Dalam hal pemberikan pakan untuk ayam KUB perlu diketahui lebih awal adalah karkter dari pada bahan pakan itu sendiri antara lain : 1 JAGUNG :Nilai energy metabolis tinggi dapat digunakan sekitar 40 – 60%. Dedak : Batas penggunaan dalam ransum ayam kampung a. anak) 10%; b.dara 50% ;c. dewasa(petelur): 60% SINGKONG/ Gaplek , di rekomendasikan batas maksimum 40% untuk ransum mash ., sedangkan 50% hingga 60% untuk ransum bentuk pelet Daun singkong :Tepung daun disarankan 5 sd 7,5 % dalam ransum ayam Onggok :Batas penggunaan dalam ransum ayam: 5-7% karena Serat Kasar tinggi, SAGU :Sagu cincang (atau putak) hingga 50% dalam ransum ayam kampung Minyak : Sumber energi yang baik. Pemberian dalam ransum unggas: 1 – 5% TEPUNG IKAN : Penggunaan dalam ransum: 5% - 10% Bungkil kedelai (BKK)à impor tapi tersedia local Ampas tahu :Ampas tahu segar untuk anak ayam: 30 g/e/h; untuk ayam dewasa/bertelur 75 g/e/h; Ampas tahu kering : hingga 10% Bungkil kelapa. : Penggunaan 20%, Bekicot : Penggunaan tepung bekicot: sd 22% dalam ransum ayam petelur Hasil pemeliharaan ternak ayam KUB di BPTP NTT umur pemeliharaan 25-37 minggu memerlukan pakan rata-rata 105 gram/ekor/hari, berat telur rata-rata yang dihasilkan 46.04 gram, hasil rata-rata Feed Convertion Ratio (FCR) 2.28, dan hasil rata-rata Hen Day Production (HDP) telur ayam KUB adalah 41.21%. Pemberian pakan ayam KUB di BPTP NTT menggunakan pakan konsentrat komersial berbentuk pellet sesuai dengan kebutuhan ayam KUB umur 20-32 minggu (fase layer), yaitu 105 gram/ekor/hari. Konversi pakan merupakan perhitungan antara jumlah konsumsi pakan dengan bobot badan atau berat telur yang dihasilkan selama pemeliharaan. Feed Conversion Ratio dengan nilai 2.28 masih dalam batas normal, hal ini sesuai dengan yang dikemukakan menurut Lokapirnasari et al. (2011), semakin tinggi FCR maka akan semakin buruk, artinya penggunaan pakan tersebut kurang ekonomis. Konversi pakan ayam petelur berkisar antara 2,1-2,3. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi konversi pakan diantaranya bentuk fisik pakan, berat badan ayam, kandungan nutrisi dalam ransum, lingkungan pemeliharaan, stres, dan jenis kelamin. Perhitungan konversi pakan dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan ayam dalam mengubah pakan yang dikonsumsi menjadi telur dan melihat respon ayam terhadap kualitas pakan yang diberikan (Lokapirnasari et al. 2011). Pemberian pakan dengan jumlah 105 g/ekor/hari di kandang ayam KUB BPTP NTT sesuai dengan standar. Hal ini sesuai yang dikemukakan Nurcholis et al. (2009) menyatakan konsumsi pakan ayam petelur yang sedang berproduksi berkisar antara 100 g-120 g ekor -1 hari-1. Penggunaan sistem kandang juga dapat mempengaruhi konsumsi pakan, karena kandang litter yang lebih luas akan menyebabkan ayam membutuhkan energi lebih banyak untuk mobilisasi sehingga membutuhkan pakan yang lebih banyak pula. Menurut Piliang (2000), konsumsi ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah palatabilitas ransum, bentuk fisik ransum, bobot badan, jenis kelamin, suhu lingkungan, keseimbangan hormonal, dan fase pertumbuhan. Penyusun : Sad Hutomo Pribadi Sumber : Artikel Balitnak dan Artikel Yanuar Achadri, Dkk. BPTP NTT Sumber gambar :Balitnak