Pemetikan teh merupakan kegiatan yang harus diperhatikan dalam budidaya teh, karena dapat mempengaruhi mutu teh. Mutu teh yang baik dapat diperoleh dengan cara melakukan pemetikan yang tepat berdasarkan ketentuan sistem pemetikan. Fungsi pemetikan Pemetikan pada tanaman teh berfungsi untuk: 1) memecah dormansi tunas dari sifat apical dominan; 2) Merangsang pertumbuhan vegetatif; 3) Perombakan cadangan pati; 4) Pengendalian hama penyakit. Macam-macam pucuk teh 1) Pucuk Peko yaitu kuncup tunas aktif berbentuk runcing yang terletak pada ujung pucuk. Pucuk ini akan mengalami dormansi setelah menghasilkan 4-7 pucuk. Dalam pucuk peko ini terkandung banyak senyawa kafein yang belum mengalami degradasi sehingga dapat menghasilkan teh yang berkualitas baik; 2) Pucuk burung, adalah tunas tidak aktif yang berbentuk titik yang terletak pada ujung pucuk. Pada periode ini, pucuk in-aktif mereduksi atau memperlambat pertumbuhan. Pucuk burung sering terbentuk jika pemupukan tanaman kurang dan ketersediaan air kurang; 3) Pucuk Nagog yaitu pucuk yang tumbuh dari pucuk burung. Biasanya pucuk ini baru muncul setelah 90 hari. ; 4) Pucuk atau cabang cakar ayam, yaitu pucuk yang pertumbuhan tunas dari ketiak daunnya lebih dari satu dan berada di atas bidang petik. Biasanya pertumbuhan pucuk ceker ayam ini akan stabil. Macam-macam pemetikan teh Pemetikan halus, apabila pucuk yang dihasilkan adalah a). Peko dengan satu daun muda pucuk burung (p+1m) ; b). burung dengan satu daun muda (b+1m) Pemetikan medium terdiri dari peko dengan dua daun muda (p+2m), dan peko dengan tiga daun muda (p+3m), burung dengan 2 daun muda (b+2m) dan burung dengan 3 daun muda (b+3m). Pemetikan kasar, apabila pucuk yang dihasilkan dari pucuk peko dengan 4 daun atau lebih (p+4 atau lebih) dan pucuk burung dengan satu, dua atau tiga daun tua(b+1 t, b+2 t atau b+3t). Komposisi jenis pemetikan Komposisi antara petikan halus, medium dan kasar perlu diperhatikan, karena pemetikan pucuk yang terlalu muda akan menghasilkan teh dengan mutu yang baik, namun sedikit, sebaliknya pucuk yang tua akan menghasilkan jumlah yang banyak akan tetapi mutunya rendah. Untuk itu maka disarankan memetik pucuk dengan komposisi 10% petikan halus, 70% petikan medium dan 20 % petikan kasar. Pemetikan kasar juga dapat mengganggu kesehatan tanaman karena bagian kepel yang seharusnya ditinggalkan ikut terpetik, sehingga regenerasi daun yang akan tumbuh untuk produksi selanjutnya menjadi terlambat. Selain itu pucuk maupun daun-daun kasar yang terpetik akan mempengaruhi kualitas kerja mesin di pabrik atau mengganggu kesehatan mesin. Waktu pemetikan Waktu yang paling bagus untuk melakukan pemetikan teh adalah jam 5 hingga 9 pagi dan jam 10 hingga 12 siang. Selain udara yang sejuk dan belum terkontaminasi banyak zat jahat, pemetikan teh dilakukan pagi hari karena masih perlu proses yang panjang untuk menjadi teh siap minum. Setelah pemetikan teh, harus dilakukan proses seperti pelayuan, penggilingan, pengeringan dan pengepakan. Proses pelayuan pun tidak boleh sembarangan, karena proses ini dilakukan tepat setelah pemetikan, sehingga daun-daun teh yang sudah dipetik harus langsung dibawa ke tempat pelayuan agar tidak busuk di jalan. Cara pemetikan Petani diharuskan memetik daun di paling ujung dengan ketinggian yang sama setiap petikannya. Pucuk yang memenuhi syarat akan banyak dihasilkan melalui pemetikan halus, yaitu peko dengan satu daun muda (p+1m) dan burung dengan satu daun muda (b+1m). Pemetikan dilakukan pada bagian tanaman teh berupa pucuk dan daun-daun muda yang sudah memenuhi ketentuan dan berada pada bidang petik. Karena daun merupakan alat fotosintesis, maka dalam melakukan pemetikan harus dipertimbangkan agar daun-daun tua yang tertinggal di bawah bidang petik masih cukup memadai untuk melakukan fotosintesis. Agar aroma dan rasa teh terjaga, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya adalah : 1) daun yang dipetik berwarna hijau muda,2) daun yang tidak terlalu lebar. Daun ke tiga dari atas biasanya belum terlalu lebar mekarnya, Guna menjaga agar pertumbuhan pucuk teh tetap normal, saat memetik teh disarankan jangan terlalu bawah karena akan berimbas pada lambatnya pertumbuhan pucuk baru. Jika batangnya terambil, bisa memperlambat pertumbuhan pucuk dan masa panen juga akan terlambat. Peralatan pemetikan Alat yang digunakan untuk memetik pucuk teh adalah: 1) Gunting petik; 2) Ambul, yaitu keranjang anyaman yang digunakan menaruh daun teh setelah dipetik. Disamping peralatan tersebut, pemetik juga harus disiapkan sarung tangan, agar tangan petani terlindungi, serta topi anyaman untuk melindungi dari hujan dan panas, serta sepatu boots untuk menghindari agar petani tidak terpeleset. Dengan demikian maka untuk mendapatkan pucuk teh yang berkualitas dengan jumlah yang optimum, maka para pemetik harus memahami bagaimana cara melakukan pemetikan yang benar, menetapkan waktu pemetikan yang tepat, memahami cara pemetikan, memahami jenis pemetikan dan komposisinya, serta menggunakan peralatan yang tepat. (Sri Wijiastuti, Pusat Penyuluhan Pertanian). Sumber: Pusat penelitan teh dan kina, Gamboeng Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor https://www.pikiran-rakyat.com/gaya-hidup/pr-01261298/mari-belajar-cara-memetik-daun-teh-376123 (https://www.google.com/search?q=waktu+pemetikan+teh&oq