Loading...

PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN PETANI DAN KELEMBAGAAN PELATIHAN SWADAYA (BAGIAN I)

PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN PETANI DAN KELEMBAGAAN PELATIHAN SWADAYA (BAGIAN I)
I. Serupa Tapi Tak Sama Kelembagaan Petani ( Kelompoktani,Gabungan kelompoktani , Asosiasi Komoditas dan Badan Usaha Milikl Petani) dan Kelembagaan Pelatihan Swadaya Petani ( Puast Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya /P4S dan Pusat Pelatiahan Pertanian Terpadu Swadaya /P3TS merupakan dua lembaga yang ditumbuhkembangakan oleh, dari dan untuk petani mempunyai misi dan tujuan yang serupa, yaitu mensejahterakan anak bangsa melalui peningkatan kompetensi pengetahuan dan keterampilan dalam usaha agribisnis. Tetapi kedua lembaga ini berbeda atau tak sama dalam wujud pengelolaanya. Kelembagaan petani dikelola dengan mengedepankan pemberdayaan anggotanya melalui pendekatan penyuluhan dan pendampingan yang berorientasi kepada gerakan pengembangan informasi teknologi, ekonom idan sosial . Sementara itu, kelembagaan platihan swadaya dikelola dengan mengedepankan pemberdayaan SDM pertanian melalui pelatihan dan permagangan secara terstruktur yang berorientasi kepada peningkatan kompetensi dan penanaman nilai-nilai moral dan etos kerja dibidang pertanian. Kelembagaan petani mempunyai sistem pembelajaran dengan kekhasan tersendiri sesuai metode penyuluhan yang dikembangkan oleh penyuluh setempat dengan menggunakan kaidah-kaidah pembelajaran orang dewasa melalui pendekatan kelompok. Sedangkan pelatihan swadaya menerapkan sistem pembelajaran yang lebih bersifat keterampilan teknis pertanian yang ditularkan ke petani lain dan sekitarnya berdasarkan pengalaman, keberhasilan dan keahlian pengelola/pengurusnya melalui proses pelatihan dengan pendekatan "bekerja sambil belajar " atau permagangan. Sasaran pembelajaran bagi kelembagaan petani dan kelembagaan pelatihan swadaya petani, kurang lebih sama yaitu orang orang yang ber latar belakang profesi petani atau masyarakat baik individual kelompok tani (Poktan) maupun gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang berkeinginan untuk meningkatkan pengetahuan , keterampilan dan sikap dibidang pertanian. Dari aspek pengelolaan kelembagaan petani dan kelembagaan pelatihan swadaya petani, hampir sama meskipun latar belakang pembentukan kelembagaanya berbeda. Kelembagaan petani biasanya dipimpin/diketuai seorang kontaktani. Sedangkan kelembagaan pelatihan swadaya petani dipimpin/diketuai oleh petanimaju, tokoh tani ataupun pengusaha tani berhasil. II. Pemberdayaan Kelembagaan Menyimak latar belakang keberadaan Kelembagaan Petani dan Kelembagaan Pelatihan Swadaya Petani, dengan keunggulan masing-masing, antara lain ketersediaan sumber daya alam dan sumber daya manusia, maka kedua lembaga ini mempunyai peluang untuk mengembangkan agribisnis sesuai dengan karakteristik agroklimat dan potensi yang dimilikinya. Pemberdayaan kelembagaan petani diarahkan pada penguatan kelembagaan usahataninya untuk mengembangkan agribisnis komoditas unggulan, yang mempunyai daya saing bagi pasar dalam dan luar negeri. Upaya ini sangat memungkinkan dilakukan oleh kelembagaan petani mengingat sumber daya (lahan, tenaga kerja dan nilai jual pasar) cukup tersedia dan memungkinkan, baik untuk memenuhi kebutuhannya sendiri maupun untuk memenuhi permintaan pasar lainnya Adapun upaya pemberdayaan kelembagaan pelatihan swadaya, dapat dilakukan sesuai dengan latar belakang pembentukannya, yaitu diarahkan untuk mencetak lebih banyak kader-kader petani terdidik guna mendorong tumbuh kembangnya jiwa kewirausahaan, agribisnis melalui proses pembelajaran antara lain pelatihan keterampilan, magang agribisnis, kaji terapi teknologi spesifik lokalita, inkubasi teknologi dan teknik agribisnis. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penguatan kedua lembaga tersebut antara lain : ( 1 ). Kelembagaan petani berciri khas dari oleh dan untuk petani sehingga yang perlu difasilitasi adalah usaha agribisnisnya, dalam bentuk pendampingan teknis, desiminasi teknologi, akses modal dan pasar. ( 2 ). Kelembagaan pelatihan swadaya dengan ciri khas keswadayaan, hal ini berarti yang perlu kita berdayakan adalah pengembangan pelatihannya secara terstruktur (kurikulum, modul, silabus dan paket-paket pembelajaran) sesuai potensi komoditas yang dikembangkannya. Selain itu, penguatan informasi teknologi tepat guna dan spesifik lokalita. Pengetahuan dan keterampilan teknis pengolahan hasil, permodalan dan pemasaran tidak kalah pentingnya untuk dikuasai oleh pengelola kelembagaan pelatihan swadaya petani seperti P4S. Penulis : Muhammad Ridha Ismail Penyuluh Pertanian Madya