsi ganda selain sebagai pupuk organik yang dapat menyuburkan tanah, meningkatakan produktivitas tanaman juga secara nyata efektif untuk mengendalikan OPT dan aman terhadap serangga berguna. Penggunaan kompos plus pada tanaman kentang dapat menekan serangan hama secara umum sebesar 11,62%, orong-orong (12,62%) dan nematoda (60,25%) serta dapat meningkatkan serangga berguna sebesar 24,30%. Penggunaan kompos plus pada tanaman cabai merah, dapat menekan serangan OPT penting seperi thrips sebesar 57,46%, tungau (38,11%) dan H. armigera (19,79%). Hasil-hasil penelitian tersebut mengidentifikasikan bahwa pembuatan kompos berbasis tumbuhan sebagai bahan biopestisida dengan mengombinasikannya dalam satu formulasi tunggal dapat digunakan sebagai pupuk dan biopestisida untuk pengembangan budidaya sayuran ramah lingkungan. Namun demikian, kombinasi pencampuran pupuk organik antara pupuk kandang dan tumbuhan biopestisda perlu dikaji ulang. Misalnya dosis yang diaplikasikan sehingga dapat memenuhi kebutuhan hara secara cukup dan ekonomis. Penulis : M. Lubis Ishak (PP. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Merangin) Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/3597/