Pemupukan berimbang adalah penambahan pupuk ke dalam tanah dengan jumlah dan jenis hara yang sesuai dengan tingkat kebutuhan tanah dan kebutuhan hara oleh tanaman untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil komoditas pertanian. Kebutuhan dan efisiensi pemupukan ditentukan oleh tiga faktor yang saling berkaitan yaitu : (a) ketersediaan hara dalam tanah, termasuk pasokan melalui air irigasi dan sumber lainnya, (b) kebutuhan hara tanaman, dan (c) target hasil yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, rekomendasi pemupukan harus bersifat spesifik lokasi dan spesifik varietas. Rekomendasi pemupukan untuk tanaman padi sawah yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 01/Kpts/SR.130/1/2006 tanggal 3 januari 2006 tentang Rekomendasi Pemupukan N, P, dan K pada Sawah Spesifik Lokasi belum mencakup seluruh kecamatan yang ada sebagai akibat dari pemekaran, belum mempertimbangkan tingkat produktivitas lahan yang terbaru, dan teknologi usahatani. Akibatnya di beberapa tempat dijumpai bahwa takaran pupuk yang direkomendasikan terlalu rendah, sebaliknya di tempat lain justru terlalu tinggi, khususnya nitrogen. Banyak cara dan metode yang dapat digunakan dalam menentukan rekomendasi pemupukan N, P, dan K. Badan Litbang Pertanian bekerja sama dengan berbagai lembaga internasional dan nasional seperti International Rice Research Institute (IRRI), Lembaga Pupuk Indonesia, dan produsen pupuk telah menghasilkan dan mengembangkan beberapa metode dan alat bantu peningkatan efisiensi pemupukan N, P, dan K untuk tanaman padi sawah, diantaranya adalah Bagan Warna Daun (BWD) untuk pemupukan N. Bagan warna daun (BWD) pertama kali dikembangkan di Jepang, dan kemudian peneliti-peneliti dari Universitas Pertanian Zhejiang-Cina mengembangkan suatu BWD yang lebih baik dan mengkalibrasinya untuk padi indica, japonica dan hibrida. Alat ini kemudiannya menjadi model bagi BWD yang didistribusikan oleh Crop Resources and Management Network (CREMNET) - IRRI untuk tanaman padi; suatu alat yang sederhana, mudah digunakan, dan tidak mahal untuk menentukan waktu pemupukan N pada tanaman padi. Dari beberapa penelitian yang dilakukan di Sukamandi, didapatkan korelasi dan regresi yang sangat nyata secara statistik antara nilai-nilai BWD dan SPAD, karena itu nilai BWD dapat digunakan untuk meregresikan nilai SPAD, pada berbagai musim, tipe tanah dan varietas padi. Nampak bahwa pembacaan BWD dapat digunakan dengan ketepatan dan validitas yang tinggi untuk mengukur warna daun. Bagan Warna Daun atau BWD adalah alat bantu pengukuran dosis pemupukan yang terbuat dari plastik yang mempunyai 4 atau 6 skala warna yang dijadikan dasar penilaian kualitatif warna daun padi. BWD dapat membantu petani untuk mengetahui kapan tanaman perlu segera diberi pupuk N dan berapa takarannya. Pemberian pupuk N berdasarkan warna daun dengan BWD dapat menekan biaya pemakaian pupuk sebanyak 15- 20% dari takaran umum tanpa menurunkan hasil. 1. Dua (2) Cara Penggunaan BWD Berdasarkan kebutuhan riil tanaman (real time), dengan membandingkan warna daun padi dengan skala BWD secara berkala, setiap 7 -10 hari sejak 21- 28 hari setelah tanam (HST) sampai fase masa primordial (pada padi hibrida dan padi tipe baru atau PTB dilanjutkan sampai 10% berbunga). Tanaman segera dipupuk N begitu warna daun berada dibawah skala 4 BWD. Dengan cara ini petani harus lebih sering ke sawah untuk membandingkan warna daun padi dengan BWD. Berdasarkan waktu yang telah ditetapkan, biasanya berdasarkan pertumbuhan tanaman yaitu pertumbuhan awal (0-14 HST), Pembentukan