Loading...

Pembuatan Tepung Sagu Secara Lokal Papua dan Skala Rumah Tangga

Pembuatan Tepung Sagu Secara Lokal Papua dan Skala Rumah Tangga
Penduduk asli Papua yang berdomisili di pantai atau dataran rendah lebih banyak mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok, beras sebagai sumber karbohidrat subsitusi. Sedangkan saudara kita yang berada di pegunungan tengah (Kabupaten Jayawijaya, Puncak Jaya, Paniai, Tolikara, Pegunungan Bintang dan Yahukimo) ubi jalar merupakan makanan pokok. Sagu yang diperoleh sebagian besar berasal dari tanaman sagu yang tumbuh liar di hutan atau rawa-rawa dan sagu ini merupakan hak ulayat. Sagu yang diperoleh di buat tepung sagu. Tepung sagu adalah pati yang di ekstrak dari batang sagu. Tepung sagu bisa digunakan untuk aneka bahan makana seperti mutiara, bubur atau kue. Untuk industri kecil, pengolahan tepung sagu sudah memerlukan alat-alat mekanis untuk mempertinggi efisiensi hasil dan biaya. Alat-alat tersebut dapat dibuat di bengkel konstruksi biasa dengan menggunakan bahan-bahan lokal. Untuk industri menengah dan besar, pengolahan memerlukan alat-alat moderen dengan kerja efisien dan kapasitas besar. Proses pembuatan tepung sagu di Papua : Sagu ditebang dan dikupas kulitnya dan dipotong-potong sepanjang 50-100 cm, dibawah ke pinggir danau Sentani untuk proses pemarutan. Batang sagu yang akan diolah menjadi tepung dihancurkan dulu dengan cara pangkur menggunakan mesin seperti mesin parut kelapa. Hasil pangkur ini berupa serbuk-serbuk kayu halus. Serbuk kayu tersebut diletakkan di pelepah sagu kemudian diberi air sambil serbuk sagu diremas-remas menggunakan tangan. Di bagian bawah pelepah terletak saringan dari kain untuk menampung serat kayu yang akan dikembalikan ke pelepah sagu untuk diberi air dan diremas-remas kembali. Proses ini dilakukan berulang-ulang untuk mendapatkan pati sagu. Tepung sagu tersebut dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam karung, yang lebih dikenal dengan nama tumang. Sagu tersebut siap dikonsumsi atau siap dipasarkan. Sementara itu pembuatan sagu skala rumah tangga sebagai berikut : Batang sagu dikupas untuk membuang kulit luar yang keras. Batang sagu yang telah dikupas kulitnya diparut halus menjadi bubur sagu. Jika batang yang ditangani cukup banyak, batang diparut dengan mesin pemarut. Pembuatan larutan sulfit. Natrium bisulfit dilarutkan ke dalam air. Setiap 1 liter air ditambah dengan 3 gram senaya natrium bisulfit. Larutan yang telah diperoleh disebut larutan sulfit. Larutan silfit dapat dibuat dengan biaya murah dengan cara mengalirkan gas SO2 ke dalam air. Gas SO2 tersebut dibuat dengan membakar belerang (S atau sulfur). Penambahan larutan sulfit dan pengadukan. Bubur hasil pemarutan ditambah larutan sulfit (1 bagian bubur ditambah degan 1 bagian air) sehingga menjadi bubur encer. Bubur encer ini diaduk-aduk agar pati lebih banyak yang terlepas dari sel batang. Jika bubur cukup banyak, pengadukan dilakukan denga alat pengaduk mekanis. Saring suspensi pati dengan kain saring. Endapkan suspensi pati selama 12 jam setelah itu buang airnya. Keringkan pasta pati hingga kadar air dibawah 12%. Giling tepung sagu kasar yang menjadi tepung halus. Kemas tepung sagu yang sudah digiling dengan plastik Ditulis ulang oleh : Enrico S. BBP2TP Sumber tulisan : BPTP Papua dan http://tepungsaguaren.blogspot.com/2011/10/tepung-sagu.html