Loading...

Pemanfaatan Limbah Ternak Besar (sapi) Sebagai Produk Home Industry Yang Menguntungkan (oleh : Musawwir)

Pemanfaatan Limbah Ternak Besar (sapi) Sebagai Produk Home Industry Yang Menguntungkan (oleh : Musawwir)
PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK PEMANFAATAN LIMBAH TERNAK BESAR (SAPI) SEBAGAI PRODUK HOME INDUSTRY YANG MENGUNTUNGKAN "Pemanfaatan Limbah Feses Menjadi Kompos, Isi Rumen Sapi (IRS) Sebagai Pakan, Serta Limbah Kulit Menjadi Kerupuk Kulit" OLEH : MUSAWWIR WILAYAH KERJA PENYULUH PERTANIAN KATIMBANG KELURAHAN KATIMBANG KECAMATAN BIRINGKANAYA DINAS PERIKANAN DAN PERTANIAN KOTA MAKASSAR MAKASSAR,2019 PENDAHULUAN Dari namanya saja dapat langsung diketahui bahwa kotoran ternak pasti bersifat kotor, mempunyai bau tidak sedap, menjijikkan dan sederet kejelekan lainnya. Anggapan seperti ini memang tidak salah sebab tanpa perlakuan apa pun keadaannya memang demikian. Tidak mengherankan jika kotoran ternak ini sering menimbulkan masalah daripada mendatangkan manfaat (Setiawan, A.I., 2007). Jika tidak dikelola dengan baik, kotoran ternak dapat menurunkan mutu lingkungan (kesehatan) dan mengganggu kenikmatan hidup masyarakat. Tumpukan kotoran ternak yang tercecer akan terbawa oleh aliran air hujan kedaerah daerah yg lebih rendah. Hal ini akan mencemari air tanah dan air sungai yang sebenarnya jauh dari dari lokasi peternakan. Pengaruhnya akan semakin besar bila ditunjang oleh kebiasaan masyarakat yang kurang baik, yaitu menggunakan air sungai untuk kegiatan mandi dan cuci, sehingga penyakit mudah menyebar. Dengan demikian, selain anjuran untuk menjauhkan lokasi peternakan dari lokasi pemukiman, perlu dicari cara yang efektif untuk mengurangi resiko pencemaran lingkungan. Permasalahan kotoran ternak sapi tersebut membutuhkan pemecahan masalah “bagaimana memanfaatkan kotoran ternak sapi untuk keperluan yang lebih bermanfaat dan menguntungkan serta mengurangi resiko pencemaran lingkungan akibat limbah dari kotoran ternak sapi”. Pengolahan limbah ternak merupakan salah satu cara untuk memberi manfaat banyak. Pada satu sisi, pengolahan limbah akan mengurangi dampak terhadap lingkungan. Di sisi lain, pengolahan limbah memberikan keuntungan finansial karena pengolahannya menghasilkan produk yang memiliki daya jual. Limbah ternak secara umum merupakan sisa buangan dari kegiatan usaha pemeliharaan ternak, rumah pemotongan ternak, serta pengolahan produk ternak. Limbah terdiri dari bagian padat dan cair, antara lain ; feses, urin, sisa makanan, lemak, darah, kuku, bulu, tanduk, tulang, isi rumen, embrio, kulit telur (Nurzainah G., 2007) P PROSPEK EKONOMI LIMBAH TERNAK Berbagai jenis pengolahan limbah ternak antara lain ; bulu, wool, kulit, tulang, dan tanduk dapat dibuat barang kerajinan yang dapat menambah penghasilan para peternak. Bulu, tulang dan kerabang telur yang telah dikeringkan dan digiling menjadi tepung bisa digunakan sebagai sumber protein dan mineral pelengkap untuk ternak. Feses, urin dan sisa pakan bisa diolah menajdi energi biogas, pupuk organik padat dan pupuk oganik cair. Manajemen pengelolaan limbah diperlukan agar dalam suatu usaha peternakan diperoleh efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan semua faktor produksi dalam menghasilkan produk yang maksimal dan menghasilkan dampak yang minimal. Salah satu cara untuk dapat memperoleh efisiensi dan efektivitas dalam usaha peternakan adalah dengan menyinergiskan usaha peternakan dengan pertanian, perkebunan dan perikanan. Dengan cara ini problem limbah ternak dapat diatasi, karena kotoran/limbah ternak dapat digunakan sebagai pupuk dan makanan ternak atau ikan sehingga