Peningkatan produksi padi umumnya telah berhasil, namun nilai tambah yang diperoleh belum sepenuhnya dinikmati petani terutama masih tingginya kehilangan hasil. Hal ini disebabkan belum baiknya sistem penanganan panen dan pascapanen, sehingga tingkat kehilangan hasil masih lebih dari 20%. Pascapanen atau kegiatan setelah panen merupakan tahapan kegiatan usahatani padi yang paling kritis, baik yang terkait dengan ketersediaan tenaga kerja maupun susut panen atau kehilangan hasil. Apabila penerapan alsintan pascapanen dapat berlangsung dengan baik maka kehilangan hasil pada saat panen, perontokan, dan pengeringan dapat ditekan serendah mungkin. Perontokan dengan menggunakan power thresher, disamping dapat meningkatkan kapasitas perontokan juga dapat menekan gabah hampa, gabah tidak terontok, dan kehilangan hasil bila dibandingkan dengan cara digebot. Perkembangan Thresher Ketersediaan power thresher cukup memadai, tetapi pemanfaatannya sangat terbatas. power thresher sudah dimanfaatkan, tetapi dengan tingkat pengguna jasa yang masih rendah, yaitu dengan rata-rata pada musim hujan dan kemarau masing-masing hanya 30%. Sebagian kecil petani yang memanfaatkan jasa power thresher karena menyadari manfaatnya dalam mempercepat perontokan gabah dan mengurangi kehilangan hasil. Sebaliknya, sebagian besar petani menyatakan bahwa pedal thresher tidak praktis karena memerlukan tenaga kerja manusia untuk mengoperasikannya serta waktu perontokan dan tingkat kehilangan hasil tidak berbeda nyata dibandingkan dengan sistem gebot. Pemanfaatan power thresher di tingkat petani sangat rendah disebabkan karena secara umum tenaga kerja panen masih berlimpah, adanya sistem ceblokan, dan tingkat kepedulian sosial masih relatif tinggi. Power thresher yang dikembangkan ternyata relatif berat sehingga sangat sukar dan memerlukan tenaga kerja yang cukup banyak (3-4 orang) untuk di bawa ke areal sawah yang terletak di pinggir jalan dan tidak dapat di bawa ke areal sawah yang terletak di tengah karena tidak adanya jalan usahatani. Saat panen raya tenaga manusia hanya mampu memotong dan mengumpulkan, sehingga untuk mengejar waktu panen petani memanfaatkan thresher. Dengan demikian, thresher sebenarnya merupakan tenaga tambahan terhadap tenaga kerja manusia pada masa-masa kegiatan puncak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi penggantian tenaga kerja manusia oleh alsintan, tetapi lebih bersifat melengkapi, karena apabila terjadi substitusi akan diindikasikan oleh kecenderungan upah riil yang konstan atau menurun. Dalam kaitan dengan pengembangan alsintan perlu diterapkan kebijaksanaan pola pengembangan melalui pendekatan spesifik lokasi, yaitu spesifik berkaitan dengan wilayah pengembangan dan jenis alsintan yang dikembangkan. Jenis thresher yang sesuai untuk dikembangkan adalah dengan karakteristik tidak begitu berat sehingga mudah melintasi berbagai medan seperti pematang sawah dan petakan kecil, perbaikan dan perawatan mudah, serta mudah diproduksi oleh pengrajin, secara ekonomis harus menguntungkan, dapat beroperasi dalam jangka panjang, secara sosial dapat diterima, dan bersifat melengkapi tidak menjadi penggantian tenaga kerja manusia yang ada, sehingga menimbulkan penganngguran. Pengembangan alsintan harus didukung oleh program lainnya seperti: penyediaan suku cadang, ketersediaan bengkel, dan peningkatan keterampilan sumberdaya manusia (operator, manajer, dan