Loading...

PEMELIHARAAN SAPI POTONG INDUK

PEMELIHARAAN  SAPI POTONG INDUK
PENDAHULUAN Fungsi utama sapi potong induk adalah menghasilkan anak sapi ( pedet ), selain fungsi sampingannya sebagai penghasil kompos dan ternak kerja pengolah lahan pertanian. Dengan demikian keberhasilan usaha ternak atau memelihara sapi potong induk yang dilihat adalah hasil anaknya, baik mengenai jumlah yang dapat dilahirkan selama dipelihara maupun kualitas anak–anak sapi yang dihasilkan. Dalam dunia usaha peternakan sapi potong, tipelogi usaha untuk budidaya sapi potong induk biasa dikenal sebagai usaha pembiakan atau pembibitan ( Cow and calf operation ). TARGET PRODUKSI Ada 2 ( dua ) target produksi dalam usaha pembiakan/ perbibitan sapi potong induk, yakni :1. Setiap 12-13 bulan sekali menjual pedet berusia 4-5 bulan ( menjelang disapih ), dengan bobot badan minimal 95 kg ( jantan ) dan 80 kg ( betina )2. Kompos kotoran sapi ( 150 kg/ ekor/ bulan ) PENCAPAIAN TARGET PRODUKSI Guna mencapai target tiap 12-13 bulan dapat menjual pedet umur 4-5 bulan, maka sapi potong induk harus beranak tiap 12 – 13 bulan sekali ( jarak beranak 12 – 13 bulan ).Untuk itu dalam pemeliharaan sapi potong induk diperlukan adanya :? Pola pemberian ransum pakan yang tepat? Pola perkawinan yang tepat? Pola pemebrian pakan pedet periode pra-sapih yang tepat ? Pola Pemberian Ransum PakanPola pemberian pakan yang diterapkan harus mengacu pada asas efisiensi guna menekan biaya produksi tanpa mengkorbankan target produksi yang diharapkan. Selain itu pola pemberian ransum pakan harus berimbang dan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi setiap tahapan status fisiologis tubuh pada sapi potong induk.Adapun tahapan status fisiologis tubuh sapi potong induk adalah sebagai berikut :1. Tidak bunting dan tidak menyusui/ laktasi ( sapi induk kering )2. Bunting tua ( bulan ke 8 – 9 )3. Menyusui/ laktasi ( hingga 4 -5 bulan pasca beranak )Sapi beda berat bobot badan dan beda status fisiologis, maka akan beda pula tingkat kebutuhan nutrisinya. Atas dasar perbedaan kebutuhan nutrisi antara tahapan status fisiologis tubuh dan asas efisiensi ekonomi biaya produksi, maka untuk mengejar target produksi perlu diterapkan strategi pola pemberian ransum pakan pada induk yang diberi nama : Suplementasi pilihan untuk sapi potong induk. STRATEGI UNTUK RANSUM SAPI POTONG INDUKTargetnya : Agar sapi potong induk paling lambat 70 hari setelah beranak sudah minta kawin/ berahi pertama pasca beranak; dan diharapkan hari ke 90 pasca beranak sudah bunting kembali. Dalam pelaksaan strategi pakan ini ada 2 macam ransum untuk sapi potong induk, yaitu Ransum A dan Ransum B.- Ransum A : Ransum untuk sapi induk kering. Ransum diberikan mulai menyapih anaknya hingga umur kebuntingan 8 bulan.- Ransum B : Ransum untuk sapi bunting tua – menyusui. Ransum diberikan mulai saat masuk umur kebuntingan 8 bulan hingga menyapih anaknya. Ransum B Ransum A Ransum B •---------------•---------•----------------------•---------------•Beranak Kawin Sapih Bunting tua Beranak 0 bln 3 bln 4-5 bln 9-11 bln 12-13 bln Pada ransum B dilakukan suplementasi bahan pakan sumber protein dan juga enersi terhadap Ransum A, yaitu dengan konsentrat, dedak, ampas tahu, atau daun-daun leguminosa, misal : Glirisidea, Kaliandra, Lamtoro dsb. ? Pola Pemberian Pakan Pedet Pra-sapih Hal – hal yang perlu diperhatikan untuk dilaksanakan berkaitan dengan pemberian pakan pedet pra-sapih adalah :? Pedet setelah lahir, harus sudahdisusukan ke induknya sebelum 6 jam terhitung saat dilahirkan? Memperoleh pola ransum seperti di Tabel 4. • Sampai dengan minggu ke 16 juga disusukan ke induknya; jika memungkinkan disusukan cukup 2 kali sehari ( pagi – sore ) dengan cara pedet dikumpulkan induk hanya pada waktunya menyusu. ? Program Perkawinan SapiGuna mencapai target jarak beranak 12 – 13 bulan, maka dalam program perkawinan sapi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Pengamatan sapi berahi Pengamatan sapi berahi sebaiknya dilakukan sebagai berikut :• Mulai hari ke 25 hari setelah beranak hendaknya mulai dilakukan pengamatan berahi setiap hari.• Waktu pengamatan/ pemeriksaan adanya berahi dilakukan minimal 2 kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. b. Pelaksanaan kawin/ inseminasi Saat pelaksanaan kawin yang tepat adalah :• Berahi pertama setelah beranak sebelum pedet umur 40 hari hendaknya jangan dikawinkan dahulu, tetapi menunggu pada berahi berikutnya ( 21 – 23 hari kemudian).• Berahi pertama setelah beranak setelah pedet umur 40 hari dapat langsung dikawinkan.• Waktu dikawinkan yang tepat setelah kelihatan berahi : Terlalu Baik Terbaik Baik Terlambat cepat Fitriyani, AMd. Penyuluh BPP Geger