dengan konsep usaha peternakan seperti ini dapat meniadakan keberadaan limbah (zero waste). Salah satu contoh prospek ekonomi Limbah ternak yaitu proses pengolahan Limbah ekskreta secara fisik merupakan proses termurah dan termudah, karena tidak memerlukan biaya operasional yang tinggi. Metode ini hanya digunakan untuk memisahkan partikel-partikel padat di dalam limbah. Beberapa kegiatan yang termasuk dalam pengolahan secara fisik antara lain sedimentasi dan filtrasi (Parakassi A., Koes Hardini SYP., 2014). Saat ini sudah tersedia mesin komersial yang dapat digunakan untuk menangani limbah ternak dalam jumlah banyak. Bagian/fraksi padat (Separated Manure Solid/SMS) yang dihasilkan selama proses pemisahan terutama terdiri dari partikel-partikel yang kasar yang berasal dari hijauan segar (hay ataupun silase), biji-bijian, bahan-bahan yang berasal dari alas kandang (bedding), jerami, bulu ternak, batu-batu kecil, pasir dan bahan atau serat organik. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bila SMS (Separated Manure Solid) tersebut dapat digunakan kembali sebagai bagian dari ransum (misalnya dengan dibuat silase terlebih dahulu) yang secara ekonomis dapat memberi nilai tambah (Parakassi A., Koes Hardini SYP., 2014). A. PEMANFAATAN LIMBAH “FESES” (KOTORAN) TERNAK SAPI MENJADI PUPUK ORGANIK PADAT (KOMPOS) Satu alternatif utama untuk mendaur ulang sampah permukiman/ perkotaan dpat dilakukan dengan pengomposan atau memanfaatkan kotoran ternak dan sisa tanaman. Pengomposan ditakrifkan sebagai proses biologi oleh mikroorganisme secara terpisah atau bersama-sama dalam menguraikan bahan organik menjadi bahan sejenis humus, sehingga pengomposan menyiapkan makanan untuk tanaman diluar petak pertanaman dan sekaligus menghilangkan senyawa yang mudah teroksidasi dan keberadaannya tidak dikehendaki. Proses pengomposan juga bermanfaat untuk mengubah limbah yang berbahaya seperti: tinja, sampah dan limbah cair menjadi bahan yang aman dan bermanfaat. Kompos dibuat dari bahan organik dari berbagai sumber. Dengan demikian kompos merupakan sumber bahan organik dan nutrisi tanaman. Bahan dasar kompos mengandung selulose 15%-60%, hemiselulosa 10%-30%, lignin 5%-30%, protein 5%-40%, bahan mineral (abu) 3%-5%, disamping itu terdapat bahan larut air panas dan dingin (gula, pati, asam amino, urea, garam ammonium) sebanyak 2%-30% dan 1%-5% lemak larut eter dan alcohol, minyak dan lilin. Setelah mengalami penimbunan dipermukaan anah, akan menghasilkan bahan terhumifikasi berwarna gelap, setelah 3-4 bulan dan merupakan sumber bahan organik untuk pertanian berkelanjutan. Tahap pengomposan terdiri dari tiga tahap yaitu tahap dekomposisi dan sanitasi, tahap konservasi dan tahap sintetik. Tahap pengomposan ada 3 tahap yaitu: Tahap dekomposisi dan sanitasi Tahap konservasi Tahap sintetik Selama tahapan awal atau dekomposisi intensif berlangsung, dihasilkan suhu yang cukup tinggi dalam waktu elatif pendek dan bahan organik yang mudah terdekomposisi akan diubah menjadi senyawa lain. Selama tahap pematangan utama dan pasca pematangan bahan sukar terdekomposisi akan terurai dan terbentuk ikatan komplek lempung humus. Produk yang dihasilkan adalah kompos matang. Hal ini juga tergantung pada kecepatan dekomposisi, kompos segar dan matang dapat dibedakan atas kategori kematangan II dan III atau IV dan V. Adapun ciri-ciri kompos segar yaitu: Nitrogen dalam bentuk ion amonium Sulfur sebagian bentuk ion sulfit Diperlukan oksigen dalan jumlah tinggi Konsentrasi hara tinggi Hara tidak tersedia untuk tanaman Konsentrasi vitamin dan antibiotik rendah Konsentrasi bakteri tanah dan fungsi tinggi yang mendekomposisi