Loading...

Pemberian cahaya buatan untuk meningkatkan mutu hasil yang Sesuai SOP Budidaya Bunga Krisian Potong

Pemberian cahaya buatan untuk meningkatkan mutu hasil yang Sesuai SOP Budidaya Bunga Krisian Potong
Krisan merupakan tanaman perdu, semusim ataupun tahunan. Tanaman hias krisan merupakan bunga potong yang mempunyai nilai jual tinggi, banyak diminati pasar karena potensial yang berdaya saing tinggi dan berprospek cerah. Saat ini krisan termasuk bunga yang paling populer dan diminati di Indonesia karena memiliki keunggulan antara lain kaya warna dan dapat bertahan lama, tak lebih dari 70 varietas. Jumlah varietas krisan memang banyak tetapi yang ditanaman petani indonesia tidak lebih dari 40 varietas Peluang mengembangkan budidaya krisan potong untuk memenuhi kebutuhan pasar baik dalam maupun luar negeri akan tetap terbuka luas seiring permintaan bunga potong krisan yang semakin meningkat. Untuk pembungaan tanaman krisan, pada fase menjelang pembungaan membutuhkan cahaya 70 – 80 %, tanaman hari pendek (masa vegetatif memerlukan periode malam yang panjang (>14.5jam) / berbunga bila penyinaran Pada tanaman krisan agar dapat berproduksi yang optimal perlu diberi tambahan cahaya buatan 3-4 jam pada dari lampu TL dan lampu pijar. Tanpa pemberian penyinaran tambahan, krisan akan segera memasuki fase generatif beberapa waktu setelah tanam. Krisan merupakan tanaman hias hari pendek yang berbunga bilamana periode panjang hari (fotoperiod) kurang dari 14 jam per hari. Di daerah trofis dimana periode panjang hari rata-rata 12 jam budidaya krisan membutuhkan tambahan penyinaran paling sedikit 4 jam pada malam hari untuk mempertahankan tanaman krisan berada pada fase vegetatif.Tanpa pemberian penyinaran tambahan, krisan akan segera memasuki fase generatif beberapa waktu setelah tanam. Hal ini tidak dikehendaki oleh para produsen, karena tanaman tidak menghasilkan bunga potong sesuai mutu yang diharapkan.Pemberian cahaya buatan pada malam hari yang optimum dalam budidaya krisan dimulai pukul 22.00 sampai 02.00 dini hari dengan intensitas cahaya 70 lux (setara dengan 100 watt lampu pijar) pada permukaan tanaman selama 3 – 4 minggu setelah tanam. Selama periode penyinaran dianjurkan untuk menerapkan siklik / timer dalam rangka mengurangi penggunaan energi listrik sehingga menekan biaya produksi.Penyinaran diberikan dengan lampu yang memiliki daya 18 watt dengan jenis lampu TL, dengan intensitas paling tinggi 68.4 lux dan paling rendah 56.0 lux. Lampu dipasang 1-1.5 meter dari permukaan atas tanaman dengan jarak antar lampu masing-masing 2.5 meter, sehingga setiap tanaman mendapatkan pencahayaan yang rata.Ditulis ulang oleh : Dalmadi BBP2TP BogorSumber : Balitbangtang dan Berbagai sumber media elektronik (Internet)Gambar : Badan Pelatihan Pertanian