Loading...

Pemanfaatan Limbah Pengolahan Lobak (Raphanussativus) Sebagai Pakan Kambing

Pemanfaatan Limbah Pengolahan Lobak (Raphanussativus)  Sebagai Pakan Kambing
Terbatasnya lahan yang tersedia sebagai sumber pakan dalam bentuk hiijauan pakan ternak, menuntut adanya upaya eksploitasi lahan secara optimal serta eksplorasi potensi dan pemanfaatan berbagai bahan baku yang bukan merupakan bahan pakan konvensional. Pemanfaatan berbagai bahan baku tersebut memerlukan sentuhan teknologi agar dapat menjadi sumber nutrisi untuk kebutuhan hidup pokok dan produksi ternak.Bahan baku pakan ini sangat beragam, sehingga menawarkan fleksibilitas tinggi bagi peternak untuk memilih bahan baku. Namun, pada saat yang sama keragaman bahan tersebut juga menghadirkan kompleksitas agar dapat digunakan secara efisien.Ketersediaan pakan alternatif sangat penting dalam meningkatkan efisiensi produksi kambing. Sumber potensial pakan alternatif bagi kambing adalah hasil ikutan atau limbah industri pengolahan produk pertanian menjadi produk olahan. Industri seperti ini umumnya menghasilkan material dalam volume besar, terkonsentrasi dan tersedia sepanjang waktu, sehingga secara kuantitatif ideal bagi pemenuhan kebutuham produksi ternak. Namun, secara kualitatif potensi produk limbah atau hasil samping industri pengolahan produk pertanian sangat beragam, tergantung kepada jenis produk dan proses pengolahannya. Salah satu produk limbah yang potensi nutrisinya belum dieksplorasi sebagai pakan ternak adalah limbah industri pengolahan sayur lobak (Raphanus sativus) berupa umbi yang tidak memenuhi persyaratan (afkir) untuk diolah menjadi produk pangan. Analisis kandungan kimawi menunjukan potensi sebagai sumber energi. Lobak atau oriental radish merupakan tanaman umbian yang sangat populer sebagai pangan di negara Asia Timur. Tanaman ini memiliki nama lokal seperti lor bark di China, Mu di Korea, labanos di Filipina atau cu-cai trang di Vietnam (Okine et al. 2007). Produk limbah dari industri pengolahan umbi lobak menjadi produk pangan terdiri dari daun dan umbi afkir yang tidak dapat diolah karena kerusakan (afkir). Potensi biomasa limbah ini mencapai sekitar 20% dari total bahan baku yang digunakan dalam industri pengolahan (National Agricultural Research Organization 2001). Di Indonesia, industri pengolahan umbi lobak menjadi produk pangan dengan tujuan ekspor terdapat di Sumatera Utara. Limbah lobak mengandung karbohidrat mudah larut (bahan ekstrak tanpa nitrogen, BETN) yang cukup tinggi yaitu sekitar 37,2% (Ginting et al. 2004b). BETN dapat menjadi sumber energi mudah larut didalam rumen (van Soest 1982), sehingga penggunaan limbah umbi lobak dapat dikombinasikan dengan bahan lain yang memiliki kandungan nitrogen bukan protein (NBP), seperti urea untuk mengoptimalkan kondisi rumen dalam proses pencernaan bahan pakan. Oleh karena kandungan airnya yang relatif tinggi (35%), maka umbi lobak tergolong wet-byproduct yang mudah rusak jika tidak diproses. Ginting et al. (2004b) melakukan proses pengeringan dan penepungan untuk memanfaatkan umbi lobak sebagai pakan suplemen pada kambing.Penggunaan tepung umbi lobak sebagai bahan suplemen dapat menghasilkan laju PBBH sebesar 56-65 g pada kambing fase tumbuh dengan rasio konversi pakan (konsumsi/pertambahan berat badan) antara 12-14. Tepung umbi lobak juga dapat digunakan dalam pakan komplit untuk kambing dengan taraf penggunaan antara 15-40% (bahan kering). Proses pengeringan dengan sinar matahari membutuhkan waktu antara 5-7 hari, sehingga cara ini sulit diterapkan selama musim hujan.Penggunaan mesin pengering secara teknis efektif, namun terkendala oleh kebutuhan energi yang relatif mahal. Proses pengeringan dapat dipercepat dengan terlebih dahulu melakukan chopping atau penggilingan dan selanjutnya hasil cacahan atau penggilingan dicampur dengan bahan pakan lain yang dapat berfungsi sebagai penyerap air (absorbant).Teknologi ensilase untuk preservasi menjadi produk silase merupakan teknologi alternatif yang dapat digunakan untuk pemanfaatan umbi lobak sebagai pakan secara efisien. Hasil penelitian Okine et al. (2007) menunjukkan bahwa produk silase dapat dihasilkan dengan baik menggunakan beberapa bahan penyerap air (absorbant) seperti dedak dan kulit kacang kedelai untuk menurunkan kadar air umbi lobak. Produk silase yang dihasilkan dapat digunakan selama empat hari setelah silo dibuka, dan silase mulai mengalami pelapukan setelah hari ke lima. Dengan demikian, tekonologi ensilase ini dapat digunakan sebagai cara preservasi terutama untuk melakukan penyimpanan pakan dalam jumlah besar. (Suwarna – Penyuluh BPPSDMP) Sumber : Berbagai sumber