bahan organik Persentase senyawa organik yang tidak termineralisasi tinggi Kapasitas pengikatan air rendah Tidak ada komplek lempung-humus Tidak kompatibel dengan tanaman Adapun ciri-ciri kompos matang yaitu: Nitrogen dalam bentuk nitrat Sulfur dalam bentuk ion sulfat Diperlukan oksigen dalam jumlah rendah Konsentrasi hara rendah Sebagian tersedia untuk tanaman Konsentrasi vitamin dan antibiotic tinggi Konsentrasi bakteri tanah dan fungi lebih tiggi yang terbentuk dari peruraian senyawa yang mudah terdekomposisi Aras mineralisasi 50% Kapasitas pengikatan air tinggi Terbentuk komplek lempung-humus Kompatibel dengan tanaman (Sutanto, R., 2010) BAHAN BAKU KOMPOS/PUPUK ORGANIK (BAHAN DAN ALAT) Limbah pertanian (jerami, sisa pakan hijauan ternak, sekam, serbuk gergaji, daun-daunan kering, cabang/ranting, dll.) Kotoran ternak (sapi, kambing, domba, ayam, itik, mentok, kelinci, dll) Aktivator/Probiotik (Orgadec, Stardec, EM4, Harmony, Fix-Up Plus, Superdegra, Rumino Bacillus, dll) Air (Air tanah; sumur) Molases/ gula pasir Arang sekam/abu dapur Dolomit/ kapur tohor CARA PEMBUATAN (PROSEDUR PENGOLAHAN) Ambil kotoran segar satu bagian ; Campur dengan serbuk gergaji ½ bagian, arang sekam ½ bagian dan dolomit 2% (1:50) dari bahan baku aduk hingga rata; Siram adonan dengan air yang dicampur dengan EM4 dengan perbandingan 1 liter air dengan EM4 1 sloki kemudian di aduk lagi sampai adonan bisa kepal hingga larutan adonan < 60%; Tutup dengan bahan kedap udara Periksa temperatur Periksa temperatur harian (harus <50%), jika lebih segera aduk adonan, 8-12 hari pupuk sudah bisa dipanen. PEMASARAN Ciri-ciri kompos /pupuk organik yang siap untuk dipasarkan ; Warna : warna kompos coklat kehitaman Aroma ; Kompos tidak mengeluarkan aroma menyengat, aroma lemah seperti bau tanah atau humus Apabila dikepal, kompos akan menggumpal, bila ditekan, gumpalan kompos akan hancur dengan mudah (Anonim, 2011) B. PENGOLAHAN ISI RUMEN SAPI (IRS) SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF SUMBER PROTEIN Satu diantara upaya untuk menekan biaya pakan dapat dilakukan dengan mencari bahan pakan alternatif yang relatif murah dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan pemanfaatan limbah organik hasil pertanian dan limbah industry olahannya antara lain kulit kacang, bungkil biji-bijian, pollard, ampas tahu dan campuran onggok dan isi rumen sapi sebagai sumber serat pengganti hiajuan pakan Pakan hijauan dan bahan berserat sebagai pakan asal ruminansia akan difermentasi oleh mikroba rumen sehingga menghasilkan asam lemak terbang sebagai sumber energi dan pasokan rantai karbon serta sebagian mengandung substansi tanin kondensasi untuk proteksi protein terhadap fermentasi rumen. Karena adanya keterbatasan memproduksi pakan hijauan terutama terjadi pada musim kemarau dan karena menyempitnya lahan akibat meluasnya penggunaan lahan terutama untuk pemukiman dan pembangunan yang lain, perlu dicari bahan pakan alternatif utamanya berupa limbah pertanian hasil sampingan dari pengolahan bahan hasil tanaman pangan untuk mengurangi pakan hijauan dalam upaya penyediaan ransum ternak potong seperti kambing melalui pemanfaatan limbah organik onggok dan isi rumen sapi (OIRS) dalam pakan komplit. Lebih jauh isi rumen sapi (IRS) merupakan limbah organik dari rumah potong hewan dan sampai saat sekarang bahan ini masih menimbulkan masalah rumit dan mengganggu kebersihan lingkungan (Usman Ali, 2012). Isi rumen limbah rumah potong hewan di satu sisi menjadi masalah lingkungan karena kuantitasnya yang besar dimana produksi di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 240 juta liter, baunya