Penulis : Sigit Eko Susilo, SSTApabila kita lihat di lahan persawahan kususnya di daerah kalimantan pada masa-masa setelah panen, kita akan menjumpai banyaknya sisa-sisa tanaman yaitu jerami yang belum dimanfaatkan. Banyak diantara sebagian petani yang menganggap bahwa jerami merupakan limbah yang perlu di musnahkan salah satunya dengan cara dikabar, karena dianggap tidak mempunyai manfaat untuk dirinya. Dimana kita ketahui bahwa sebenarnya jerami dapat dimanfaatkan untuk banyak hal, diantaranya adalah sebagai pakan ternak dan bahan pembuatan pupuk organik kompos.Salah satu manfaat jerami untuk tanah / lahan sawah yang bisa dipetik yaitu tingkat kesuburan tanah manjadi lebih baik daripada sebelumnya, ini dikarenakan didalam jerami banyak pupuk yang dikandungnya mulai dari pupuk N, P, K, S, Si, Ca, dan Mg. Sebagai ilustrasi ketika hasil panen padi sebanyak 5 Ton Gabah, maka lahan akan kehilangan unsur hara sekitar 150 kg N, 20 kg P, dan 20 kg S. Selain itu juga, semua unsur K dan sepertiga dari N, P dan S terdapat pada jerami padi, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa jerami merupakan salah satu sumber pupuk organik yang sangat baik. Apabila berat jerami mencapai 1,5 Ton, maka diperkirakan kandungan yang terdapat pada jerami mengandung unsur / pukuk berkisar 9 kg N, 2 kg P, dan S 25 kg Si, 6 kg Ca dan 2 kg Mg. Kandungan dari jerami yang bermanfaat untuk tanah diantaranya adanya senyawa N dan C berfungsi sebagai substrat metabolisme mikroba tanah, ternasuk gula, pati, selulose, hemiselulose, pektin, lignin, lemak dan protein.Pupuk Kompos adalah salah satu pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa bahan organik seperti tanaman maupun hewan. Proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik yaitu melibatkan oksigen dan anaerobik atau tanpa menggunakan osigen di dalam prosesnya. Proses dekomposisi atau penguraian inilah yang menjadikannya disebut sebagai pupuk kompos. Sedangkan arti dari proses pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos berarti mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan. Sebagai pupuk alami, keberadaan kompos terutama sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah, di samping untuk menyuplai unsur hara. Ada banyak cara pembuatan pupuk organik kompos, diantaranya adalah pembuatan pupuk kompos dengan bak semen dan pembuatan pupuk kompos dengan metode karung. Dalam artikel ini akan dibahas cara pembuatan pupuk kompos dengan metode karung, karena dianggap lebih mudah untuk dilaksanakan.Berikut adalah langkah-langkah pembuatan pupuk organik kompos dengan metode karung :Potong/cacah dengan ukuran 2 s/d 3 cm sampah organik yang akan dibuat kompos.Campur sampah coklat dan sampah hijau dengan perbandingan 1:2. Jika terlalu banyak sampah coklat, pengomposan akan memakan waktu lama.Ratakan sampah yang akan dibuat kompos sebelum dicampur dengan Mikro Organisme Lokal (MOL).Sirami permukaan sampah secara merata dengan MOL.Aduk agar MOL tercampur merata. Siram kembali dengan MOL sampai sampah terlihat basah kemudian aduk kembali.Masukkan sampah ke dalam karung, setelah diangin-anginkan sebentar, kemudian karung diikat.Karung ditusuk-tusuk dengan obeng atau alat lainnya secara merata agar oksigen (udara segar) bisa masuk.Simpan di tempat yang tidak kehujanan dan tidak terkena sinar matahari langsung.Seminggu sekali Langkah 3 s/d 8 diulang kembali. Dalam waktu enam minggu kompos sudah jadi dan siap digunakan.Demikian sekilas cara pembuatan pupuk organik kompos, semoga bermanfaat dan nantinya dapat diterapkan oleh petani, dengan harapan tidak ada lagi limbah pertanian / jerami yang terbuang sia-sia. Harapan lain tentunya adalah dengan pemanfaatan jerami menjadi pupuk kompos dapat menekan biaya usaha tani dan dapat memperbaiki sruktur dan kesuburan tanah.