anakan aktif (21 - 28 HST) dan primordial (pada padi hibrida dan padi tipe baru atau PTB dilanjutkan pada fase 10% berbunga). Dengan cara ini petani hanya perlu melakukan 2 - 3 kali pengukuran warna daun. 2. Langkah Operasional a. Langkah operasional pengukuran warna daun dengan BWD : Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat pada hamparan yang seragam, lalu pilih daun teratas yang telah membuka penuh pada satu rumpun. Taruh bagian tengah daun diatas BWD dan bandingkan warnanya. Jika warna daun berada diantara 2 skala, gunakan ilai rata ratanya, misal, nilai 3,5 untuk warna antara 3 dan 4. Sewaktu mengukur dengan BWD jangan menghadap sinar matahari. Lakukan pengukuran pada waktu yang sama dan oleh orang yang sama pula Jika lebih 5 dari 10 warna daun yang diamati berada dalam batas kritis, yaitu dibawah skala 4, maka tanaman perlu segera diberi pupuk N susulan sesuai dengan target hasil yang ingin dicapai. Pada tingkat hasil yang ingin di capai sebesar 5 ton/ha (GKG), takaran pupuk urea susulan yang diperlukan adalah 50 kg/ha. Selanjutnya setiap peningkatan target hasil sebesar 1 ton/ha, diperlukan urea tambahan 25 kg urea /ha. b. Langkah penggunaan BWD sesuai dengan kebutuhan riil tanaman : Berikan 50 - 75 urea/ha sebagai pupuk dasar atau pemupukan N pertama, sebelum tanaman berumur 14 HST. Pada saat ini BWD tidak perlu digunakan. Pengukuran warna daun padi dengan BWD dimulai 21 - 28 HST, dilanjutkan setiap 7 10 hari sekali sampai 50 HST (pada PTB dan padi hibrida, BWD digunakan sampai fase 10% berbunga). Tabel 1. Takaran urea susulan yang diperlukan bila warna daun di bawah nilai kritis (skala <4 BWD)* Pembacaan BWD Respon terhadap pupuk N Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Target hasil (t/ha GKG) »5.0 »6.0 »7.0 »8.0 Takaran urea yang digunakan (kg/ha) BWD < 4 50 75 100 125 Keterangan : target hasil pada kondisi unsure lain seperti P dan K tersedia secara optimum. *Penggunaaan BWD berdasarkan kebutuhan riil tanaman Penggunaan BWD berdasarkan waktu yang telah ditetapkan : Berikan 50 - 75 kg urea/ha sebagai pemupukan dasar atau pemupukan N pertama, sebelum tanaman berumur 14 HST. Pada saat ini BWD belum diperlukan. Pada saat pemupukan susulan 2 dan 3 bandingkan skala warna daun dengan BWD. Bila warna daun berada pada skala 3 atau kurang, berikan 75 kg urea/ha, bila target hasil adalah 5 ton/ha GKG. Tambah 25 kg urea setiap kenaikan target hasil 1 ton/ha. Bila warna daun mendekati skala 4, berikan 50 kg urea/ha pada target hasil 5 ton/ha GKG dan tambahkan urea 25 kg urea/ha untuk setiap kenaikan target hasil 1 ton/ha. Bila warna daun pada skala 4 atau mendekati 5 tanaman tidak perlu dipupuk untuk target hasil 5-6 ton/ha. Tambahkan urea 50 kg/ha untuk target hasil diatas 6 ton/ha. Tabel 2. Takaran urea yang diberikan sesuai dengan skala daun pada penggunaan BWD berdasarkan waktu yang telah dilakukan Pembacaan BWD Respon terhadap pupuk N Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Target hasil (t/ha GKG) »5.0 »6.0 »7.0 »8.0 Takaran urea yang digunakan (kg/ha) BWD £ 3 75 100 125 150 BWD = 4 50 75 100 125 BWD ³ 4 0 0-50 50 50 Keterangan : Target hasil pada kondisi unsure hara lain seperti P dan K tersedia secara optimum Daftar Pustaka https://www.dpi.nsw.gov.au/__data/assets/pdf_file/0008/199457/Ses3-Leaf-colour-chart.pdf http://sulsel.litbang.pertanian.go.id/ind/images/leaflet/Pemupukan-Berdasarkan-Bagan-Warna-Daun.pdf Peraturan Mentri Pertanian Nomor 40/Permentan/OT.140/4/2007 Penulis : Tri Rakhmat Gunanjar, SP / Penyuluh Pertanian UPTD PERTANIAN ( BPP) KADUGEDE