kuat, kandungan air tinggi sehingga sulit penanganannya. Di sisi lain dengan kuantitas yang besar ditambah kandungan zat makanannya yang tinggi, mengandung pakan yang sebagian besar sudah tercerna sehingga siap dimanfaatkan oleh ternak, dan mengandung mikrobia dalam jumlah sangat besar sehingga berpotensi sebagai sumber single-cell protein berkualitas baik, maka isi rumen limbah rumah potong hewan mempunyai potensi sebagai pakan ternak sumber protein. Namun kendala pemanfaatan isi rumen sebagai pakan adalah baunya yang sangat kuat sehingga mengurangi palatabilitas, dan kadar airnya yang sangat tinggi sehingga menyebabkan sulit untuk menangani/mengolahnya dan pemberiannya pada ternak (Marjuki, Rini D.W., 2013). Rumen dan bagian perutan lainnya dibersihkan dalam ruang khusus pembersih perutan dan tidak ada bagian yang dibuang, kecuali ceceran yang tidak sempat terambil dan terbawa masuk ke saluran limbah. Rumen, setelah dikeluarkan dari tubuh sapi disalurkan lewat jalur khusus memasuki ruang khusus pembersih perutan. Diruangan ini rumen dibelah, dan isinya dimasukkan dalam bejana khusus dan ditambahkan air untuk kemudian ditembakkan ke penampung isi rumen dengan “Blow Gun”. Sebagian besar kandungan isi rumen adalah bahan lignoselulosa (seperti rumput, merang dll) dan bahan pencerna meragi (digestive ferments) (Djoko Padmono, 2005). BAHAN UJI YANG DILAKUKAN : Pakan yang tersusun dari campuran OIRS (onggok dan Isi Rumen Sapi), bekatul, jagung kuning, bungkil kelapa, bungkil biji kapok, pollard, kulit kacang, kulit kelapa, tongkol jagung, molasses, urea dan mineral (Ca(OH)2 PROSES PENGOLAHAN : Semua bahan disatukan dengan penambahan Ca(OH)2 sebanyak 0 atau 2%, dan uji lain dengan penambahan urea 1,5 dan 3% dari berat isi rumen atau total berat isi rumen ditambah bekatul dan bahan lainnya. Pada dasarnya pemanfaatan produk tersebut sebagai pakan ternak harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum dicampur dengan bahan pakan lain. PEMASARAN ; Diharapkan penggunaan isi rumen sapi dapat menjadi bahan pakan sumber protein bagi ternak yang berdaya jual sebagai pakan alternatif yang tidak bersaing dengan kebutuhan pangan manusia. C. PEMANFAATAN LIMBAH KULIT SAPI MENJADI KERUPUK KULIT SAPI Kerupuk kulit (kerupuk rambak) merupakan makanan yang berasal dari bahan dasar kulit sapi yang masih muda, sapi merupakan penghasil kulit yang berkualitas untuk bahan dasar kerupuk. Cara membuat kerupuk kulit tergolong sangat rumit dan membutuhkan pekerja yang cukup banyak. Umumnya kerupuk ini berbentuk panjang dan kotak-kotak kecil. Adapun Manfaat Kerupuk Kulit Sapi, adalah ; Memiliki Kandungan Protein yang tinggi Dapat menyembuhkan maag Dapat mengobati rasa pedas Baik untuk kesehatan dan juga perumbuhan tulang Bahan campuran makanan Berikut cara membuat kerupuk kulit atau kerupuk rambak. Bahan-bahan dan Alat Membuat Kerupuk Kulit Sapi : 1 kg kulit sapi Air kapur secukupnya Minyak goring Oven panjang Peralatan tajam Pisau yang sangat tajam Wajan Penggorengan Lahan untuk Menjemur dan Mengeringkan Bumbu-bumbu yang dihaluskan untuk membuat Kerupuk Kulit Sapi : 15 siung bawang putih 2 sendok makan gula pasir 3 sendok makan garam Cara Membuat/mengolah dan Menggoreng Kerupuk Kulit Sapi, yaitu : Terlebih dahulu kulit sapi direndam ke dalam air kapur selama kurang lebih 2 hari. Lalu Bersihkan bulu-bulunya kulit sapi menggunakan pisau, Jemur kulit sapi tersebut dibawah sinar matahari langsung sampai kering. Kemudian potong-potong kulit sapi yang sudah kering sesuai selera.Sisihkan. Rebus potongan kulit sapi bersama bumbu yang sudah dihaluskan hingga kulit matang. Angkat dan tiriskan kemudian jemur