Kelinci (Oryctolagus Cuniculis) merupakan hewan multi manfaat. Disamping daging, kulit, bulu dan kotorannya, binatang lucu ini juga digunakan para peneliti sebagai hewan percobaan di laboratorium, untuk pengembangan ilmu pengetahuan.Perkembangbiakan kelinci dikenal relatif cepat. Ia mampu memproduksi 6–10 ekor anak sekali melahirkan. Sehingga, tidaklah berlebihan kalau kelinci disebut ternak yang sangat menguntungkan. Kandungan kolesterol daging kelinci relative rendah dan sangat cocok dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi. Selain rasanya yang gurih daging kelinci juga halal. Disamping itu daging kelinci dapat meningkatkan kecerdasan anak yang masih dalam pertumbuhan, meningkatkan fertillitas/ kesuburan, mencegah penyakit pembuluh darah pada orang dewasa.Pakan kelinci juga relatif mudah didapat karena berasal dari berbagai sumber hijauan, seperti kangkung, daun singkong, rumput gajah, dan wortel. Pakan konsentrat pun bisa diolah sendiri yang berasal dari limbah industri pangan seperti dedak, bekatul, polard, bungkil kelapa. Atau, bisa juga dibeli di toko-toko yang menyediakannya. Dalam pemeliharaan kelinci, yang perlu diperhatikan adalah : kandang, bibit, pemeliharaan, pakan, dan pengendalian hama penyakit.Kandang, berfungsi sebagai tempat berkembangbiak. Suhu ideal 210C, sirkulasi udara lancar, lama pencahayaan ideal 12 jam untuk melindungi ternak dari predator. Kandang kelinci dibedakan menjadi kandang induk, kandang jantan dan kandang anak lepas sapih. Kandang induk untuk kelinci dewasa atau induk dan anak-anaknya. Kandang jantan, khusus untuk pejantan dengan ukuran lebih besar dan Kandang anak lepas sapih untuk anak kelinci yang sudah tidak lagi menyapih pada induknya. Untuk menghindari perkawinan awal dilakukan pemisahan antara jantan dan betina. Kandang berukuran 200x70x70 cm tinggi alas 50 cm cukup untuk 12 ekor betina/10 ekor jantan. Kandang anak berukuran 50x30x45 cm. Menurut bentuknya kandang kelinci dibagi menjadi: 1)Kandang sistem postal, tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dalam ruangan dan cocok untuk kelinci muda; 2)Kandang sistem ranch, dilengkapi dengan halaman pengumbaran; 3)Kandang battery, mirip sangkar berderet dimana satu sangkar untuk satu ekor dengan konstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery (bertingkat), Pyramidal Battery (susun piramid). Perlengkapan kandang yang diperlukan adalah tempat pakan dan minum yang tahan pecah dan mudah dibersihkan.Bibit, jenisnya tergantung pada tujuan pemeliharaan. Untuk tujuan bulu misalnya maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex yang cocok. Sedangkan untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand yang pas dipelihara. Jenis kelinci pedaging ini harus yang berbobot dan tinggi. Sedangkan untuk tujuan bulu pilih bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak. Perawatan Bibit, akan menentukan kualitas induk. Oleh karena itu, yang perlu perhatian adalah pemberian pakan yang cukup, pengaturan dan sanitasi kandang yang baik serta mencegah kandang dari gangguan luar. Sistem Pemuliabiakan, untuk mendapatkan keturunan yang lebih baik dan mempertahankan sifat yang spesifik maka pembiakan dibedakan dalam 3 kategori yaitu: a) In Breeding (silang dalam), untuk mempertahankan dan menonjolkan sifat spesifik misalnya bulu, proporsi daging; b) Cross Breeding (silang luar), untuk mendapatkan keturunan lebih baik/menambah sifat-sifat unggul; c) Pure Line Breeding (silang antara bibit murai), untuk mendapat jenis baru yang diharapkan memiliki penampilan yang merupakan perpaduan 2 keunggulan bibit. Reproduksi dan Perkawinan, Kelinci betina segera dikawinkan ketika mencapai dewasa pada umur 5 bulan (betina dan jantan). Bila terlalu muda kesehatannya