Palem adalah tanaman yang sulit dan memerlukan waktu lama untuk dibudidayakan. Namun harga yang dipatok termasuk tinggi dibandingkan tanaman hias tidak berbunga lainnya. Tanaman hias ini dari keluarga Araceceae ( Palmaceae), disebut sebagai kaum bangsawan dari kerajaan tanaman. Tanaman palem dibagi 2 jenis yaitu tanaman di luar rumah (outdoor plants), ditanam di pinggir jalan atau di taman atau halaman rumah sebagai penghias jalan atau taman atau halaman rumah serta tanaman di dalam pot yang dijadikan sebagai penghias ruangan (indoor plants). Palem outdoor seperti palem putri,raja,merah dan palem botol sedangkan palem indoor yaitu palem kuning dan palem wregu. Kebutuhan atau permintaan akan tanaman palem setiap tahun terus meningkat. Di dalam negeri, peningkatan permintaan tanaman palem ini seiring dengan semakin banyaknya komplek perumahan baru, lapangan golf dan penataan keindahan kota dan lain-lain. Di luar negeri, bursa tanaman hias tropis khususnya negeri Belanda yang didominasi oleh negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Singapura dan Taiwan. Hal ini merupakan peluang pasar yang harus kita tangkap untuk mendapatkan devisa dari tanaman hias palem. A. Peluang Bisnis Tanaman Palem Saat ini, hotel-hotel, perkantoran,pelabuhan udara, komplek-komplek perumahan mewah sudah banyak menggunakan tanaman palem sebagai tanaman hiasan dan peneduh jalan. Inilah bagian dari interior landscaping atau sering disingkat interiorscaping yang mulai digemari sejak tahun 1985 dan semakin digemari pada tahun 1990- an sampai saat ini.Pemasaran palem dalam negeri berkembang pesat baik palem untuk dalam ruangan ( indoor) maupun di luar ruangan (outdoor). Tanaman palem banyak diminati masyarakat kota dan menjadi trend bagi masyarakat kota golongan menengah dan atas. Permintaan pasar luar negeri di Eropa terutama di bursa tanaman hias tropis di Belanda terus meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia yang berada di daerah tropis menghasilkan tanaman hias tropis yang tidak dimiliki daerah non tropis seperti Eropa. Terdapat banyak jenis palem di Indonesia namun yang banyak diminta pasar luar negeri adalah palem wregu atau Rachis exelsa. Hai ini karena susunan daunnya yang kompak dan tahan banting menjadi alasan utama. Harganya yang paling tinggi. Jika dikirim atau diekspor tidak banyak masalah, tahan kegelapan selama 3 (tiga) minggu, tanpa rusak dan bentuknya tetap menarik. Selain palem wregu, palem sadeng ( Livistona rotundifolia) merupakan palem terkenal dan umumnya ditemukan di Indonesia. Beberapa palem lain dari keluarga Licuala, Caryota (palem ekor ikan) dan Ptychosperma juga memungkinkan untuk dijadikan komoditas ekspor. B. Pemasaran Palem Melihat persaingan yang tidak bisa dilihat dengan sebelah mata, maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk benar-benar tanggap mencari peluang pasar. Cara terbaik memenangkan persaingan adalah dengan mengekspor tanaman hias khas Indonesia atau yang banyak terdapat di Indonesia namun sedikit atau bahkan tidak terdapat di negara lain. Menembus pasaran luar negeri berarti juga mempelajari minat orang Eropa terhadap tanaman palem yang ada di negara kita. Kita harus paham bagaimana selera orang Eropa, karena selera mereka berbeda dengan orang timur. Dalam mengirimkan palem baik dalam negeri maupun ekspor harus ditangani dengan baik sesuai standar operasional prosedur. Palem yang akan dikirim ke tempat jauh harus diatur sedemikian rupa agar tidak rusak baik fisik maupun fisiologis sesampainya di tempat tujuan. Untuk palem yang masih muda dan masih ditanam di dalam polibag, pengangkutan dilakukan dengan menyusun polibag di dalam mobil. Untuk palem yang akan diekspor, sebelum diberangkatkan perlu memperhatikan kondisi cuaca yang berbeda. Kondisi ini sangat mempengaruhi syarat tanaman yang diminta konsumen. Palem merupakan tanaman khas tropis tidak dapat tumbuh membersar dengan cepat dan rimbun sebagaimana di tempat asalnya. Semua faktor alam yang bisa didapatkan di tempat asal secara gratis seperti cahaya matahari yang berlangsung sepanjang tahun, air yang jernih dan tenaga kerja yang relativ murah dimanfaatkan secara optimal. Pengemasan palem jadi atau setengah jadi untuk ekspor ternyata sederhana saja. Rumpun palem diikat lalu dimasukkan ke dalam jaring yang biasanya digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Palem yang telah dipilih dan siap diekspor disarungi dengan jala yang telah dijahit sesuai dengan ukuran tanaman dengan cara dimasukkan melalui potnya. Media sebelumnya telah disirami sampai basah sehingga air yang diserapnya cukup untuk digunakan selama diperjalanan. Palem yang telah dikemas disusn dengan rapih dalam kontaineryang suhunya diatur 16 C. Tanaman ukuran kecil ditegakkan sedangkan tanaman tingginya melebihi tinggi container (2,35 meter) disusun miring di atas rak-rak bamboo berjarak 2 meter. Susunan tanaman tidak terlalu rapat apalagi ditumpuk sehingga masingmasing tanaman tidak menerima tekanan yang terlalu berat. Bila ukuran tanaman kecil, dalam satu kontainer dapat dimuati 1.000 tanaman. Namun untuk tanaman ukuran besar dengan tinggi melebihi 2 meter, rata-rata hanya dapat dimuati sekitar 500 tanaman.dengfan cara ini, hampir dipastikan tanaman sampai di tangan importer di luar negeri. Agar tidak kehilangan pelanggan, eksportir harus memiliki persediaan tanaman jumlah besar dan kontinu. Konsumen pasti membutuhkan tanam terus menerus karena tanaman harus diganti secara berkala. Seperti diketahui adanya perbedaan iklim antara Indonesia dengan negara-negara di Eropa misalnya, maka paling tidak setiap 2 bulan tanaman palem diganti. Untuk mempromosikan tanaman baru dibutuhkan investasi yang tidak sedikit. Selera konsumen sangat dipengaruhi oleh promosi ini. Bila hari ini ditawarkan tanaman baru, lalu mereka minta keesokan harinya, ternyata kosong maka konsumen akan segera kabur. Jadi bila tidak mampu menyediakan 1.000 pohon per bulan maka pasar segera direbut eksportir lain. Disarikan oleh : Lasarus, Pusluhtan Sumber : 1. Majalah Trubus 308-Thn XXVI - Juli 1995 2. Palem. www.pusri.co.id