lain-lain) Faktor efisiensi pelaksanaan kegiatan di lapangan menjadi faktor utama dalam pemilihan jenis, sistem dan alat yang dapat mendukung kegiatan pasca panen padi. Salah satu tahapan kegiatan penanganan pasca panen padi yaitu perontokan padi. Tingkat kehilangan hasil yang diakibatkan oleh belum tepatnya dalam pelaksanaan kegiatan perontokan padi dapat mencapai 5%. Beberapa faktor yang mempengaruhi kapasitas dan kinerja kegiatan perontokan padi diantaranya yaitu varietas padi, sistem pemanenan, mekanisme perontokan, penundaan perontokan serta faktor kehilangan hasil. Berdasarkan daya kerontokan padi dapat diklasifikasikan kedalam tingkat tahan rontok, sedang serta mudah rontok. Sistem panen mempengaruhi faktor keterlambatan perontokan padi serta faktor kehilangan hasil. Secara garis besar, sistem perontokan padi terbagi menjadi manual, pedal threser serta mesin power threser. Faktor yang mempengaruhi mesin perontok diantaranya yaitu kapasitas kerja serta faktor kehilangan hasil. Penundaan perontokan padi dapat mempengaruhi kualitas serta kuantitas dari gabah dan beras yang dihasilkan. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai mekanisme, kinerja dan faktor yang mempengaruhi tahapan kegiatan perontokan padi, dilakukan penelaahan mengenai kegiatan perontokan padi sehingga dalam pelaksanaannya di lapangan perlu dipertimbangkan faktor-faktor sebagaimana tertera diatas untuk optimalisasi kinerja pada perontokan padi. Power Thresher adalah mesin yang digunakan untuk merontokan padi atau gabah pada batangnya setelah proses panen. Jenis mesin ini banyak dipakai dalam industri pertanian menengah hingga besar. Bahkan sudah ada jenis mesin mini yang cenderung praktis karena dari ukuran dan desain tak menyita banyak ruang. Mekanismenya juga sangat cepat dan selalu menghasilkan rontokan gabah dengan hasil maksimal. Terdapat banyak sekali ukuran dan juga kapasitas power thrseher. Untuk ukuran standar Kapasitasnya mampu menghasilkan 1000 hingga 2000 kg per jam. Mesin ini menggunakan engine diesel sampai 5 PK diesel. Mesin perontok padi atau gabah ini digerakkan oleh sistem yang telah dikembangkan dan dicocokkan untuk proses paska panen. Adanya sistem mekanisasi yang dapat menyempurnakan proses perontokan padi pada batangnya dan menurunkan risiko terpecah atau terpotongnya gabah secara tidak tepat. Dilihat dari sudut pandang bisnis, penggunaan power thresher ini memang sangat prospektif dan tak heran kalau ada banyak jasa perontokan padi yang khusus menggunakan mesin ini dan dimanfaatkan oleh para pengusaha pertanian. Keuntungan Menggunakan Mesin Perontok Padi | Power Thresher Hasil rontokan padi atau gabah yang lebih cepat dan sempurna. Apalagi jika memanen hasil pertanian dari lahan yang luas. Kalau melakukan penggilingan secara tradisional atau manual hanya akan menyita banyak waktu. Hasil perontokan gabah yang sempurna karena terbukti mulus dan efisien serta meningkatkan hasil panen. Mudah dioperasikan dan karena inilah akan mempersingkat waktu paska panen dengan menggunakan mesin perontok padi ini. Jadi, penggunaan mesin power thresher untuk usaha pertanian menengah dan besar sekarang ini memanfaatkan tipe mesin terbaik. Cara pemakaian yang sangat mudah begitu pula dengan metode perawatan yang sederhana. Menjaga risiko kerusakan komponen dan sekaligus meningkatkan hasil mutu pertanian. Penulis : Yuyun, A.Md /Penyuluh Pertanian UPTD Pertanian (BPP) Kadugede