Loading...

Pemeliharaan Tanaman Jagung di Lahan Kering

Pemeliharaan Tanaman Jagung di Lahan Kering
Upaya pemerintah dalam rangka peningkatan produksi jagung telah pula dikembangkan pertanaman jagung pada lahan-lahan kering yang memiliki wilayah dengan periode hujan singkat dan berpeluang mengalami kekeringan dianjurkan menanam varietas jagung komposit yang toleran kekeringan seperti Lamuru atau varietas relative genjah seperti Gumarang, Kresna, atau Lagaligo. Jagung hibrida umumnya berumur lebih dari 100 hari sehingga berpeluang mengalami cekaman kekeringan. Pada wilayah yang mempunyai curah hujan cukup atau periode hujan panjang dianjurkan menanam jagung jenis hibrida atau jenis komposit unggul yang sesuai dengan referensi konsumen. Untuk lahan kering masam, selain jenis hibrida dianjurkan pula menanam jagung jenis komposit unggul. Varietas Sukmaraga adalah jagung unggul bersari bebas yang toleran terhadap kemasaman tanah dan penyakit bulai. Agar tanaman jagung di lahan kering dapat tumbuh dan berkembang dengan baik serta dapat memberikan produksi yang tinggi berikut disampaikan cara pemeliharaan tanaman jagung di lahan kering meliputi kegiatan pemupukan, pengendalian hama, pengendalian penyakit dan penyiangan gulma.PemupukanKhusus pada lahan kering masam dianjurkan menggunakan pupuk kandang dari pupuk organik/kotoran ayam ras atau ayam petelor karena mengandung kapur, diaplikasikan pada saat tanam sebanyak segenggam (25-50 g) per lubang setara dengan 1.5-3.0 ton per hektar yang juga berfungsi sebagai penutup lubang benih yang baru ditanam. Apabila menggunakan pupuk anorganik semuanya disarankan bersumber dari pupuk tunggal, dan kalau menggunakan pupuk majemuk, maka takaran N, P dan K disetarakan dengan pupuk tunggal.Jenis, takaran, dan waktu pemberian pupuk anorganik dapat disampaikan sebagai berikut : 1) Pupuk Urea yang diberikan sebanyak 300-350 kg/hektar, dengan waktu aplikasi pada umur 7-10 Hari Setelah Tanam (HST) sebanyak 25%, umur 28-30 HST sebanyak 50% dan umur 40-45 HST sebanyak 25%; 2) Pupuk SP36 yang diberikan sebanyak 100-200 kg/hektar yang diberikan sekaligus pada umur 7-10 HST; 3) Pupuk KCl yang diberikan sebanyak 50-200 kg/hektar, dengan waktu aplikasi pada umur 7-10 HST sebanyak 75% dan pada umur 28-30 HST sebanyak 25%. Takaran atau dosis pupuk yang diberikan dapat berubah sesuai dengan ketersediaan hara dalam tanah didasarkan pada analisis tanah atau rekomendasi setempat.Cara pemberian pupuk : 1) Pada saat tanaman berumur 7-10 HST, pupuk Urea + SP36+KCl yang telah dicampur merata segera diaplikasikan dengan cara ditugal sedalam 5-10 cm dengan jarak 5-10 cm disamping tanaman dan lubang pupuk ditutup kembali dengan tanah. 2) Pada saat tanaman berumur 28-30 HST, pupuk Urea + KCl diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 10-15 cm sedalam 5,0–7,5 cm dan ditutup tanah. 3) Pada saat tanaman berumur 40-45 HST, pemberian pupuk urea ketiga, didasarkan pada hasil pemeriksaan warna daun dengan mengunakan Bagan Warna Daun (BWD). Dengan menggunakan BWD akan diketahui jumlah pupuk yang harus ditambahkan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Jika warna daun menunjukkan telah cukup pupuk, maka pemberian pupuk urea yang ketiga tidak perlu diberikan, sedangkan jika masih diperlukan pemberian pupuk urea maka sesuai dengan warna daun ditambahkan pupuk sebanyak yang diperlukan dengan cara ditugal di samping tanaman berjarak 15-20 cm sedalam 5-10 cm dan ditutup tanah. Dengan cara ini maka takaran pupuk urea dapat berkurang atau bertambah sesuai kebutuhan tanaman sehingga lebih efisien.Pengendalian hamaHama yang umum mengganggu pada pertanaman jagung adalah lalat bibit, penggerek batang dan tongkol. Lalat bibit umumnya mengganggu pada saat awal pertumbuhan tanaman, oleh karena itu pengendaliannya harus dilakukan mulai saat tanam dengan menggunakan insektisida utamanya pada daerah-daerah endemik serangan lalat bibit. Untuk hama penggerek batang, jika mulai nampak ada gejala serangan dapat dilakukan dengan pemberian carbofuran (3-4 butir carbofuran/tanaman) melalui pucuk tanaman.Pengendalian penyakitPenyakit utama yang biasanya merusak tanaman jagung adalah bulai yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora sp. Pada tingkat penularan yang parah, penyakit bulai dapat menurunkan produksi dan bahkan menggagalkan panen. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan perlakuan benih (seed treatment), yaitu mencampur benih dengan fungisida metalaksil secara merata dengan takaran 2 gram metalaksil untuk setiap kilogram benih.Penyiangan gulmaBagi wilayah dengan kondisi topografi datar sampai berombak, penyiangan pertama dilakukan dengan alsin penyiang AP8-IRRI-Balitsereal yang mempunyai kapasitas kerja 8-9 jam/ha pada umur 14-20 hst. Penyiangan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 35-40 HST dengan herbisida paraquat (1,0-1,5 liter/ha tergantung kondisi gulma). Bagi wilayah dengan kondisi topografi bergelombang sampai berbukit maka penyiangan pertama (14-20 hst) dapat dilakukan dengan herbisida paraquat (1,0-1,5 liter/ha tergantung kondisi gulma), dengan cara mengaplikasikan secara aman dengan memasang pelindung/penyungkup pada nozzle agar herbisida tidak mengenai tanaman. Penyiangan kedua pada umur 35-40 HST, dengan herbisida paraquat (1,0-1,5 liter/ha tergantung kondisi gulma)Demikian uraian tentang pemeliharaan tanaman jagung di lahan kering yang dapat disampaikan semoga bermanfaat. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Jagung Tahun 2017, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian; 2) Sumber gambar: https://www.google.com