hingga benar-benar kering. Siapkan penggorengan untuk tahap pertama. Goreng kerupuk kulit sapi atau keupuk rambak kering dalam minyak dengan suhu sedang dan menggunakan api kecil sampai kerupuk kulit sapi agak mekar. Angkat dan tiriskan. Siapkan penggorengan tahap kedua. Goreng kembali kerupuk kulit sapi tadi dalam minyak panas menggunakan api besar hingga kerupuk kulit sapi atau kerupuk rambak mekar. Angkat dan tiriskan. Biarkan dingin. Setelah kerupuk kulit sapi atau kerupuk rambak dingin, masukkan dalam wadah yang tertutup rapat, Kerupuk kulit sapi atau kerupuk rambak siap disajikan PEMASARAN : Kerupuk kulit sapi merupakan makanan khas Indonesia yang merupakan sebuah makanan ringan sederhana, bercita rasa tinggi, yaitu kerupuk kulit sapi (rambak) special (istimewa) yang renyah (crispy), krenyes, gurih, nikmat, sedap, enak dan juga lezat. Harga daripada kerupuk kulit atau kerupuk rambak lebih mahal dari jenis kerupuk yang lain. Hal ini karena bahan utama dari pembuatan kerupuk ini tergolong mahal dan terkadang langka yaitu kulit sapi, kerbau atau kambing. (Yuni Erlita, 2016). PENUTUP Pemanfaatan Limbah Ternak Besar (Sapi) sebagai produk industry rumah tangga (Home Industry) yang menguntungkan telah dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pemanfaatan kompos sebagai pupuk organik bagi tanaman. Pupuk Organik Cair dari urine ternak yang dapat merangsang pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Selain itu, Pemanfaatan Isi Rumen Sapi menjadi pakan alternatif sumber protein bagi ternak sehingga memperbaiki perkembangan bobot ternak selanjutnya. Pada tahap akhir, kulit sapi dapat dijadikan bahan makanan pendamping yakni kerupuk kulit yang bernilai gizi tinggi. Pemanfaatan limbah ternak sapi secara holistik meliputi seluruh tahapan produksi, yakni pada tahap pemeliharaan dapat diperoleh limbah kotoran ternak yang berupa feses dan urin yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair dan pupuk organik padat (kompos). Pada tahap pemotongan dapat diperoleh isi rumen yang dapat diolah menjadi pakan alternatif sumber protein bersama dengan onggokan dan bahan-bahan lain yang sesuai kebutuhan ternak. Pada fase setelah pemotongan dapat diperoleh kulit sapi yang bisa dijadikan kerupuk kulit sapi atau kerupuk rambak. DAFTAR PUSTAKA Anonim., 2011. Pupuk Organik Padat Berbahan Dasar Kotoran Ternak. Bidang Peternakan Dinas kelautan Perikanan Pertanian dan Peternakan Kota Makassar. (Leafleat). Djoko Padmono, 2005. Alternatif Pengolahan Limbah Rumah Potong Hewan-Cakung. Peneliti Pusat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. P3TL-BPPT. Studi Kasus. Hal 305 Marjuki, Rini D.W., 2013. Pengolahan Isi Rumen Limbah Rumah Potong Sapi Sebagai Pakan Ternak Sumber Protein Melalui Proses Fortifikasi dan Fermentasi. Universitas Brawijaya, Malang. Hal 1-3. Nurzainah G., 2007. Penuntun Praktikum Teknologi Pengolahan Limbah Peternakan. Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Hal 1-2. Parakassi A., Koes Hardini SYP., 2014. Sistem Peternakan dan Limbahnya. Hal. 27 Setiawan A.I., 2007. Memanfaatkan Kotoran Ternak. Penebar Swadaya. Hal 1-4. Sutanto, R., 2002. Pertanian Organik menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Kanisius, Jakarta. Usman Ali, 2012. Pengaruh Penggunaan Onggok dan Isi Rumen Sapi Dalam Pakan Komplit Terhadap Penampilan Kambing Peranakan Etawah. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, fakultas Peternakan Universitas Islam Malang. Hal 1-2. Yuni Erlita, 2016. Cara Membuat Kerupuk Kulit Sapi. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. www. Cara Memasak enak.com.>aneka kerupuk, publish 28 Juli 2016.