Loading...

PEMANFAATAN URINE SAPI SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR

PEMANFAATAN URINE SAPI  SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR
Saat ini, kondisi lahan pertanian di Indonesia sudah kritis akibat penggunaan pestisida kimia oleh petani. Petani hanya berfikir cara untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman. Petani mengabaikan akibat penggunaan pestisida kimia terhadap lingkungan di sekitar.Pestisida kimia menyebabkan kerusakan pada struktur tanah dan organisme yang berada di dalam tanah. Tidak semua organisme di dalam tanah merusak tanaman, banyak organisme yang membantu pertumbuhan tanaman dan menjaga kondisi tanah. Urine sapi merupakan sisa ekresi dari metabolisme yang dilakukan oleh sapi, urine sapi hanya dibiarkan terbuang dengan percuma oleh para petani. Petani hanya menampung kotoran dari sapi untuk dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Murniyati dan Safriani (2012:10) menyebutkan "Urine sapi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair karena kandungan zat hara pada urine sapi, terutama kandungan nitrogen, fosfor, kalium, dan air lebih banyak." Berdasarkan fakta tersebut maka urine sapi layak dimanfaatkan untuk pupuk cair bagi tanaman para petani.Berdasarkan hasil pengamatan pada urine yang belum difermentasi dan urine yang sudah difermentasi terdapat perbedaan kandungan diantara keduanya. Kandungan nitrogen pada saat sebelum difermentasi yang memiliki kandungan unsur hara N, P, K adalah 1,1; 0,5; 0,9 dan saat urine setelah difermentasi terjadi peningkatan kandungan jumlah unsur hara N, P, K,menjadi 2,7; 2,4; 3,8. Pada proses fermentasi urine terdapat kelebihan jika dibandingkan dengan urine yang tidak difermentasi, yaitu meningkatkan kandungan hara yang terdapat pada urine tersebut yang dapat menyuburkan tanaman. Selain itu, bau urine yang telah difermentasi menjadi kurang menyengat jika dibandingkan dengan bau urine yang belum difermentasi. Keunggulan dari pupuk organik cair adalah : 1). Meningkatkan ketahanan tanaman dari hama dan penyakit, 2). Kandungan unsur hara seimbang, 3). Mudah diserap tanaman,4). Meningkatkan aktifitas mikroba dan enzim5). Meningkatkan hasil panen 20 sampai 50 %6). Mengurangi Penggunaan pupuk kimia 30 sampai 70 %,7). Ramah lingkungan dan aman bagi pengguna 8). Meningkatkan kesuburan tanah (media tanam), baik biologis, maupun kimiawi.Manfaat Pupuk Organik Cair :1. meningkatkan kesuburan tanah2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah3. Meningkatkan kapasitas serap air tanah4. Meningkatkan kualitas hasil panen5. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanamanMikroorganisme Efektif EM-4 Efektif Mikroorganisme (EM4) merupakan kultur campuran berbagai jenis mikroorganisme yang bermanfaat (bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, ragi, aktinomisetes, dan jamur peragian) yang dapat dimanfaatkan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman mikrobia tanah. Pemanfaatan EM dapat memperbaiki kesehatan dan kualitas tanah, selanjutnya memperbaiki pertumbuhan dan hasil tanaman. PR0SES PEMBUATANAlat :Ember plastikPengadukJerigen plastikSaringan Gelas ukur Bahan :Urin sapi : 10 literEM-4 : 100 mlGula pasir : 200 grCara membuat :1. Saring urine sapi dan dimasukkan ke dalam ember atau jerigen.2. Campurkan gula pasir dan EM4 dilarutkan dan diaduk sampai homogen.3. Campurkan urine sapi dengan campuran gula pasir dan EM4 dimasukan ke dalam jerigen plastik.4. Jerigen ditutup rapat. Setiap hari dibuka dan aduk selama 15 menit.5. Pupuk organik cair digunakan setalah fermentasi selama 14 hari.Aplikasi ke tanaman :1. Untuk perendaman biji : 1 liter pupuk urine + 10 liter air direndam selama 10 menit.2. Untuk pupuk organik cair yang diaplikasikan lewat daun : 1 liter pupuk urine per tangki semprot.3. Untuk tanaman padi disemprotkan pada umur 14-21 hari setelah tanam 25-30 hari setelah tanamdan 45 hari saat sudah ada satu tanaman yang mengeluarkan bunga.4. Untuk holtikultura 14-21 hst. (Ristono Arifin, SP. Penyuluh Pertanian BPP Metro Kibang)Selamat membuat dan mengaplikasikanSumber: Noor, A.S. 2013. Pemanfaatan Urine Sapi Sebagai POC (Pupuk Organik Cair) dengan Penambahan Akar Bambu Melalui Proses Fermentasi Dengan Waktu Yang Berbeda. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diakses 15 Desember 2016