Pemupukan tanaman kakao merupakan salah satu kegiatan budidaya yang sangat penting dalam meningkatkan produksi buah kakao. Hal ini disebabkan sebagian besar lahan pertanaman kakao di Kalimantan Barat memiliki kesuburan lahan yang sangat beragam dan umumnya tergolong lahan yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang sangat rendah sampai sedang. Selain itu penanaman tanaman kakao yang dilakukan oleh masyarakat seringkali mengabaikan pertimbangan konservasi lahan akibatnya proses kehilangan kesuburan tanah semakin meningkat setiap tahunnya. Dengan demikian salah satu usaha untuk mengatasi masalah tersebut adalah pentingnya memperbaiki tingkat kesuburan lahan melalui penambahan unsur hara lewat pemupukan. Masalahnya adalah rujukan pemupukan yang tersedia selama ini masih sangat umum, padahal kondisi di lapangan sangat bervariasi utamanya ditinjau dari aspek kesuburan lahan. Belum lagi aspek-aspek lainnya seperti kondisi iklim dan tingkat pengelolaan serta aspek sosial ekonomi. Faktor pemupukan telah terbukti meningkatkan produksi tanaman. Namun demikian masih banyak masalah tentang pemupukan terutama dosis pemupukan, sebab pada kondisi tanah yang berbeda dan pada jenis tanaman serta umur yang berbeda maka dosis pemupukan cenderung berbeda. Idealnya bahwa aplikasi pemupukan adalah secara spesifik lokasi, namun disayangkan kendala keterbatasan biaya menyebabkan dosis pemupukan spesifik lokasi tidak dapat segera diperoleh. Berdasarkan permintaan banyak penyuluh pertanian dan petani di lapangan, yang umumnya mengalami kesulitan tentang dosis pemupukan, maka tulisan ringkas ini dapat digunakan sementara untuk memberikan penjelasan kepada para petani. Apapun tanamannya jika tidak dilakukan pemupupukan maka tidak akan tumbuh dengan baik, apalagi pada tanaman kakao sebagai tanaman industri. Siktus Gusli dari Puslitbang Sumber Daya Alam Universitas Hasanudin menghimbau kepada petani kakao untuk selalu melakukan pemupukan. Apalagi pada lahan-lahan yang status kesuburan tanah rendah, seperti kandungan hara rendah, terutama N dan C organik. Umumnya masam, akibat ketersediaan hara terganggu, khususnya P, K, S, Ca dan Mg. Contohnya, Siktus menerangkan, setiap memanen kakao 2 ton/ha maka unsur hara yang terbawa adalah 6 zak urea, 2 zak SP-36 dan 2 zak KCl, sehingga harus ditambah 500 kg campuran NPKS yang berimbang/ha/tahun. Artinya petani harus melakukan pemupukan secara teratur. Terbukti melipatgandakan produksi kakao pada demplot IFC klon S1 yang dipangkas tidak dipupuk produktivitas dibawah 600 kg/ha/tahun. Sedang yang dipangkas, dipupuk 250 g NPKS + TE produktivitas 3,2 ton/ha. Jadi kunci dari pengelolaan tanah kebun kakao adalah mengingatkan dan menjaga level bahan organik di dalam tanah. Kandungan bahan organik tanah yang cukup dapat menjaga kondisi fisik, kimia, kesuburan dan biologi secara optimal, meningkatkan efektivitas pemupukan bagi kakao yang tinggi berkelanjutan,” jelas Siktus. Melihat hal ini, Siktus menghimbau, “yang harus dilakukan yaitu mengurangi pengeluaran bahan-bahan tanaman dari kebun kakao misalnya kulit buah kakao. Kulit buah kakao jangan dibawa keluar kebu, apalagi dibakar.Biarkanlah kulit buah kakao dikumpulkan agar terdekomposisi secara alami. kemudian tanam pohon pelindung yang bahan tanamannya mudah terdekomposisi seperti Gliciridia Sp di integrasikan dengan kakao. Lalu inovasi yang terakhir yaitu lakukanlahintegrasi kakao dengan ternak. Maka dengan begitu akan terjadi komposisasi sehinga menyuburkan tanaman. SUMBER : https://perkebunannews.com/tanaman-kakao-butuh-pemupukan-berimbang/ :http://a32120933.blogspot.com/2013/06/pemberian-pupuk-berimbang-pada-tanaman.html