Tanaman kakao merupakan salah satu komoditas andalan nasional dan berperan penting dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan petani, dan sumber pendapatan devisa bagi Negara. Karena itu tidak mengherankan bila perkembangan kakao sejak tahun 1980-an di Indonesia sudah sangat pesat. Keadaan iklim dan kondisi lahan yang sesuai untuk pertumbuhan kakao akan mendorong perkembangan perkebunan kakao di Indonesia. Namun dalam pengembangannya, tanaman ini bukannya tak memiliki kendala. Selain faktor lahan, iklim, dan cara budidaya, faktor lain yang juga mempengaruhi tingkat keberhasilan tanaman kakao adalah penanganan yang tepat terhadap organisme pengganggu tanaman atau hama yang menyerang. Tanaman kakao merupakan salah satu tanaman yang disukai oleh berbagai jenis hama. Menurut Enwistle, 1972, serangga merupakan jenis hama yang jumlahnya terbesar untuk tanaman kakao di Indonesia ( lebih dari 130 spesies). Namun hanya beberapa jenis yang benar-benar merupakan hama utama, yaitu penggerek buah kakao (Comonopomorpha cramarella Snellen) atau PBK, kepik penghisap buah (Helopeltis antonii Sign.), ulat kilan (Hyposidra talaca Walker), dan penggerek batang atau cabang (Zeuzera coffeae). Diantara keempat hama diatas,kepik penghisapbuah merupakan salah satuhama yang sangat meresahkanpetani kakao, karena akibat serangan hama ini dapat menurunkantingkatproduksi hingga sebesar 50-60%. Serangan yang berulang setiap tahun dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar karena tanaman tidak dapat tubuh dengan normal. Lebih dari satu spesies helopeltis(kepik penghisap buah)yang menyerang tanaman kakao diantaranyaH. antonii, H theivora, dan H. claviver. Daerah sebar hama ini meliputiAfrika, Ceylon, Malaya, Jawa, Suamatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Sabah, Papua Nugini, dan Filipina. Hama ini menggunakan beberapa tanaman sebagai tanaman inangnya diantaranya Kakao (T. cacao), teh (camellia sinensis), kina (chincona sp.), kapuk (ceiba pentandra), kayu manis (cinnamomum burmanni), rambutan (N. lappaceum), dan tephrosia sp. Namun dari ketiganya,H. Antoniilah yang paling banyak ditemukan diperkebunan kakao.BentukH. antoniidewasa mirip dengan walang sangit dengan panjang tubuhnya 10mm. bagian tangah tubuhnya berwarna jingga dan bagian tengah tubuh terdapat embelan tegak lurusberbentuk jarum pentul. TelurH. antoniiberwarna putih dengan bentuk lonjong yang biasanya diletakkan didalam jaringan kulit buah atau tunas. Pada salah satu ujungnya terdapat embelan berbentuk benang dengan panjang sekitar 0,5 mm yang menyembul keluar jaringan. Lama periode telur 6-7 hari. NimfaH. antoniibentuknya miripH. antoniidewasa tetapi tidak bersayap. Lama periode nimfa 10-11 hari. Perkembangan dari telur menjadi serangga dewasamemerlukan waktu antara 30-48 hari. Seekor serangga betina dewasa semasa hidupnya dapat meletakkan telur sebayak 200 butir.Setelah telur menetas larva bergerak gesit dan berpindah dari satu buah ke buah lain. Sebelum menjadi dewasa, serangga ini mengalami enam pergantian kulit. Imago berwarna hitam, dada berwarna merah, dan mempunyai tanduk lurus. Kepik penghisap buah menyerang tanaman kakao dengan cara menusukkan stylet/mulutnya kedalam jaringan untuk menghisap cairan sel, bersamaan dengan itu akan dikeluarkan cairan yang bersifat racun dan membuat jaringan disekitar tusukan mati. Akibatnya timbul bercak-bercak cekung berwarna cokelat kehitaman yang lama-kelamaan akan menyatu membuat permukaan buah retak dan menghambat perkembangan biji didalam buah. Bila buah hanya terdapat sedikit, hama ini akan berpindah menyerang bagian pucuk atau ranting dengan cara yang sama dan dapat membuatpucuk layu, kering, dan mati. Selama ini petani masih menggunakan insektisida sebagai cara utama untuk mengatasihama ini, padahal kita ketahui penggunaaninsektisida tentunya juga akan berpengaruh pada kualitas buah yang dihasilkan, bahkan dapat membunuh organisme lain yang justru