akan terganggu dan mortalitas anak tinggi. Bila pejantan pertama kali mengawini, sebaiknya kawinkan dengan betina yang sudah pernah beranak. Waktu kawin pagi/sore hari di kandang pejantan dan biarkan hingga terjadi 2 kali perkawinan, setelah itu pejantan dipisahkan. Proses Kelahiran, setelah perkawinan kelinci akan mengalami kebuntingan selama 30-32 hari. Kebuntingan dapat dideteksi dengan meraba perut kelinci betina 12-14 hari setelah perkawinan. Bila terasa ada bola-bola kecil berarti terjadi kebuntingan. Lima hari menjelang kelahiran induk dipindah ke kandang beranak untuk memberi kesempatan menyiapkan penghangat dengan cara merontokkan bulunya. Kelahiran kelinci sering terjadi malam hari dengan kondisi anak lemah, mata tertutup dan tidak berbulu. Jumlah anak yang dilahirkan bervariasi sekitar 6-10 ekor.Pemeliharaan, diusahakan tempatnya selalu kering agar tidak jadi sarang penyakit. Tempat yang lembab dan basah menyebabkan kelinci mudah pilek dan terserang penyakit kulit. Kelinci yang terserang penyakit umumnya punya gejala lesu, nafsu makan turun, suhu badan naik dan mata sayu. Bila kelinci menunjukkan hal ini segera dikarantinakan dan benda pencemar juga segera disingkirkan untuk mencegah wabah penyakit. Penyapihan anak kelinci dilakukan setelah umur 7-8 minggu. Anak sapihan ditempatkan pada kandang tersendiri dengan isi 2-3 ekor/kandang dan disediakan pakan yang cukup dan berkualitas. Pemisahan berdasar kelamin perlu untuk mencegah dewasa yang terlalu dini. Pengebirian dapat dilakukan saat menjelang dewasa. Umumnya dilakukan pada kelinci jantan dengan membuang testisnya.Pemberian Pakan, berupa hijauan meliputi rumput lapangan, rumput gajah, sayuran meliputi kol, sawi, kangkung, daun kacang, daun turi dan daun kacang panjang, biji-bijian/pakan penguat meliputi jagung, kacang hijau, padi, kacang tanah, sorghum, dedak dan bungkil-bungkilan. Untuk memenuhi pakan ini perlu pakan tambahan berupa konsentrat. Pakan dan minum diberikan dipagi hari sekitar pukul 10.00. Kelinci diberi pakan dedak yang dicampur sedikit air. Pukul 13.00 diberi rumput secukupnya dan pukul 18.00 rumput diberikan dalam jumlah yang lebih banyak. Air minum perlu disediakan di kandang untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya. Hama dan Penyakit, dapat menyerang ternak kelinci. Untuk itu perlu antisipasi dan pencegahannya sebelum terjadi. Apabila ada ternak yang terjangkit segera melakukan tindakan. Penyakit yang sering menyerang ternak kelinci antara lain adalah:1)Bisul, dikarenakan pengumpulan darah kotor di bawah kulit. Pengendalian: pembedahan dan pengeluaran darah kotor selanjutnya diberi Jodium; 2)Kudis, disebabkan Darcoptes scabiei. Gejala: ditandai dengan koreng di tubuh. Pengendalian: dengan antibiotik salep; 3)Eksim, dikarenakan kotoran yang menempel di kulit. Pengendalian: menggunakan salep/bedak Salicyl; 4)Penyakit telinga, dikarenakan kutu. Pengendalian: meneteskan minyak nabati; 5)Penyakit kulit kepala, dikarenakan jamur. Gejala: timbul semacam sisik pada kepala. Pengendalian: dengan bubuk belerang; 6)Penyakit mata, dikarenakan bakteri dan debu. Gejala: mata basah dan berair terus. Pengendalian: dengan salep mata; 7)Mastitis, dikarenakan susu yang keluar sedikit/tak dapat keluar. Gejala: putting mengeras dan panas bila dipegang. Pengendalian: dengan tidak menyapih anak terlalu mendadak; 8) Hama berupa predator seperti anjing. Upaya pencegahan dan pengendalian hama penyakit dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan kandang, pemberian pakan yang sesuai dan memenuhi gizi serta penyingkiran sesegera mungkin ternak yang sakit (Inang Sariati).Sumber:http://www.budidaya-petani.com/2013/02/budidaya-kelinci-lengkap.htmlhttps://images.search.yahoo.com/search/images?p=KELINCI