Jagung (Zea mays) adalah salah satu pangan alternatif pengganti nasi yang sangat di gemari masyarakat. Jenis jagung ini telah banyak dibudidayakan oleh petani jagung termasuk di KotaProbolinggo , dimana potensi hasilnya dapat mencapai 14 – 18 ton/ha. Kondisi yang terjadi di tingkat petani belum mampu mencapai produktivitas yang diharapkan. Rendahnya produktivitas jagung ini disebabkan antara lain oleh: faktor eksternal seperti Penggunaan benih yang tidak terseleksi dengan baik, penyiapan lahan yang kurang optimal, jarak tanam yang tidak teratur, aplikasi pemupukan kurang tepat, hama penyakit dan gulma tidak dikendalikan dengan baik, (Runtunuwu, 1990). Dan faktor internal seperti distribusi asimilat yang terhambat oleh sifat parasit organ tanaman itu sendiri. Untuk memperoleh pertumbuhan dan produksi yang diharapkan, perlu di lakukan upaya agar jumlah radiasi yang diterima tanaman maksimal. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memodifikasi tanaman. Modifikasi tanaman dapat dilakukan dengan cara pemangkasan daun untuk memaksimalkan masuknya cahaya matahari ke dalam area pertanaman serta memperkecil selisih antara produksi asimilat dan penggunaannya oleh daun. Teknik pemangkasan sangat baik diterapkan pada jagung manis karena dengan pemangkasan daun bagian bawah dapat mengurangi jumlah daun yang tidak efektif menerima cahaya sehingga diharapkan akan meningkatkan produksi. Selain itu limbah daun hasil pemangkasan dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak serta memudahkan dalam melakukan pengendalian gulma. Pemangkasan dapat diartikan sebagai membuang atau memotong bagian tertentu dari suatu tanaman. Salah satu tujuan pemangkasan adalah untuk meningkatkan produktivitas. Tanaman jagung yang diusahakan saat ini umumnya memiliki tipe kanopi yang relatif horizontal terutama pada bagian tengah sampai ujung lembaran daun. Morfologi yang demikian akan menyebabkan saling menaungi (mutual shading) antar individu tanaman jika ditanam pada populasi yang tinggi dengan jarak tanam yang rapat, sehingga daun-daun bagian bawah menerima cahaya dengan jumlah yang sangat rendah. Akibatnya laju fotosintesis daun tersebut menjadi lebih rendah dibandingkan laju respirasi. Menurut Brown (1988), daun demikian di sebut parasit karena tidak dapat bertindak sebagai sumber (source) tetapi lebih berfungsi sebagai pengguna (sink). Jika jumlah daun parasit cukup banyak maka dapat menurunkan hasil tanaman, karena kompetisi antar bagian tanaman untuk memperoleh asimilat cukup tinggi. Pembagian asimilat biasanya di berikan ke daerah pemanfaatan dekat sumber, misalnya daun-daun sebelah atas pada dasarnya mengekspor ke puncak batang, daun-daun sebelah bawah ke akar dan daun bagian tengah ke keduanya (Gardner, dkk, 1985). Menurut Allison dan Watson (1966), pemangkasan daun jagung dapat meningkatkan efisiensi daun-daun yang tertinggal. Pada tanaman serealia selama fase pengisian biji yang cepat, penghilangan beberapa daun akan meningkatkan laju fotosintesis daun-daun sisa apabila intensitas cahaya tinggi, Dan daun paling dekat dengan tongkol adalah yang memiliki peran paling aktif pada saat pengisian biji. Pemangkasan sebagian daun jagung saat masak susu (milking stage) meningkatkan hasil 3,5% (Hanway, 1969). Hasil penelitian dari Kadekoh (2002) menyatakan bahwa pemangkasan jagung pada umur 21 hari setelah tasseling menghasilkan biji lebih banyak dan berbeda lebih besar di bandingkan dengan pemangkasan 7 – 14 hari setelah tasseling. Sedangkan menurut Hosang (1991) pemangkasan 2 helai diatas tongkol pada umur 18 hari setelah keluar bunga betina pada varietas kalingga menaikkan hasil biji kering di bandingkan dengan tanpa pemangkasan. Pemangkasan daun bagian bawah tongkol diterapkan di lahan SL-PTT Jagung Kelompok Tani Sumber Tani Kelurahan Sumber Wetan Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo. (Wiwin Yuni Andari, Penyuluh Pertanian)