sebenarnya membawa keuntungan bagi petani. Selain itu petani tentunya memerlukan biaya produksi yang lebih untuk membeli bahan insektisida tersebut mengingat harganya yang tak murah. Sekarang sudah berkembang metode pengendalian hayati hama kepik penghisap buah pada tanaman kakao. Pengendalianhayati pada dasarnya adalah usaha untuk memenfaatkan dan menggunakan musuh alami atau (predator) sebagai pengendali hama.Untuk hama kepik penghisap buah, dapat digunakan semut hitam sebagai pengendali hayatinya. Diharapkan penggunaan metode ini dapat menangani hama kepik penghisap buah secara efektif, menghasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik, meminimalisir penggunaan bahan kimia berbahaya, dan tentunya dapat menekan biaya produksi. Pengendalian hayatiH. Antoniidapat dilakukan dengan memanfaatkan semut hitam sebagai agen pengendali hayatinya. Pemanfaatan semut hitam sudah banyak dikembangkan untuk pengendalianHelopeltis sp. Populasi semut hitam yang melimpah dipertanaman kakao dapat menurunkan presentase serangan helopeltis spp.serta PBK (penggerek buah kakao) di Malaysia (Khoo, 1998melalui komunikasi pribadi). Sementara itu hasil penelitian See dan Khoo (1996), menunjukan bahwa pada tingkat kelimpahan semut hitam dan kutu putih yang tinggi tingkat seranganHelopeltis hanya 4% dan pada tingkat kelimpahan semut hitam yang rendah serangan hamaHelopeltis mencapai 67%.Ini berarti, jika populasi semut hitam pada tanaman kakao tinggi, maka kerusakan atau kehilangan hasil panen akibat hama tersebut dapat berkurang. Semut hitam merupakan salahsatu musuh alami yang dapat digunakan untuk mengendalikan hamaHelopeltis sp.Semut hitam termasuk kedalam bagian dari agroekosistem perkebunan kakao diIndonesia dan telah dikenal berpuluh-puluh tahun yang lalu. Semut hitam bersimbiosis dengan kutu putih (Planoccus sp.)karena, sekresi yang dikeluarkan oleh kutu putih tersebut rasanya manis dan sangat disukai oleh semut. Sementara itu semut hitam dengan sengaja atau tidak, membantu menyebarkan nimfa kutu putih. Aktivitas semut hitam yang selalu berada dipermukaan buah menyebabkanHellopeltis spp. tidak sempat menusukkan stylet atau bertelur di buah kakao sehingga buah terbebas dari seranganHelopeltis sp. Semut hitam berfungsi sebagai agen pengendali hayati jika populasisemutdi ekosistem kakao cukup berlimpah. Perlu diamati terlebih dahulu apakah keberadaan kutu putih sudah ada disana. Apabila belum ada maka dilakukan penyebaran kutu putih terlebih dahulu agar semut hitam tetap betah dan bertahan di tanaman kakao. Kutu putih banyak dijumpai di pucuk tanaman (tunas muda) dan pada bagian pangkal buah serta permukaan buah yang umumnya tidak terkena sinar matahari. Memperbanyak kutu putih dapat menggunakan labu manis (waluh) sebagai pakan dan tempat hidupnya. Pertama-tama kutu putih ditempelkan di labu manis tersebut dan disimpan ditempat yang sejuk (tidak terkena sinar matahari langsung). Beberapa minggu kemudian kutu putih akan berkembang biak dan siap diaplikasikan pada tanaman kakao. Kutu putih juga bisa didapat dari kulit buah kakao yang sudah dipanen atau buah sirsak yang ada kutu putihnya. Kulit buah disayat membentuk huruf V, dan ditempeli beberapa ekor kutu putih. Kemudian ditempelkan pada pada pangkal buah kakao menggunakan jarum pentul dan ditutup menggunakan daun. Perlu diingat pula, populasi kutu putih tidak boleh terlalu banyak berada di pohon sebelum semut menetap dipohon kakao. Dan juga kutu putih tidak boleh dibiakkan pada buah kakao yang masih kecil karena buah yang masih kecil tidak tahan terhadap serangan kutu putih. Bila keberadaan kutu putih terlalu banyak tanpa adanya semut hitam, kutu putih justru akan menyerang buah kakao. Akibatnya terjadi infeksi pada bagian pangkal buah (pada bagian yang terlindung), dilanjutkan kebagian buah yang lain, bila kerusakan terlalu berat akan menghambat pertumbuhan buah dan buah lama-kelamaan akan mengering. Nur Mahdalena, S. P BPPP Teluk Pandan