Loading...

PEMBUATAN KOMPOS KOHE YANG PRAKTIS

PEMBUATAN KOMPOS KOHE YANG PRAKTIS
Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat cocok untuk dijadikan sentra bisnis peternakan. Luas daratan Indonesia yang mencapai jutaan km2 sangat mendukung kegiatan peternakan yang notabene membutuhkan lahan yang luas. Posisi Indonesia di negara tropis juga sangat mendukung berbagai kegiatan usaha peternakan seperti air dan pakan hijauan bisa didapatkan dengan mudah di Indonesia. Petani di Indonesia dan khususnya di Lampung Selatan pada umumnya memiliki ternak yang dipelihara di pekarangan rumah. Kotoran hewan (Kohe) yang dihasilkan masih jarang dimanfaatkan oleh petani. Kohe banyak yang di bakar atau dibuang ke suatu tempat. Padahal kohe tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sumber pupuk untuk pertanian.Kohe adalah pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran hewan, bisa berupa kotoran sapi, kambing, ayam dan lain-lain tapi dalam hal ini kotoran tersebut masih berupa kotoran hewan yang belum diolah tapi sudah mengering dan siap digunakan untuk menjadi pupuk.Bahan organik adalah sesuatu yang utuh atau sebagian dari mahluk hidup, baik berupa kotoran maupun mahluk hidup itu sendiri yang sudah mati. Perombakan bahan organik oleh biota perombak akan menghasilkan humus yang kaya akan bahan makanan bagi makanan. Disamping itu bahan organik tanah juga dapat meningkatkan Kapasitas Tukar kation (KTK) dan mengikat beberapa unsur hara sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Pupuk organik juga dapat memperbaiki struktur tanah dan daya pegang air tanah. Hal ini akan memberikan respon positif terhadap kemampuan tanah menyediakan hara untuk tanaman.Demikian pentingnya pupuk organik sehingga petani sangat perlu untuk menambahkan pupuk organik ke dalam sawah mereka. Bahan organik yang melimpah adalah kohe. Selama ini petani sering membakar koheya. Padahal pupuk organik dapat dibuat dari kohe dengan biaya yang rendah, tenaga yang sedikit dan waktu yang singkat (kira-kira 4 minggu).Akan tetapi Kotoran hewan yang masih basah sebaiknya jangan langsung dipakai untuk memupuk tanaman karena bukannya menyuburkan tanaman malah tanaman akan mati karena kotoran tersebut masih panas dan masih banyak bakteri-bakteri yang menyebabkan tanaman akan mati.Supaya tidak berbahaya bagi tanaman maka kohe harus diproses(komposisasi). Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab dan aerobik atau anaerobik. Komposisasi akan membuat bakteri-bakteri yang merugiakan mati dan dan suhunya sudah tidak panas. Untuk membuat pupuk kompos kohe bahan yang dibutuhkan adalah kohe dan pelapuk (promi). Sedangkan peralatan yang dibutuhkan adalah ember, tali, cetakan dari bambu, dan plastik penutup. Cara membuatnya: masukan pelapuk 1 kg kedalam ember. Siapakan cetakan kayu dan masukan kohe lapis demi lapis secara merata. Pada tiap lapisan taburkan pelapuk secara merata. Setelah penuh tutup tumpukan kohe dengan plastik. Ikat plastik dengan tali. Beri pemberat pada bagian atas plastik. Tumpukan kohe dibiarkan selama 4 minggu.Dalam masa inkubasi, selama 2 minggu, buka plastik penutup dan amati tumpukan kohe. Pengomposan berjalan baik apabila : jika dipegang terasa panas, tidak berbau menyegat, tidak kering. Apabila tumpukan tidak panas dan kohe kering, maka tambahkan air secukupnya.Setelah 4 minggu, kompos kohe dapat dipanen, karena sudah matang. Ciri-ciri kompos yang telah matang adalah : suhu tumpukan sudah mendekati awal pengomposan, tidak berbau menyengat.Kompos kohe ini bisa diaplikasikan dengan cara ditebar saat pengolahan tanah atau ditebar pada jaluran penanaman Penulis : Toto Haryanto, SP (Penyuluh Pertanian Kalianda)